Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Bagian 4


__ADS_3

Minggu kedua setelah Pradipta sadar dari komanya, Shania datang karena permintaan pria itu. Seperti biasa, Meida–mertua Shania–yang datang ke rumah besan untuk membujuk dan menceritakan keluhan putranya yang menangis meraung-raung supaya Meida bisa mendatangkan Shania atau dirinya sendiri yang akan pergi mengunjungi rumah kekasihnya itu.


"Shania, aku rindu," ucap pria itu mengenggam dan mengecup kedua tangan Shania dalam-dalam. Memejamkan matanya hanya untuk menyalurkan rasa rindu yang rasanya sudah lama terpendam di dalam dadanya.


"Aku sakit, tapi kamu baru ke sini? Sibuk di rumah sakit, ya?" Ujar pria itu, Shania hanya mengulum senyum sekilas.


Mendengar cerita mama mertua yang memberitahukan jika Pradipta mengalami amnesia karena pendarahan di bagian otak tengah dan dampak pasca operasi, itu sebabnya pria itu mengalami gagal fungsi otak terutama dalam mengingat beberapa scene terakhir hidupnya.


Pria itu mendongak, menatap wajah Shania dengan bibirnya yang menipis membentuk bulan sabit, "Nanti, jadi ya kita nonton?"


"Nonton apa?" Tanya Shania merasa heran.


"Konser JKT 48, sepertinya nanti di akhir Desember," kata pria itu yang terdengar melantur.


Shania mengernyitkan dahinya, jelas saat ini bukan bulan Desember. Konser girl band yang satu itu memang menjadi idaman Shania saat usia muda dan zaman sebelum menikah.


Sama seperti Shania yang aneh melihat tingkah suaminya, Pradipta juga aneh melihat penampilan Shania. Pria itu mengamati kekasihnya dari atas sampai bawah. Matanya menyipit, "Tumben pakai jilbab? Kemarin sukanya pakai tengtop atau you can see," komentar Pradipta pada penampilan kekasihnya yang terasa asing di matanya.


"Dan ini apa? Kamu kok, jadi tambah tembem, ya, hari ini?" Kata pria itu mencubit pipi kiri Shania.


Sungguh, di mata Pradipta, Shanianya tampak berbeda. Shania di hari kemarin selalu berpenampilan sexy, terbuka, dan tubuh kecilnya. Namun, hari ini Shanianya berpenampilan tertutup dengan balutan gamis dan jilbab yang menjuntai menutupi punggungnya. Padahal, Shania berpakaian tertutup beberapa bulan setelah menikah dengan pria itu dan tidak lain karena permintaan Pradipta sendiri.


Lagi, pria itu berkata, "apa kamu tahu, Shan, kalau aku sangat mendambakan kamu berpenampilan seperti ini. Kamu terlihat sangat cantik dan tambah cantik," puji pria itu.


Dulunya, Shania ingat betul jika pria itu mengatakan hal itu di hari pertama Shania menggunakan hijab. Namun, sekarang dia mendengarnya lagi, tetapi di waktu yang berbeda saat Pradipta lupa jika dia sudah menjadi istrinya sejak lama.


"Makan apa aja sih, sayang? Jadi, cantik plus chubby seperti ini. Makin gemas, deh!" Pipi wanita itu sampai memerah dan kepalanya bergerak ke kanan dan kiri karena cubitan di kedua pipinya.

__ADS_1


Shania yang sedang diperlakukan seperti itu, tiba-tiba menangis–teringat kenangan dulu saat pria itu melakukan hal yang sama di masa pacaran–dan membuat Pradipta ketakutan.


Wajah cerianya seketika surut dan gelisah, "Shania, auh. Maaf, sayang. Sakit, ya? Kamu kesakitan, ya, makanya nangis gitu?" Tanya pria itu mengelus-elus wajah kekasihnya; bekas cubitan.


"Sini-sini, biar kuelus. Jangan menangis, nanti langitnya mendung," kata pria itu membuat Shania menangis lebih deras lagi.


"Kok, tambah deres hujan air matanya? Masih sakit, ya?" Tanya Pradipta seraya meniup pipi kekasihnya, lalu mengecupnya sekilas.


"Cukup, tidak sakit," setelah sekian lama, barulah wanita itu mengeluarkan suaranya. Shania yang terkejut mendapat kecupan kecil itu, lantas menyingkirkan tangan dan menjauhkan wajah pria itu dari wajahnya.


"Maaf, Shan. Kamu marah?"


