
Rania tidak menyangka kalau pesan yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal tempo lalu menjadi sebuah bantuan bagi hidupnya. Bima mengatakan kalau Rania boleh berkomunikasi dengan orang tersebut. Rania pun berterima kasih karena orang itu mau mensuport.
"Hallo," ucap Wahyu dengan suara serak karena usia menjelang senja.
"Ya, hallo?"
"Ini saya, Wahyu. Ini Rania penulis itu, ya?"
"Iya, benar. Maaf, ini Wahyu anaknya Ningsih?"
"Iya, benar. Saya sudah menua. Orang yang kirim pesan itu cucu saya sudah SMP. Sebelumnya, terima kasih sudah menulis cerita tentang ibuku."
"Sama-sama, mohon maaf kalau tidak tahu kalau anak-anak Ningsih masih hidup."
"Tidak apa, Mbak Rania. Saya terima kasih sudah mengabadikan cerita itu dalam buku. Bolehkah saya tahu tentang Mbak Rania dan kenapa bisa tahu cerita itu?"
Rania sudah mendapatkan izin terlebih dahulu dari Bima untuk menceritakan apa yang terjadi. Dia pun dengan mantap menceritakan apa yang terjadi.
"Begini, panggil Pak atau bagaimana?"
"Panggil saja Wahyu. Terlepas dari berapa usia saya."
"Baik, begini, Wahyu. Saya mendapatkan cerita ini dari sosok makhluk gaib bernama Bima. Sosok makhluk gaib itu adalah yang mengikut kepada salah satu leluhur saya. Saya mengalami kesulitan dan kesusahan sehingga harus terseok-seok menjalani kehidupan. Bima membantu saya untuk bangkit dari segala keterpurukan dan mendapatkan pekerjaan melalui menulis."
__ADS_1
Rania sebenarnya malu untuk mengungkapkan hal itu apalagi dengan orang yang tidak dikenal. Wahyu tetaplah sebuah nama dari karya tulisan Rania yang belum pernah dilihat secara langsung. Namun Rania tidak menyangka kalau orang itu ternyata masih hidup dan ada di dunia ini. Bahkan tidak terduga kalau dirinya bisa mengenal dan dikenal oleh Wahyu yang merupakan anak dari Ningsih.
"Mbak Rania, bolehkah kita bertemu? Saya akan ke sana dengan anak dan cucu saya."
"Boleh, Pak, eh, Wahyu. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan tokoh di dalam novel yang saya tulis."
Rania dan Wahyu pun membuat janji temu yang jelas saja tidak berada di rumah. Rania mengatakan kalau rumahnya berada di Semarang dan Wahyu akan main ke sana bersama dengan anak cucu menyesuaikan waktu yang sudah disepakati.
Rania tidak menceritakan hal ini sama sekali kepada keluarganya karena belum tentu keluarganya akan memahami atau mengerti dengan kondisi yang dijalani oleh Rania. Bahkan Endah menganggap kalau Rania sudah gangguan kejiwaan karena menulis cerita horor dan menganggap kalau hal itu adalah nyata. Padahal Rania tidak mengada-ada.
...****************...
Hari yang disepakati Rania dan Wahyu pun tiba. Rania pergi dengan Aira naik ojek online karena Aira masih digendong dengan gendongan warna merah muda.
"Senang bertemu dengan Anda," ucap Rania sambil mengulurkan tangannya.
"Saya juga senang bertemu dengan Anda. Ternyata Anda jauh lebih mudah daripada yang ada di bayangan saya."
Wahyu dan Rania pun berbincang banyak hal. Hingga percakapan itu berakhir pada pernyataan Wahyu.
"Mbak Rania, izinkan saya untuk membantu kesulitan Anda. Apa yang bisa saya bantu? Apakah masih ada utang piutang yang belum dilunasi?"
"Maaf, Wahyu. Bukannya saya menolak. Utang piutang semua sudah lunas karena saya oper kredit motor dan menjual televisi. Saya memang memulai semua benar-benar dari nol. Saya akan sabar dengan hal ini."
