
Hari ini Shania datang kembali karena permintaan Pradipta dan ia sudah mengangguki permintaan mertuanya yang akan menemani masa pemulihan Pradipta sampai pria itu sembuh, lalu dia akan pergi setelah itu.
Di pagi hari saat cuaca belum cukup terik, Shania mengajak suaminya ke taman rumah sakit. Menghirup udara segar dan memandang langit yang berwarna biru cerah, berharap dapat memberikan suasana baru daripada sekadar memandangi dinding dan plafon kamar yang serba berwarna putih.
"Shan, lihat!" Di atas kursi roda yang didorong Shania, Pradipta menunjuk sesuatu. Sebuah layang-layang bermotif hello kitty.
"Kamu sangat suka sama animasi itu, kan?" Terka Pradipta.
"Iya, benar. Tapi, itu dulu," jawab Shania dalam batin.
Dalam hati Shania, dia selalu bangga pada detail-detail yang pria itu ingat tentang dirinya. Akan tetapi, apa yang diingatnya adalah tentang masa lalu. Bukan kenangan hidup yang terbaru.
"Kamu mau?" Tanya Pradipta memutar lehernya, sedikit mendongan, dan menatap Shania yang memberikan jawaban menggeleng.
"Hem, sukanya malu-malu, deh."
"Suit," pria itu bersiul pada 2 anak kecil–perempuan berkursi roda dan satu laki-laki yang lebih besar darinya–yang tengah memegang tali senar di tangannya.
Ketika kedua anak itu menoleh, Pradipta melambaikan tangannya dan memerintahkan mereka untuk mendekat. Sang anak laki-laki bertatapan sejenak dengan gadis kecil di kursi roda, lantas setelah mendapat anggukan dari si gadis kecil, bocah laki-laki itu pun berlari mendekat meninggalkan anak perempuan dengan senar di tangan dan layang-layang yang sedang terbang di atas awan.
"Sini, Om bisikin," kata Pradipta menyuruh anak laki-laki itu lebih mendekat. Membisikkan sesuatu yang mana anak itu pun membalasnya dengan bisikan juga. Kedua laki-laki itu sibuk saling berbisik.
Entah apa-apa yang pria itu bisikkan, anak laki-laki itu akhirnya kembali ke sang gadis kecil dan melakukan diskusi singkat di sana. Lalu, anak laki-laki itu kembali mendekati Pradipta dengan membawa serta layang-layang lengkap dengan talinya.
"High five!" Keduanya bertos ria.
"Jangan lupakan hadiah untuk adikku, ya, Om," ucap bocah laki-laki itu sebelum pergi. Di pikiran Shania beradu banyak perkiraan dan hanya bisa menduga-duga, entah apa yang pria itu janjikan pada anak kecil itu sampai mereka tidak segan memberikan mainannya. Shania tentu tahu benar, dalam bernegosiasi, pria itulah jagonya. Pandai dalam merayu, bertutur kata, dan menyakinkan penuh siapa saja lawannya. Maka, mudah menaklukan hati bocah itu.
"Ini, untukmu. Biar kutarik mendekat dulu jangan terlalu tinggi, nanti talinya bisa putus," kata Pradipta menarik mundur layang-layangnya.
__ADS_1
Pria itu kesulitan saat menarik dan menyeimbangkan layang-layang itu supaya tetap berada di atas walau pun terkena terpaan angin yang berembus cukup kuat saat ia menarikknya mendekat.
Kemudian, dia bangkit dari kursi rodanya, "Seperti sebuah hubungan, ya? Semakin ditarik mendekat, semakin susah di dapat, semakin banyak angin yang menghempas. Usahanya seperti perjuangan mendapatkan kamu," ucap Pradipta seraya menatap Shania.
"Shan, ayo, sini! Peganglah, kemari!" Ajak pria itu pada Shania supaya mendekat padanya yang sudah berdiri cukup jauh dari posisinya semula.
Shania mendekat, menerima uluran tali layang-layang, tetapi wanita itu enggan untuk menggerakkannya. "Seperti ini," Pradipta yang memeluk tubuh Shania dari belakang untuk mengajarkan suatu trik pada kekasihnya supaya layang-layang itu bisa digerakan ke sana ke mari tahan terpaan angin dan bergerak di bawah kendali empunya.