Shania menggeleng. Bukan karena rasa sakit di pipinya, bukan juga karena kecupan itu, tetapi rasa penyesalan; kerinduan; kesakitan yang dia rasakan di dalam hatinya. Wanita itu tidak menyangka jika sang suami akan bersikap seperti itu dan kembali bersikap di masa mudanya dulu, saat mereka masih berpacaran, saat pria itu belum menikahinya, dan saat ia belum menyelingkuhinya.


Shania memundurkan diri, menggeleng, lalu pergi dengan tangisan.


Pradipta tersentak dengan sikap wanitanya, dia mengernyit saat tubuh wanita itu menjauh darinya. "Ma, Shania mau kemana? Kenapa dia pergi dalam keadaan menangis? Aku membuat kesalahan, ya?" Ucap pria itu menggoyang-goyangkan tubuh Meida di atas ranjangnya. Kakinya yang semula menggantung di tepian ranjang, bergerak turun untuk mengejar Shania, tetapi dia tidak bisa berjalan dengan baik karena kondisinya belu pulih benar.


"Shania, kembalilah. Jangan marah, ayo, kita nonton konser, lusa. Aku janji," teriaknya sambil menangis seperti anak muda yang diputus cinta.


...🌾🌾🌾...


Tengah malam.


Dua orang wanita yang berbeda usia masih terjaga dan duduk di sofa kamar inap. Memandang ke arah yang sama pada tubuh seorang pasien pria yang terbaring dan sedang pulas dalam tidurnya.


Di dalam ruang rawat Pradipta, Shania menyandarkan kepalanya di bahu Meida. Menatap pria yang terbujur di atas ranjang bersprei biru muda itu.

__ADS_1


"Ma, kenapa Mas Dipta jadi seperti itu?" Tanya Shania dengan mata yang memanas karena air mata yang mengembung di kelompak matanya setelah melihat kondisi suaminya, pria yang penuh wibawa dan menjadi pengayomnya selama berumah tangga, kini memiliki sikap lain yang sama seperti dulu saat masih muda.


"Mama juga tidak tahu, Nak," tanggapan Meida sekalian mengelus kepala menantunya.


"Dia masih mengingat tentang konser, mengingat aku yang dulu, sikap dia yang kembali seperti saat kamu berpacaran dulu, Ma," tutur Shania.


"Tapi, yang sebenarnya Mas Dipta udah gak cinta sama Shania. Dia memiliki wanita lain, Ma," ujar Shania menangis mengingat kejadian perselingkuhan itu.


"Maaf, Ma. Shania gak mau diduakan, Ma, tapi gak bisa juga meninggalkan dia saat ini," kata Shania.


"Mama tahu, mama paham. Tapi, mama mohon sama Shania, kamu harus bertahan sementara sampai Dipta pulih. Keputusan bercerai ada di tangan kalian, tapi tunggu saat ingatannya kembali dan dia sadar sepenuhnya, Nak." Tutur Meida menggenggam tangan Shania dan membawanya di dalam dadanya.


Shania mengangguk, "tapi, ini sampai kapan, Ma?"


Hari-hari terus berganti, kesehatan Pradipta pun sudah semakin pulih, tetapi tidak dengan ingatannya. Hanya ada Shania dan masa lalunya.


"Ma, tapi Shania tidak janji untuk selamanya berada di samping Mas Dipta,"


Meida mengernyit saat genggaman tangannya dilepas perlahan dari tangan menantunya, "Kenapa?" Tanya ibu mertua itu.


Shania menggeleng pelan, "Shania tidak bisa dan tidak mau mengulang semuanya, Ma. Bagi Shania, kehidupan rumah tangga kami telah usai setelah Shania tahu Mas Dipta selingkuh. Itu janji kami berdua, Ma," tutur Shania dengan suara tercekat karena menahan tangisnya.


"Tolong bantu Shania melewati semua ini, Ma."


Namun, Meida menggeleng. "Tidak, Shan! Mama gak setuju, kalian belum berakhir. Tidak boleh berhenti di sini, semua ada jalan keluarnya!" Kata Meida dengan tegas, tapi tersampaikan dengan lembut.


Namun, sekuat apapun Shania menggenggam, serapat apapun dia menutup mata dan telinga, pada kenyataannya dia kembali diingatkan dan diperlihatkan secara nyata bahwa Pradipta mempunyai tanggungan di dalam perut wanita lain.

__ADS_1


Bagi, Shania, cintanya murni dan tidak bisa dibagi. Jika ada orang lain di dalam keluarga kecilnya, itu artinya cinta itu siap dikurangi apalagi saat dia tahu cintanya akan dibagi menjadi 3.


"Tidak, Ma. Shania tidak bisa, tidak sanggup. Sudah cukup."


__ADS_2