
'hih apa apaan sih dia ngegombal trus, tapi kok kayanya aku juga suka' batin arinda sambil ngelihat kepergian ryu
"hah apasih yang aku pikirin, mmnding masuk aja" kata arinda sammbil berjalan masuk ke kost an nya.
.
.
.
saat ini ryu sedang berada di kamarnya, dia kemballi setelah membeli motor dan mengantar arinda pulang yang kebetulan sedang ingin pulang.
"huh jam berapa sekarang?" gumam ryu sambil melihat jam didinding
"jam 17.30, bentar lagi malem, huh dirumah segede ini cuma ada aku sendiri dan beberapa pelayan, sepi banget" gumam ryu sendirian dikamar 'mending mandi aja dah keburu malem'
selepas mandi dia membuka beberapa paket pakaian yang tadi dia beli di mall, ryu cuma memakai baju santai dan celana pendek
"sudah jam 6 ya, mending aku makan diluar apa dirumah ya" ryu bingung mau makan diluar apa dirumah, dia bingung sebab sudah sejak siang tak dirumah, padahal dia pulang atau tidak tak ada yang khawatir
"haha yang benar saja, kenapa aku bingung mau keluar apa dirumah lagi pula aku sudah yatim piatu sejak kecil cuma hidup di panti" kata ryu sambil membaringkan dirinya dikasur, tanpa sadar dia tertidur
tok tok tok
"tuan..waktunya makan malam" kata vera yang mengetuk pintu kamar ryu, tak mendapat jawaban sama sekali vera mengetuk sekali lagi tapi dengan sedikit keras
TOK TOK TOK
"tuan sudah jam 7 malam waktunya makan!" kata vera sedikit teriak, dia orangnya blakblakan sebenarnya tapi tidak saat bertemu pertama kali, sebab dia bukan tipe orang yang terbuka ke orang yang baru ia kenal. tapi dengan ryu berbeda sebab ryu tuannya
ryu terbangun oleh ketukan pintu yang lumayan keras yang disusul dengan teriakan vera
"dia..?oh vera kah anak mbok sarmi? ada apa dia malam malam begini? hah jam 7, rupanya makan malam" gumam ryu sambil melihat jam.
"iya iyaa dengarr, sebentar" kata ryu dari dalam kamar sambil berjalan kearah pintu
ceklek
"kenapa harus teria coba?" tanya ryu ke vera, ssedangkan vera sendiri dia tertegun oleh wajah bangun tidur ryu ditambah rambutnya yang acak acakan menambah kesan sendiri bagi vera. sebenarnya vera itu lebih muda dari ryu, umur vera 14 tahun ryu sendiri 18 tahun, ya jadi bisa dianggap seperti kaka adek.
"hei kenapa kamu bengong" kata ryu sambil melambaikan tangannya kemuka vera
"i-itu waktunya makan malam" kata vera gugup sebab dia ketahuan bengong meemandangi tuannya sendiri
"hadehh kirain ada apa, yauda ayok makan malam bareng mbok sarmi pasti masak banyak kan" ajak ryu ke vera sambil merangkulnya, tinggi vera dan ryu cukup terpaut jauh untuk vera sendiri tingginya 155cm sedangkan ryu 170cm
DEG
jantung vera makin berdetak kencang ada sedikit rasa suka kepada ryu yang merangkulnya, tapi tiba tiba
"kamu jangan mikir yang aneh aneh, aku begini karena menganggap kamu adekku sama halnya dengan sindi, jadi mulai sekarang panggil aku kakak aja oke?" kata ryu ke vera
'huh? adik katanya? sedarah aja engga, kalau tuan nganggap aku adiknya berarti ini cinta bertepuk sebelah tangan dong kaya yang di sinetron sinetron..sialnya' batin vera dengan sedikit tidak mood
"iya tuan eh maksudnya kakak" jawab vera sambil tertunduk malu
saat ini ryu sudah duduk dimeja makan yang sudah tertata rapi makanan yang aromannya begitu lezat, untuk mbok sarmi, sindi, serta vera mereka kembali ke dapur.
'makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskannya?dimana mbok sarmi dan lainnya?' batin ryu sambil mencari keberadaan pelayannya
"oh ternyata mereka bertiga didapur" gumam ryu sambil berjalan meenuju dapur
__ADS_1
"mbok ayo makan bersama, kalian belum makan kan? ayo makan bersama saja" ajak ryu yang sudah ada didapur
"ah tuan muda saya merasa tidak pantas satu meja dengan tuan muda, saya makan disini saja sama yang lainnya sudah cukup kok" balas mbok sarmi sambil tersenyum ramah
"sudah ayo saya gak menerima penolakan, oiya sindi sama vera bisa minta tolong panggilin paman roger dan yang lainnya?ajak mereka makan bersama, lagi pula kursinya banyak mejanya juga panjang ditambah makanannya banyak sekali pasti cukup" kata ryu
"baik tuan" jawab sindi dan juga vera
"eh vera kamu ga beritahu sindi?aku kan sudah bilang panggil saja aku kakak jangan ada embel embel tuan atau lainnya oke?" jelas ryu kembali ke vera, sedangkan sindi dia hanya mengangguk paham. kepribadian sindi bertolak belakang dengan vera, dia orangnya selalu diam tapi mudah paham, tak seperti vera yang banyak omong jika sudah kenal walau mereka kembar tapi kepribadiannya jauh sekali berbeda
"baik kak" kata vera sambil tersenyum, sindi yang melihat hanya geleng geleng
"juga untuk mbok sarmi jangan panggil aku tuan muda ya?aku sedikit ngerasa agak gimana ajc hehehe" kata ryu ke mbok sarmi sambil ketawa canggung
"baik tu- nak ryu" kata mbok sarmi sambil tersenyum.
saat ini semua pelayan sudah ada dimeja makan yang sama dengan ryu
"baik semuanya, mari makan tak usah sungkan jika mau nambah" kata ryu ke pelayannya
"baik tuan muda terima kasih sudah mengajak kami makan bersama" kata roger selaku ketua pelayan
"ah sama sama paman, ooiya ini perintah untuk kalian semua jangan panggil saya dengan embel embel tuan ya kalo lagi dirumah, kecuali jika ada acara penting, yahh untuk formalitas saja jika kelupaan juga tak masalah" jelas ryu
mereka mulai sekarang memanggil ryu dengan sebuta 'nak' untuk pelayan yang tua seperti mbok sarmi, roger dan lainnya, sedangkan yang lebih muda daari rryu seperti vera dan sindi mereka memanggil ryu dengan kakak.
dentingan piring dan sendok terdengar saat makan mereka tak bersuara saat makan sebab sudah sewajarnya menjaga adab jika saat makan, tapi dikeheningan itu tiba tiba pecah oleh suara sendawa seorang perempuan. ya itu suara vera yang sudah selesai makan.
"haaaah masakan ibu memang yang paling enak, hoikkkkk" kata vera sambil bersender ke kursi dengan memejamkan mata, dia beegitu karena melakukannya tanpa sadar, itu sudah kebiasaan dia menikmati rasa kenyang oleh masakann ibunya.
tapi karena suara sendawa vera yang terlalu blakblakan membuat ryu ketawa dan yang lainnya cuma terkekeh beda halnya dengan mbok sarmi yang langsung menjewer telinga vera
"heh kamu ini didepan tuan muda kok begiitu" bisik mbok sarmi sambil tersenyum tak enak ke ryu
"hahahha tak apa mbok, lagi pula saya sudah selesai makan beegitu juga yang lainnya sudah sewajarnya orang bersendawa hahaha" jawab ryu sambil tertawa
vera sendiri dia malu setengah mati dia langsung keelabakan membenarkan duduknya sambil menunduk dan memeras bajunya dengan erat
'apa apaan sihh, kenapa harus didepan kak ryu coba, mau ditaruh dimana mukaku ini, aaaaa' batin vera dengan malu
"sudah tak apa ver, umum kok hahaha" goda ryu
"kak ryu mengejekku males ah" jawab vera sambil melarikan diri kekamarnya yang satu kamar dengan sindi dan ibu nya, dia pura pura kesal padahal malu setengah hidup
"eh vera jangan ngambek gitu, hei maafin kakak" kata ryu sedikit kencang karena vera sudah sedikit jauh
"sudah nak biarin, dia bukan marah cuma malu aja, dilihat dari mukanya aja keliatan kalo dia malu" jawab mbok sarmi
