Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Bagian 3


__ADS_3

"Shania, Shania," ucap lirih pria itu yang mengerjap masih mengerjapkan matanya berkali-kali. Tubuhnya masih lemah, tetapi bibirnya terus berucap satu nama, yakni 'Shania'.


Sedangkan, wanita itu telah pergi sesaat setelah menyadari kondisi Pradipta mulai membaik dan sadar dari komanya. Dia tidak mengharapkan bisa melihat pria itu lagi, tetapi tidak juga mendoakan pria itu pergi–meninggal.


Di sinilah sekarang ia berada, di dalam musala rumah sakit itu. Melaksanakan salat duha dengan tangis–karena lara yang kian mendera–yang tidak bisa dia hentikan di kekhusukan setiap gerakan salatnya. Rasa dilema, antara ingin bertemu dan meninggalkan pria itu. Ada dua inginan yang berlawanan di waktu yang bersamaan.


Saat masih tersedu-sedu, dia membuka mushaf Al-Qur'an yang tersedia di musala. Membaca ayat per ayat dari lembar paling awal. Semakin dalam dia membaca, semakin deras pula tangisannya. Rasa cinta dan benci itu seakan beradu di dalam dadanya.


Untuk saat ini, Shania tidak bisa memutuskan harus mengambil langkah yang mana? Suaminya yang baru saja siuman, rasanya berdosa jika dia tinggalkan. Namun, juga tidak bisa berlama-lama berada di dekatnya atau ia akan membuka kembali luka yang masih basah di dalam hatinya secara sengaja.


Setelah sekiranya 1 juz terselesaikan, hatinya menjadi tenang. Maka, dia cukupkan untuk membaca kitab suci, sekaligus mencukupkan diri menangisi kedilemaan saat ini. Lalu, dia akan pulang dengan hati yang tenang.


"Mbak?" Suara seseorang wanita memanggilnya dari belakang.


Seorang wanita muda berambut panjang; terkuncir setengah; jepit kupu-kupu warna biru di sisi kepala bagian kanannya, tubuh yang padat berisi, menggunakan dress sepanjang lutut yang agak ketat sehingga dapat memperlihatkan dengan jelas perutnya yang membuncit dan bukti nyata jika dia tengah hamil.


Dari jarak kurang dari lima meter, Shania dapat mengetahui siapa wanita itu.

__ADS_1


"Mbak ada waktu? Bisa kita berbicara?" Tanya wanita itu pada Shania dengan suara pelan dan halus.


"Kesalahan seseorang seharusnya tidak lantas menjadikan orang yang disakiti memutuskan untuk membencinya. Memberi kesempatan untuk menjelaskan, itu pilihan yang benar supaya tidak ada kesalahpahaman," kata hati Shania yang terdalam.


"Di sana," tunjuk Shania pada kursi panjang di dekat musala.


"Maaf, saya Amanda," ucap wanita berambut panjang kecokelatan itu.


"Maksud kamu, wanita lain di kehidupan suami saya?" Ujar Shania menerka. Sudah pasti, memangnya Amanda siapa lagi?


"Katakan seperlunya saja, saya masih ada urusan," kata Shania tegas, tetapi tidak dengan nada judes. Dia berbicara seperti biasa; lemah lembut.


"Saya mau minta maaf sama Mbak Shania. Karena kehadiran saya, membuat rumah tangga kalian retak. Tapi, saya juga membutuhkan Pak Dipta karena anak ini," kata wanita muda bernama Amanda itu, kemudian menunduk membelai perutnya.


Menyakitkan, itu jelas sekali dirasakan Shania. Untuk kesekian kalinya dia harus mengetahui kenyataan yang menyakitkan dalam lingkaran masalah yang sama, cintanya yang diduakan.


"Lalu?" Tanya Shania yang tidak mau memandang wanita yang duduk di sampingnya.. Dia memutar posisi duduknya ke depan, terus menatap ke depan, dan tidak berkedip supaya air matanya tidak luruh.

__ADS_1


"Saya hanya mau mintaa maaf sama Mbak Shania, itu, aja. Dan—" ucapan Amanda terjeda.


"Dan apa?"


"Dan, meminta izin kepada Mbak untuk merelakan Pak Dipta menikahi saya," ujar wanita itu lirih, tetapi terdengar jelas di kedua telinga Shania yang tertutup kerudung.


"Apa?!" Shania sedikit memekik mendengar kalimat yang wanita di depannya katakan.


"Jadi, maksud kamu, kalian belum menikah? Lalu, anak yang ada di perutmu itu apa? Hasil berbuat zina?" Tanya Shania yang kali ini tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes deras. Dalam rongga dadanya, terasa semakin menyempit sehingga sulit menghirup oksigen dari luar. Sesak yang teramat.


"Gak, mungkin! Suami saya pasti tidak pernah melakukan hal sehina itu. Menduga menjadikanmu istri kedua saja sudah sangat menyakitkan bagi saya, apalagi jika sampai berzina? Astaghfirullah, itu suatu kemudaratan, kamu tahu?" Ujar Shania dengan terisak-isak dan mulai tersulut emosinya.


"Astaghfirullah, Ya Allah. Maha Suci Allah," ucap Shania mencoba menekan emosinya. Mengusap dadanya yang begiti sesak dn berdenyut sejak tadi.


Sedangkan, Amanda–wanita itu hanya diam seraya menundukan kepalanya.


"Siapa namamu, tadi? Amanda? Ya, Amanda. Tidakah kamu berpikir sebelum mengatakan ini denganku? Mengakui perbuatan hina itu dan meminta izin untuk berpoligami? Tidak akan pernah aku merestui! Lebih baik aku yang pergi," ujar Shania, lantas dengan langkah cepatnya. Dia pergi dengan membawa serta luka hati yang semakin bertambah-tambah.

__ADS_1


__ADS_2