__ADS_1
"Kalau begitu, ini untuk Mbak Rania. Terima saja. Tidak banyak, tetapi setidaknya bisa membantu. Terima kasih sudah menulis kisah ibu saya. Terima kasih sudah menceritakan soal Bima. Sampaikan salam saya kepada Bima yang akan tetap menjadi ayah saya."
Wahyu terlihat tulus mengatakan semua itu dan matanya berkaca-kaca karena yakin entah di mana itu Bima pasti berada di sekitar situ. Wahyu mungkin tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Rania tetapi dia tahu kalau saat ini Rania lebih membutuhkan bantuan keuangan. Mungkin Rania mengatakan kalau hutang piutangnya sudah lunas, tetapi Wahyu merasakan ada beberapa hal yang belum dikatakan jujur oleh Rania.
Rania pun merasa terharu. Dia menerima uang di dalam amplop berwarna putih tersebut. Dia menangis dan memeluk putrinya.
"Terima kasih banyak, terima kasih."
Tanpa disadari, dari kejauhan, seorang lelaki mengamati Rania. Lelaki itu adalah pemilik restoran. Dia ternyata juga membaca novel yang ditulis Rania. Nama lelaki itu adalah Samudera. Lelaki yang menjadi salah satu orang yang akan bertemu dengan Rania. Mungkin bukan kali ini, tetapi secepatnya semua akan terjadi.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini semua karena ketekunan dan juga doa Anda. Mbak Rania, hiduplah dengan bahagia dengan anakmu. Semoga semua akan baik-baik saja. Setelah ini, maaf, saya tidak mengizinkan keluarga saya bertemu Mbak Rania. Mungkin ada baiknya kalau mereka tidak tahu soal ini. Saya hanya bilang kalau saya suka membaca novel online dan menyukai karya Mbak Rania. Saya ingin mengapresiasi hal itu dan memberikan hadiah. Hanya itu yang anak saya tahu."
Wahyu memberitahu karena anak-anaknya tidak percaya hal yang terjadi di masa lalu dan lebih berpikir logis.
Rania mengangguk tanda paham. Dia bersyukur mendapatkan bantuan. Setidaknya bisa memperbesar usaha onlinenya sambil tetap menulis. Ini semua merupakan rezeki dari Sang Pencipta, jadi Rania tidak menolak.
Pertemuan Rania dengan Wahyu membuka sebuah babak baru dalam kehidupan Rania. Ponsel baru, Rania sudah dapatkan sesuai dengan apa yang Bima katakan. Sekarang, keuangan pun mendapat dukungan. Lalu, beberapa hal lagi yang akan Bima tepati sebelum semua benar-benar selesai.
"Terima kasih waktu yang berharga, Mbak Rania. Silakan kalau mau jalan-jalan dulu dengan putrinya. Semoga sehat selalu dan putrinya jadi anak yang berbakti serta sukses. amin."
Wahyu tersenyum dan terenyuh dengan kehidupan Rania yang begitu menyedihkan. Semua sudah Rania ceritakan dan Wahyu semakin mengerti. Bima bukan iblis yang jahat. Mungkin benar iblis itu menyesatkan dan jahat bagi sebagian besar orang, tetapi Bima berbeda. Ada kalanya Bima sangat baik dan menolong orang lain yang tidak mendapatkan pertolongan dan keadilan di dunia. Seperti Rania saat ini, Wahyu yakin kalau Bima akan menolong dan memberikan ganjaran bagi lelaki yang sudah meninggalkan Rania.
"Semoga Mbak Rania bisa bahagia dengan putrinya dan kelak akan mendapatkan pasangan yang baik," gumam Wahyu yang melihat ke arah Rania pergi dari restoran setelah berbicara, makan siang bersama, dan menerima bantuan dari Wahyu.
__ADS_1
Rania hendak pergi ke toko perlengkapan balita. Dia ingin membeli pakaian untuk Aira dan bedak, sabun serta perlengkapan lainnya yang sudah habis. Rania bersyukur tak henti-hentinya. Kebaikan demi kebaikan muncul dan membuatnya bahagia.