Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Bag 1. Perselingkuhan


__ADS_3

Seharian ini, kebahagiaan menyelimuti hati seorang wanita yang telah menjadi istri selama 8 tahun lamanya, tetapi belum pernah menjadi seorang ibu.


Malam ini, ada sesuatu yang ingin Shania sampaikan kepada suaminya. Ia ingin memberikan kabar bahagia terkait kehamilannya yang ditunggu-tunggu selama 8 tahun lamanya. Tiga buah test kehamilan sudah berada di belakang tubuhnya, dia akan memberikan sedikit kejutan pada suaminya saat makan malam.


Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu kamar, tetapi urung setelah dia mendengar sesuatu–suaminya sedang berbicara serius dengan seseorang di seberang panggilan telepon.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Terdengar suara suaminya yang meledak-ledak berbicara dengan seseorang di telepon. Shania tanpa sengaja menguping dari balik dari balik pintu yang ternyata tidak ditutup rapat itu.


"Dimana Amanda? Biar saya bicara dengannya," ujar Pradipta dengan nada bicara yang merendah.


"Okey, tungguhlah. Aku ke sana sekarang, jaga bayi kita sampai aku datang!"


Tidak ada yang membuat Shania terkejut, kecuali kalimat yang terakhir. Jantungnya berdegup kencang saat telinganya mendengar kata 'bayi kita' keluar dari mulut suaminya dengan begitu jelas.


Lantas, derap langkah pria itu mendekat ke pintu. "Mas, makan malam sudah—" ujar Shania di depan pintu kamar saat tiba-tiba Pradipta muncul dari dalamnya.


"Maaf, Shan. Mas ada urusan penting, harus pergi sekarang," pamit Pradipta pada istrinya, lalu pergi begitu saja dengan langkah yang terburu-buru.


Tidak tinggal diam, untuk kali ini Shania mengikuti kepergian suaminya untuk mengetahui 'urusan penting' apa yang sedang terjadi dan untuk mengetahui maksud dari kata 'bayi kita'.


Menggunakan mobil yang berbeda, Shania mengikuti suaminya dari belakang. Walau agak jauh, tetapi Shania masih bisa mengintai gerak-gerik suaminya. Sampai dia memasukki kawasan perumahan elit ibu kota, Shania melihat ia memarkirkan mobil di depan rumah berpagar hijau muda. Lantas, didapati pria itu berlari masuk ke dalam rumah itu dengan tergesa-gesa.


Tidak kunjung keluar, Shania mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor suaminya. Namun, sekarang yang dilihatnya pria itu tengah membopong seorang wanita yang sedang berdarah-darah di sepanjang kakinya sampai darah itu menetes di sepanjang jalan. Saat ponselnya standby di tangan, Shania mengabadikan momen tersebut dalam sebuah video.


Perlahan, tapi pasti, Shania mengikuti kemana mobil itu membawa mereka pergi. Di depan IGD rumah sakit terdekat. Di depan petugas medis,  pria itu turun dari mobilnya.


"Dok, suster, tolong istri saya. Dia mengalami perdarahan, tolong selamatkan dia dan bayinya," ujar Pradipta seraya menunjuk-tunjuk ke dalam mobilnya.


Dari jarak yang lumayan dekat, Shania bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan suaminya. Tadi, bayi kita, sekarang istri saya?

__ADS_1


Hati Shania terasa begitu sakit mendengar dua pengakuan itu, seperti ada sesuatu yang menghujam dadanya sampai menembus jantung hatinya. Untuk kesekian kalinya, Shania yang berderai air mata sempat merekam kejadian di depan mata.


"Mas, kenapa kamu tega menduakan aku seperti ini?" Ucapnya pada diri sendiri. Dengan tangisan yang tidak mampu lagi dibendungnya, Shania tidak kuat melihat lebih lama apa yang sedang suaminya lakukan di depan matanya.


Shania tidak kuasa melihat 'dia' yang bersusah payah membopong seorang wanita dan memindahkannya di atas brankar, lebih menyakitkannya lagi saat pria itu memberikan belaian dan kecupan di wajah wanita itu seakan memberikan cinta dan kasih sayang yang menurut Shania, seharusnya hanya dialah wanita satu-satunya yang berhak mendapatkan semua cinta dari pria itu.


"Ah, aduh! Apa yang terjadi padaku? Auh!" Tiba-tiba, Shania merasakan sakit di perutnya. Rasa-rasamya selurut otot di bagian perutnya menegang dan seperti ada yang meremas kuat-kuat di dalam.


Beberapa saat kemudian, dia merasa ada sesuatu hangat yang mengalir dari sela pangkal pahanya. Mengangkat sedikit gamisnya dan sontak dia shock melihat banyak darah yang mengalir di sepanjang kakinya sampai mengotori jok dan alas mobilnya.