"Nah, awas! Jaga biar tetap di atas, jangan di tarik dulu kalau lagi stabil, malah waktu yang tepat kalau mau diulur," kata pria itu setelah mencoba memberikan tali itu sepenuhnya pada Shania, membiarkan wanita itu mengendalikannya sendiri.
"Teori layang-layang mengajarkan kita banyak pelajaran, ya, Shan?" Katanya.
Shania menoleh. Alisnya mengerut, memiliki arti tanda tanya.
"Iya, layang-layang seperti manusia. Semakin tinggi, maka semakin besar pula anginnya; semakin susah dijangkau; semakin sulit dikendalikan, belum lagi kalau tali yang mengingat tidak cukup kuat. Jangan salahkan kalau layang-layang itu putus dan hilang terhembas angin. Benar, kan?" Kata Pradipta tentang teori layang-layang.
Pria itu mengernyit, "kenapa?"
"Praktiknya berbeda dengan kehidupan manusia. Ibarat ikatan itu diartikan sebagai janji dan komitmen. Jika suatu hubungan dilandasi dengan komitmen penuh, ternyata masih bisa juga putus. Jadi, tidak peduli ikatannya kuat atau tidak, suatu hari akan putus juga karena dia tidak tahan godaan," ucap Shania.
"Benarkah, seperti itu?"
"Iya, aku mengalaminya sendiri," kata Shania.
Pradipta mengacak kepala kekasihnya, "Sekarang, perkataanmu terlihat seperti wanita dewasa, ya," ujarnya dengan kekehan tawa.
"Sejak dulu, aku selalu menganggap hubungan yang kujalani ini seperti layang-layang. Prinsipnya, kupastikan tidak akan memutus ikatan itu saat terbang bersamamu, Shan," tambahnya.
Mendengar itu, Shania tersenyum miris. Kalimat itu yang sering didengar oleh Shania yang dulu di masa lalu. Namun, Shania yang sekarang sudah membuktikan bahwa ucapan pria itu tidaklah benar. Lantas, wanita itu mencebik, "Tidak ada yang bisa menjamin."
__ADS_1
"Ah, kamu tidak percaya pada kekuatan cinta, Shania!" Kelakar pria di sampingnya itu.
"Shania, Dipta!" Dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangan kepada keduanya. Dia datang mendekat dan berhenti tepat di depan dua pasangan Shania dan Pradipta.
"Hai, kalian sedang di sini? Aku mencarimu di kamarmu," ujar pria itu ramah.
Pradipta menatap kedatangan pria itu dengan tatapan tidam suka dan senyum yang sejak tadi ada, kian menghilang bersama dengan langkah pria itu yang terus mendekatinya. "Shan, tetap berada di sampingku. Nanti, dia pasti akan menggodamu," ucap Pradipta lirik dan khawatir.
"Bro, lo ingat gue?" Tanya pria itu menujuk jari ke dadanya sendiri.
"Reno si mata keranjang, siapa yang akan lupa dengan hal itu?" Jawab Pradipta terlihat kesal.
Pria di depannya itu terheran-heran, "kata Tante Meida, lo amnesia? Itu pura-pura?" Cuap pria bernama Reno itu.
"Hah? Amnesia?"
...🌾🌾🌾...
Ketiga orang itu duduk memutar di gazebo taman rumah sakit, "Aku amnesia? Hahaha, jangan becanda," kata Pradipta saat mengulang pertanyaannya dan kedua orang di depannya mengangguki pertanyaannya.
"Bro, kamu harus terima kenyataannya. Kita akan bantu kamu buat ingat semuanya, kok," Reno menepuk bahu sahabat sekaligus musuhnya itu.
"Iya, kan, Shan?" Beralih tangan itu memegang bahu Shania.
"Hei, brengsek! Awas, ya, kalau lo berani sentah-sentuh dia sembarangan," kata Pradipta penuh ancaman. Dia akan marah saat Reno mulai menggangu Shanianya.
"Elah, kagak. Dia kan istri lo, bro. Gak akan gue ambil, kok. Kecuali kalau jandanya," kekeh Reno membual.
Bukan marah, tetapi raut wajah Pradipta malah menyimpan pertanyaan besar, "Istri?"
__ADS_1