
Gavin tidak menyukai kelahiran bayi dari Ayu. Apalagi dengan mulut pedas perempuan itu yang selalu saja merendahkan dan mempermalukan dirinya jika tidak ada keluarga. Ayu semakin kejam karena tidak suka Gavin tidak datang saat lahirannya. Meski muncul, semua sudah terlambat.
"Mau sampai gini, Ayu. Ibu itu diam aja, bukan berarti nggak tahu. Ibu sudah dengar dari saudara yang ternyata kenal Gavin. Dia orangnya nggak beres, kan? Kenapa kamu nutupi itu?"
Ayu tertunduk malu. Ya, Pramayu yang selama ini menutupi segala kekurangan dan juga permasalahan yang ada dari hadapan keluarganya, saat ini sudah tidak bisa berkutik lagi. Dia tidak mungkin berbohong karena ibunya sudah tahu dari saudara yang merupakan salah satu orang kenalan Gavin.
"Jangan bohong lagi, Ayu. Kamu ini udah jadi janda dua kali. Sekarang sudah ada anak. Mau bohong apa lagi? Ibu juga lama-lama tahu."
Ayu pun menatap ibunya dan berkata, "Maafin Ayu. Ayu cuma malu karena hamil dan nggak mau diejek orang. Udah janda dua kali malah hamil duluan. Makanya Ayu minta Gavin nikahin secara siri aja. Dia itu ...."
"Iya, Ibu tahu. Dia masih punya istri dan dua anak, kan? Dia juga hamilin orang dan pergi, kan? Entah berapa cewek yang sudah dihamilinya dan ditinggal pergi. Entah berapa anaknya yang nggak diakui. Kamu ini kenapa nggak bilang, Ayu?! Kalau ngomong sama Ibu, lebih baik kamu ini nggak nikah sekalian! Ya ampun, Ayu. Nasibmu ini, kok, seperti ini."
Ibunya Ayu langsung histeris dan menangis. Merasa sesak karena putrinya seolah-olah jadi sial bertubi-tubi. Nikah salah, tidak nikah juga salah.
"Bu, mau gimana lagi? Kerjaku apa? Ibu sendiri, kan, minta aku untuk banyak uang. Alhasil?? Kerjaanku aja nyanyi, pemandu lagu, jadi penyanyi dangdut. Aku juga kondisi usaha udah bangkrut, Bu. Gavin itu nggak kerja. Terus mau gimana lagi? Habis pemulihan juga aku mau kerja lagi."
Pramayu tidak berani berkata lu gue dengan ibunya. Dia sebenarnya sayang kepada sang ibu, tetapi banyak jalan sesat yang diambil. Mulai dari bekerja esek-esek, pakai susuk, guna-guna orang, bahkan pernah kirim santet atau teluh ke Rania. Sekarang Pramayu baru menyadari artinya hidup susah. Dia harus kehilangan deposito dan juga tabungan selama bersama dengan Gavin.
__ADS_1
"Udah, tinggalin aja cowok seperti itu nggak guna jadi suamimu."
"Bu, jangan gitulah. Anakku juga baru lahir."
"Lah, mau gimana? Dia nggak bisa nafkahi juga. Ibu malah mikir kalau cewek yang ditinggal pergi sama Gavin itu sudah sangat beruntung! Nggak urusan sama orang ruwet seperti itu!"
Baru saja ibunya Pramayu selesai bicara, ternyata Gavin berdiri di dekat pintu masuk rumah. Dia membawa beberapa barang untuk bayi yang dua hari yang lalu lahir dan sudah dibawa pulang ke rumah. Satu kantong plastik itu terlepas dari tangan Gavin. Gavin merasa kalau memang dirinya tidak diterima di mana-mana.
"Pa, udah dateng?" tanya Pramayu yang panik karena Gavin muncul.
"Ya ... dan gue denger yang ibu lu bilang."
"Udah, gue balik aja. Ini buat bayi lu. Gue pergi dulu," kata Gavin dengan lirih karena merasa terluka hati.