Saat yang tepat untuk menelepon Pradipta dan meminta bantuan suaminya yang saat ini berada di depan matanya


"Halo, Assalamualaikum. Kenapa, Shan?" Ujar Pradipta dengan suara terburu-buru.


"Halo, mas, ah!" Ujar Shania yang masih berusaha berbicara benar dan jelas meski dia sedang menahan rasa sakitnya.


"..." Tidak segera menjawab. Shania hanya sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Dia terus meremas perutnya, berharap rasa sakit itu dapat mereda.


"Mas, aduh. Ssstt," keluh Shania yang tidak bisa berkata panjang.


"Shan, katakan, ada apa? Jangan main-main, Mas sedang ada urusan penting! Aku tutup dulu, ya, teleponnya. Nanti bicara saat aku di rumah," ucap Pradipta mengakhiri teleponnya. Yang pria itu ingat, Shania sedang terlihat bahagia sebelumnya.


Shania hanya bisa menangis sambil menahan lara yang begitu menyiksanya ditambah pemandangan di depan mata–suaminya yang sedang mendorong brankar yang membawa seorang wanita di atasnya.


Esok paginya.


Pria itu pulang ke rumah, hatinya menuntun langkahnya untuk berhenti di meja makan dan melihat makanan yang terbuka masih tersaji di atas meja. Tidak kalah menyita perhatian saat matanya melihat 3 benda pipih di ujung meja tersebut.


Dia mengangkat benda pipih itu, membaca hasil dari 3 buah strip testpack yang menunjukkan hasil positif kehamilan. Tersentak, ia langsung mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


"Shania, dimana Shania?" Bertanya pada diri sendiri. Dia menyusuri semua bagian rumah, tetapi istrinya itu tidak ada. Mencoba menghubungi, tetapi tidak ada satu telepon pun yang terjawab. Pradipta kelimpungan mencari keberadaan wanitanya.


Semua anggota keluarga sampai teman-teman dekat istrinya ditelepon, tetapi tidak ada yang tahu dimana istrinya. Satu hal yang mungkin, jika Shania sekarang berada di rumah orang tuanya.


Di tengah perjalanan, dia mendapatkan pesan dari Shania yang mengirimkan cuplikan video saat Pradipta meminta bantuan nakes untuk menolong 'istrinya' dengan dibubuhi teks di bawahnya, "Mas selingkuh!"


Pria itu langsung mendial nomor yang sama, "Halo? Assalamualaikum, Shan. Kamu dimana, Yang. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan."


"Waalaikumsalam. Iya, benar. Yang kupikirkan jika kamu adalah suami setia. Ternyata tidak," jawab Shania dengan terisak.


"Bukan, sayang. Bukan seperti itu maksudku. Aku bisa jelaskan, tolong dengarkan dulu," pinta Pradipta memohon.


"Mas sudah ketahuan selingkuh di depan mataku. Apa lagi yang mau dijelaskan?" Ujar Shania.


"Kalau sudah tidak cinta, harusnya katakan saja padaku. Biar aku langsung pulang ke rumah orang tuaku. Gak perlu nunggu sampai mas selingkuh, lantas kamu akan menendangku. Itu menyakitkan, Mas!" Tambah Shania.


"Tidak, sayang. Apa yang kamu pikirkan itu salah? Bagaimana bayi kita? Kamu dimana sekarang?" Tanya pria itu tidak tenang mendengar istrinya marah dn menangis pertama kalinya karena dirinya.


Di dalam ruangan serba putih itu, Shania sedang meratapi calon bayinya yang kini sudah tiada padahal kemarin baru diketahui keberadaannya.


Tidak menjawab serentetan pertanyaan sebelumnya, Shania malah mengakatan hal yang tidak pernah dia minta sebelumnya, "ceraikan aku, Mas!" Tegas Shania, setelahnya ia langsung menutup sambungan teleponnya


Hati wanita itu begitu lara mengingat kejadian yang menimpa dirinya semalam. Perselingkuhan di depan mata dan kini, calon bayinya telah gugur.


Di sisi lain, Shania yang memblokir nomor Pradipta membuat pria semakin cemas karena tidak bisa menghubunginya. Pikirannya kacau, dia gelap mata, dan tetap akan datang ke rumah mertuanya dengan melajukan mobilnya secepat kilat di jalan bebas hambatan lajur kanan.


Namun, saking kencangnya, mobil itu hilang kendali. Truk besar di depan mata telah menanti, kecelakaanku pun tidak dapat dihindari. Mobil pria itu menghantam sisi belakang truk tronton hingga menyebabkan mobil dan pengemudinya mengguling beberapa kali sampai keluar jalur tol.


Dalam posisi mobil yang terbalik dan rusak parah, Pradipta yang terluka menjadi satu-satunya korban dalan kecelakaan tunggal tersebut. Untunglah, proses evakuasi berlangsung lancar sehingga tubuh korban dapat segera mendapat perawatan.

__ADS_1


__ADS_2