"ah begitu ya" jawab ryu
saat mereka sudah makan kini mereka kembali ketugasnya masing masing, ryu sendiri sedang membantu mbok sarmi membereskan meja makan
"eh nak ryu apa yang kamu lakukan, sudah biar mbok sama yang lainnya saja, nak ryu kekamar aja atau keluar jangan ikut beres beres mmbok gaenak jadinya" kata mbok sarmi gaenak
"benar nak biar saya dan nur sama sindi yang ngebantu mbok sarmi beres beres" timpal mbok siti
"sudahlah ini juga kebiasaan saya saat kerja dulu" jawab ryu
"maaf nak ryu jadi ngerepotin" kata mbok sarmi
"tak masalah mbok, yasudah ini sudah selesai saya keluar dulu ya, oiya bisa minta tolong buatin kopi mbok? bikin 4 saja buat saya dan paman paman diluar" tanya ryu ke mbok sarmi
__ADS_1
"oh bisa nak, nak ryu keluar dulu saja nanti biar sindi dan vera yang antar kopinya kedepan"
"baik mbok makasih ya"
"sama sama nak sudah kewajiban mbok"
ryu berjalan ke halaman depan rumah, dia mencari keberadaan pelayannya, ternyata sedang berkumpul dipos satpam
"misi paman saya boleh ikut nimbrung gak nih?" sela ryu tiba tiba
" e eeh ayam ayam, nak ryu rupanya mengagetkan saja" kata pak yanto, yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya
"hehehe maaf pak, saya boleh ikut nimbrung ga ya?"
"oh boleh boleh banget sini, kebetulan pada lagi nonton bola" jawab pak yanto
"misi ya pak yanto pak didik pak roger" kata ryu permisi sambil duduk disamping pak yanto sedangkan pak didik dan pak roger berada disampingnya
saat mereka sedang bincang bincang, datang sindi dan nur membawakan kopi dan gorengan
"misi nak ryu dan lainnya, ini kopinya dan gorengannya nak ryu" kata nur sambil meletakkan kopi kopinya, sedangkan sindi hanya diam dan menaroh gorengan disamping perkopian
"silahkan kak" kata sindi singkat
"makasih mbak nur dek sindi, silahkan pak diminum gausa sungkan gorengan juga banyak pas banget buat malming kali ini" kata ryu sambil mengambil satu gorengan lalu mengunyahnya, sudah hal biasa bagi ryu makan gorengan dan kopi ditambah rokok, bedanya ryu lupa membeli rokok saat pulang tadi.
"wah pas banget nih, ada kopi ada gorengan ditambah malem malem dingin begini, cuma kaya ada yang kurang tapi apa ya?" kata pak didik sambil berfikir
"hah kau ini dik, jelas rokok lah yang kurang tadi setengah bungkus kau yang menghabiskan paling banyak, pak roger aja baru dua ya kan pak"
kata pak yanto seraya bertanya ke pak roger
"haha tidak apa, yaudah nih beli aja lagi dua bungkus rokok surya" kata pak roger sambil menyodorkan uang 50 ribu ke pak yanto
"nih dik kamu yang beli, kamu yang ngehabisin paling banyak juga" sodor pak yanto ke didik
"loh kok aku, kan kamu yang dikasih uangnya" kata pak didik sambil memakan gorengan
"ya ini pokoknya kamu yang beli, tadi yang ngehabisin rokoknya juga kamu, udah sana ah" suruh pak yanto sambil melempar uangnya ke pak didik
sedangkan ryu dan pak roger hanya geleng geleng kepala
"nak ryu, kamu sudah merokok?" tanya roger tiba tiba
"oh iya paman saya ngerokok, cuma kebetulan tadi pulang belom beli" jawab ryu
"oh yauda, ini didik lagi beliin surya nak ryu cocok gak?" tanya pak roger
"cocok cocok aja pak asal jangan kretek hehe"
mereka bertiga berbincang sambil nonton bola dan makan gorengan ditambah kopi, tak lama kemudian pak didik datang
"ini rokoknya, gorengannya jangan habisin aku baru makan satu" kata pak didik
"iya iya ini makan nih"
mereka ber empat melanjutkan obrolannya sambil nonton bola, kebetulan itu malam minggu dan ryu menyuruh mereka santai saja besok minggu tak perlu kerja keras, seperlunya aja. mereka berkumpul sampe pagi datang.
.
.
__ADS_1
.
makasih jangan lupa coted like coment, makasihh