"Ya, pergi aja!! Pergi dan buntingin anak orang lainnya!! Mau numpang idup aja pakai hamilin anakku!!! Nggak tahu malu!!!" teriak Ibunya Pramayu membuat Gavin semakin terpuruk rasa hatinya.
Baru saja Gavin kena omel keluarga besarnya. Sekarang dia kena omel lagi oleh Ibunya Pramayu. Sungguh sial yang tak berujung.
__ADS_1
Pramayu memang membenci Gavin, tetapi masih ada benih cinta di hatinya. Apalagi bayi yang lahir wajahnya lebih mirip Gavin. Jelas Pramayu juga tidak bisa berdusta kalau mencintai Gavin. Namun mengingat banyak masalah yang terjadi, Ayu tidak mengejar Gavin. Dia pun bingung dengan perasaan saat ini di dalam benaknya. Apakah benar ini cinta atau hanya sekedar tak mau jadi janda ketiga kalinya?
...****************...
Gavin berada di jalanan tidak memiliki tujuan hidup karena kehidupannya sudah hancur luluh lantah sejak kejadian demi kejadian bergulir dan dia juga meninggalkan Rania tanpa tanggung jawab sama sekali.
"Sepertinya, gue sedang menanggung sebuah hukuman atau bahkan kutukan dari Rania yang gue tinggalin. Gue ngrasa kalau emang udah pantes gue jalanin gini, tapi bukankah Rania juga harusnya kena juga? Dia juga udah salah, nggak cuma gue!"
Gavin belum sepenuhnya menyadari kesalahan yang dibuat tetapi selalu saja menyalahkan orang lain atas segala hal yang terjadi. Gavin tentu saja tidak semudah itu memahami makna dari sebuah karma atau hal yang dimaksud tabur tuai. dia selalu saja menyalahkan segala permasalahan yang terjadi di dalam kehidupannya kepada orang lain. padahal orang yang paling bertanggung jawab dengan kehidupan yang merupakan diri sendiri.
"Sial! Semua media sosial dan juga nomor gue diblokir sama Rania! Sialan! Udah enak dikit hidupnya lupa ama gue! Gue nggak akan tinggal diam dan akan terus meneror lewat inbox karena gue bisa bikin media sosial lainnya. Lihat aja nanti," geram Gavin yang jelas aja merasa iri ketika mengetahui kehidupan Rania beranjak lebih baik.
Gavin merasa kalau Rania juga tidak pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Setidaknya kalau Rania sudah mendapatkan kehidupan yang jauh lebih layak seharusnya masih mau bersama dengan Gavin. Begitulah pemikiran lelaki jahat yang bermodalkan mulut manis dan tidak punya perasaan sama sekali.
Bima melihat Gavin yang sedang membuat akun media sosial baru dan mencoba untuk kembali meneror Rania dengan kata-kata manis. Gavin dengan penuh percaya diri berharap Rania pada akhirnya akan lulus juga dan mau kembali kepadanya. Gavin rencana akan pergi ke Semarang untuk menemui Rania secara diam-diam.
"Dasar lelaki busuk tak tahu malu!! Sudah membuat kehidupan Rania hancur berantakan dan membuat Rania dihina oleh banyak orang tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun, sekarang justru mencoba mendekati Rania. Dasar tidak tahu malu! Sudah menjelek-jelekkan nama Rania demi mendapatkan pembelaan dan juga dianggap benar oleh orang lain, tapi saat ini mencoba untuk mendekati lagi karena tahu kehidupan terania sudah jauh lebih baik. Sepertinya, aku tidak akan membiarkanmu bernafas lebih lama lagi. Lihat saja!!"
__ADS_1
Bima tidak tahan melihat segala kelakuan Gavin. Bahkan iblis seperti Bima pun terasa kesel melihat kelakuan Gavin yang selalu memanfaatkan orang di sekeliling. Bima sebenarnya berencana untuk lebih lama lagi bersama dengan Rania, tetapi melihat kenyataan ini dan Rania dalam bahaya jika Gavin masih tetap hidup di dunia, maka Bima akan mempercepat semua rencananya.