
"Tolong bantu aku, pertemukan aku dengan dia, Shan. Wanita yang menurutmu menjadi selingkuhanku, aku ingin tahu seperti apa dia," pinta Pradipta di malam itu sebelum pertemuan keduanya berakhir.
...🍀🍀🍀...
Bagi Shania, kisahnya dengan Pradipta telah berakhir sejak cintanya dikhianati. Lalu, urusan pria itu dengan orang ketiga yang dulu sengaja dia undang juga bukan menjadi urusannya. Jadi, Shania pikir dia akan membiarkan pria itu menyelesaikan sendiri kerumitan hidupnya itu karena ulahnya sendiri.
Sekarang, mereka sedang berbincang di sebuah kafe tempat yang sudah dijanjikan di hari-hari sebelumnya. Permintaan Pradipta yang menginginkan mengobrol berdua dengan Shania di luar ruangan untuk membahas siapa tokoh orang ketiga itu, barulah hari itu terwujud. Tidak mudah bagi Shania bepergian sembarangan apalagi untuk bertemu dengan Pradipta. Itu hal yang dilarang oleh orang tuanya.
Pertemuan dadakan itu akhirnya terlaksana, hasil dari beberapa percobaan Shania yang mencoba pergi dari rumah secara mengendap-endap supaya tidak diketahui orang-orang rumah. Syukurlah, hari itu dia lolos jua, ada kelegaan terasa saat derap langkah kakinya tidak terdengar oleh orang tuanya.
"Aku tidak punya banyak waktu," ucap Shania cuek.
"Namanya Amanda," lanjutnya langsung.
Pria yang duduk di depannya itu sedikit tersentak mendengar satu nama seorang wanita, menutup rapat-rapat matanya seraya mencoba memutar otak dan berusaha memunculkan sekilas ingatan tentang wanita bernama Amanda yang Shania sebutkan.
"Shan, aku tidak mengenalnya," ujarnya menggelengkan kepala.
"Sedikit pun aku tidak ingat. Sumpah, demi Tuhan, aku tidak mengenal dia. Kamu harus percaya jika aku tidak selingkuh," ujar Pradipta memohon dengan menggenggam tangan Shania supaya wanita itu percaya jika dia benar-benar itu kenal siapa wanita itu.
__ADS_1
Shania menarik mundur tangannya yang semula berada di atas meja, "Kamu mengalami amnesia, aku ingatkan jika kamu lupa, Mas. Dulu kamu tentu sangat mengenalnya, kamu yang mencumbunya di depan mata kepalaku sendiri. Bagaimana bisa sekarang kamu memintaku percaya jika kamu tidak mengenalnya?" Ujar Shania merutuk.
Pria itu menarik napas dalam-dalam, ia terlupa jika dirinya mengalami amnesia.
"Kamu bisa bantu aku menyelesaikan masalah ini?" Tanya Pradipta.
"Dengan cara apa?" Tanya Shania.
"Segala cara, apapun itu yang bisa membuatku mengingat semuanya," ucap pria itu.
Shania berpikir sejenak, lalu dia menggeleng, "Tidak bisa, karena aku tidak tahu butuh waktu berapa lama sampai kamu ingat semuanya," ujar Shania cuek.
"Bantu aku untuk mengingat semua, Shan. Siapa itu Amanda, apa yang telah kuperbuat padamu, aku benar-benar tidak ingat apapun kecuali ingatanku tentang kita yang saling mencintai," kata Pradipta dengan wajah memelasnya itu.
"Kamu berbohong. Dulunya aku kira jika kita memang seperti yang kamu bilang–saling mencintai, cinta yang kusangka cinta sehidup semati. Tapi, semuanya hancur setelah Mas sendiri yang membuatnya jadi seperti itu," kata Shania dengan tatapan tajamnya.
"Nggak, aku pasti tidak berniat sepicik itu. Itu pasti karena kekhilafan," kata pradipta masih teguh dengan dugaannya.
"Khilaf, tapi sampai kebablasan sampai-sampai menghamili orang," ketus Shania.
__ADS_1
Pria itu tetap menggeleng, "Jadi, Shan. Itu tidak mungkin! Dengan cara apa aku bisa memperbaiki semuanya sehingga bisa membuatmu kembali padaku dan kita bersama-sama seperti dulu?"
Shania menggeleng, tidak ada yang bisa dikatakan selain satu tuntutannya. "Ceraikan aku, Mas Dipta!" Ucap Shania yang memajukan wajahnya dan berkata dengan penuh penekanan.
"Nggak, kalau di masa lalu aku sudah menikahimu. Hal mustahil bagiku untuk melepaskanmu, tidak akan pernah," bantah pria itu.
"Itu berarti kamu egois. Kau ingin tahu mengapa aku sampai meminta cerai darimu? Mas mau tahu?" Tantang Shania.
"Ya, beritahu aku sekarang juga, Shania,"
"Oke. Biar kuberi tahu apa yang pernah kamu lakukan padaku, dengarkan baik-baik!" Ucap Shania dengan penuh penghayatan.
"Hari di mana aku melihatmu mencumbu dengan wanita lain, di saat itulah aku kehilangan janin di perutku. Anak kita, anak yang kita tunggu 8 tahun lamanya! Kamu! Kamu sendirilah yang telah membunuh anak dalam kandunganku. Kamu berhasil menghancurkan semua impianku untuk menjadi ibu! Denganmu yang lebih mementingkan dia daripada aku, istri sahmu, Mas," ucap Shania menuding pria itu dengan terisak.
Dadanya terasa sesak setelah dipaksa mengingat kembali kejadian itu.
"Satu-satunya jalan untukku bisa melupakan dan menghilangkan rasa sakit ini adalah perpisahan. Aku ingin pisah darimu. Silakan kau hidup dengan wanita selingkuhanmu itu dan bayi yang Mas hadirkan dari perbuatan zina kalian, Amanda mengakuinya sendiri di hadapanku."
"Dasar manusia-manusia biadab! Tidak berperasaan, sekarang lihat aku, Mas. Aku kurang apa di hidupmu? Kalau mas mengaku mencintaiku, harusnya mas tahu kalau di dalam hatiku cuma ada kamu. Kenapa kamu tega menghadirkan orang ketiga di antara kita dan menghancurkan kepercayaanku begitu saja?!" Ucap Shania dengan suara lirih sarat kepiluan, air matanya sudah berderai ramai-ramai bercucuran di pipi Shania. Dia menekan kuat-kuat dadanya yang seperti tertikam belati tajam menembus tulang rusuknya.
__ADS_1
"Aku tetap meminta cerai! Ini pertemuan kita yang terakhir, tolong jangan gangggu aku lagi. Permisi, Assalamualaikum!" Ujar Shania yang langsung bangkit dan berjalan cepat meninggalkan pria itu menyisakan sejuta pertanyaan.
"Ah, sial! Mengapa aku tidak ingat apapun!" Kesalnya seraya menjambak rambutnya sendiri dan mengacaknya karena frustrasi.