
Sejenak, Shania merasa iba setelah mendengarkan serentetan kalimat yang disampaikan oleh pria yang telah mengisi hari, hati dan pikirannya. Pria yang selama ini menjadi pusat sandaran hatinya dan telah berhasil mengusai seluruh jiwa raganya selama bertahun-tahun lamanya.
Namun, semuanya telah berubah, telah berbeda, dan telah musnah sejak Shania tahu jika pria itu mempunyai calon anak dari wanita lain. Itu hal yang tidak termaafkan baginya.
Shania meninggalkan pria itu tanpa menoleh untuk sekali, keputusannya semakin mantap untuk menurut pada saran ayahnya. Penggugatan cerai yang akan ia lakukan segera mungkin.
"sudah siap," ucap Hisyam. Pengacara yang menjadi tangan kanan ayah Shania dan dipercayakan untuk menyelesaikan perceraian putrinya.
"Terima kasih, Mas," ujar Shania.
"Hari ini mau kemana? Perlu mampir ke suatu tempat?" Tanya Hisyam. Pria gagah dengan wajah tampannya yang mempunyai perpaduan darah asia dan eropa dengan rambut blonde gelap dan iris mata berwarna hitam legam itu bertanya ramah pada Shania–kliennya.
"Tidak, Mas. Mau pulang saja," tolak Shania dengan nada bicara lembut dan disertai senyuman singkat.
"Makan siang dulu mau, ya?"
Tidak ada alasan bagi Shania untuk menolak ajakan tersebut karena sejak pagi sampai menjelang sore ini, pria itu yang sudah membantunya mengurus berkas perceraian dan bersabar hati menemani Shania mengajukan gugatan dan sedikit mengantre di pengadilan.
__ADS_1
"Boleh," jawab Shania setelah memberikan anggukan kepala sekali.
Mereka masuk ke dalam mall untuk mengunjungi restoran all you can eat menu dedagingan. Praktis mereka pun menikmati makanan dengan khidmat. Tidak ada kegiatan yang pasti, kecuali satu hal menyita pandangan Shania.
Dilihatnya seorang wanita menggunakan dress maxi dengan jaket hoody di depan matanya. Dia yang tengah menikmati makanan dengan seorang pria entah siapa yang duduk membelakangi tempat Shania.
Mata kedua wanita itu bertemu, dengan Shania yang langsung tidak ambil pusing dan mengalihkan pandangannya.
"Siapa, Shania?" Tanya Hisyam yang kemudian menoleh ke belakang mencari sesuatu yang menjadi fokus Shania sebelumnya.
"Tidak," ujar Shania.
Seorang wanita dengan jumpsuit pink dengan jaket hoodynya melihat ke arah seberang, dimana meja di depannya terdapat Shania yang sedang duduk bersama seorang pria. Dia tersenyum ramah pada wanita di seberang, tetapi tidak mendapatkan balasan serupa malah membuang wajahnya.
Wanita itu mengambil gambar pemandangan di depan matanya itu untuk diabadikan, entah dengan tujuan apa.
"Amanda, kau sedang memotret apa?" Tanya seorang pria yang tengah memanggang irisan beef seraya membolak-balikkan beef itu. Lalu, memindahkannya ke piring wanita di depannya sekiranya steak telah masak pada tingkat kematangan well done.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa," jawab wanita berkuncir kuda itu seraya menyunggingkan senyuman tipisnya.
...🌾🌾🌾...
Di ruang tamunya, Pradipta dikejutkan dengan kurir kedatangan kurir memberikan berukuran besar. Terdapat tulisan bercetak tebal 'Pengadilan Agama' tertulis pada bagian kop surat tersebut. Pria itu membaca dengan teliti dan saksama apa maksud surat berupa Tuntutan Gugatan Perceraian yang ditujukan kepadanya sebagai tergugat dengan tertanda Shania Citra sebagai penggugat. Surat penggugatan perceraian yang diterbitkan resmi oleh Pengadilan Agama.
"Surat perceraian? Perselingkuhan?" Ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Pria itu merasa sedih yang teramat dalam setelah membaca isi dari surat gugatan cerai itu. Meskipun sejujurnya dia tidak ingat apapun tentang pernikahan dirinya dengan Shania–sejak kapan dan sudah berapa lamanya, tetapi pria itu masih sangat ingat jika Shania adalah satu-satunya gadis yang sampai saat ini sangat dicintainya.
Pria itu kebingungan sendiri dengan apa yang terjadi. Saat ini, yang dia ingat hanyalah berjuang mendapat restu kedua orang tua kekasihnya dan membawa Shania ke pelaminan, tetapi belum merasa sampai ke tahap itu, pria itu malah dibuat terkejut karena sudah mendapatkan surat gugatan cerai dari sang pujaan hati.
Seperti kalah sebelum berangkat ke medan perang, itulah yang dirasakan Pradipta sekarang.
"Ma, kenapa ini semua terjadi padaku? Bahkan aku belum merasa menikahinya, mengapa sudah terbit surat gugatan cerai ini, Ma?" Ujar pria itu frustrasi. Dia menjambak rambutnya sendiri, entah apa yang sedang terjadi.
"Ah, kenapa?! Kenapa aku tidak ingat apapun tentang pernikahanku dengan Shania. Kenapa, Ma?!" Teriaknya histeris.
__ADS_1
"Aku tidak selingkuh, tidak pernah! Mengapa dia menuduhku selingkuh? Aku tidak pernah mengkhianatinya? Hanya mencintai Shania, hanya dia yang kucinta,"
"Jika sejak dulu kami saling mencintai dan benar sudah menikah, mengapa dia meminta cerai dariku? Kenapa?! Aku tidak ingat apapun, Tuhan!" Usahanya membenturkan kepalanya di pintu tidak menghasilkan apa-apa selain darah yang merembes dari balutan kasa yang masih membungkus dahinya.