
"Setelah perceraian ini beres, Ayah akan merencanakan pertunanganmu dengan Hisyam," ujar ayah Shania yang berbahagia setiap kali anaknya itu akan melakukan serangkaian proses perceraian dengan menantu yang tidak diharapkannya sejak dulu.
...๐๐๐...
Pertama kali proses mediasi tidak dihadiri oleh pihak tergugat, yakni Pradipta. Berulang kali pihak pengadilan menghubungi pria itu, tetapi pihak sang pria geming. Dan ini adalah jadwal sesi mediasi yang kedua.
"Mas, datanglah. Ini kesempatan terakhir, katakan apa yang kamu mau di pengadilan nanti," Shania mengirimkan pesan kepada Pradipta meminta supaya pria itu datang.
Benar, ia datang. Namun, proses mediasi itu berjalan tidak sesuai harapan karena Pradipta tidak menghendaki perceraian itu dan meminta rujuk dan memberikan kesempatan pada pernikahan itu. Dengan segala pertimbangan, Shania pun menyetujui.
Wanita itu akan memberikan waktu pada Pradipta untuk memulihkan ingatannya karena dia berpikir bahwa tidak baik meminta cerai atau pergi saat suami dalam keadaan sakit. Dalam hal ini, Shania pikir amnesia yang diderita suaminya termasuk kondisi sakit.
Permintaan itu dikabulkan, tuntutan perceraian pun resmi dibatalkan. Namun, bukan berarti mereka akan menjalankan peran pasangan suami istri seperti sebelumnya. Keduanya masih berpisah rumah dan terhalang dinding pembatas restu orang tua Shania.
"Apa?! Kenapa bisa batal?" Ayahnya Shania memekik terkejut. Dia marah karena keputusan yang dibuat oleh Shania tentang dia yang menyetujui perjanjian rujuk.
"Ayah tidak setuju, Shania!" Ayahnya mengeram marah pada anak perempuannya itu.
"Ayah, beri Shania waktu sampai Mas Dipta sembuh, Shania berjanji akan menuruti semua permintaan ayah setelah dia ingat semuanya. Shania berjanji, karena Mas Dipta pasti akan mengingat kembali siapa wanita itu," Shania memohon dengan memeluk tubuh ayahnya. Wanita itu sangat paham jika ayahnya begitu peduli dan menginginkan yang terbaik untuknya.
__ADS_1
"Sampai kapan? Tidak ada yang tahu kapan dia sembuh, Shania. Kamu tahu kalau ayah hanya ingin kamu bahagia, kamu masih muda dan menikmati masa mudamu dengan pasangan yang baik, bertanggung jawab karena ayah tidak akan ada selamanya," ujar ayah Shania.
Membuat meta Shania membelalak menatap wajah ayahnya itu, "ayah bicara apa? Jangan seperti itu, Shania doakan supaya ayah selalu sehat dan panjang umur,"
"Makanya, tolong turuti ayah, Nak. Ini yang terbaik untukmu, ayah ingin melihat anak-anak ayah bahagia sampai kelak. Jangan seperti ini,"
"Ayah, tapi Shania meminta waktu. Selama 3 bulan, ya, 3 bulan. Jika dalam 3 bulan Shania gagal memulihkan ingatan Mas Dipta, mau tidak mau Shania akan pergi darinya. Shania tidak peduli dengan apapun. Tolong, hanya 3 bulan, Yah." Pinta Shania pada ayahnya.
Ayahnya mendesah, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya keras. "Baiklah, ayah memberi waktu hanya 3 bulan, setelah itu dia pulih atau tidak kamu harus meninggalkannya, janji?"
Shania mengangguk, "Iya, Shania berjanji," kata wanita itu mantap.
"Mas Dipta, aku hanya punya waktu 3 bulan untuk berada di sisimu. Aku akan membantumu pulih dari amnesiamu, setelah itu aku akan pergi dan kamu harus berjanji satu hal padaku," kata Shania.
"Berjanji apa?"
"Setelah waktu 3 bulan berakhir sejak hari ini, kamu harus berjanji untuk ikhlas melepaskanku. Kamu harus menceraikanku," kata Shania tegas. Wanita itu berwatak lemah lembut, tetapi ketegasan dan prinsip hidupnya menjadi pedoman di setiap ia melangkah.
Pradipta tersentak, "mengapa seperti itu?"
__ADS_1
"Aku hanya meminta hakku sebagai seorang istri. Diperbolehkan bagi istri untuk meminta cerai pada suami jika dia disakiti,"
Pradipta menunjukkan wajah memelasnya, dia mengenggam jemari Shania, "Shan, tolong maafkan aku. Jika aku pernah menyakitimu, aku minta maaf," pintanya penuh penyesalan.
Namun, penyesalan tinggalah penyesalan. Bagi Shania, kepercayaan itu mahal sesuatu hal yang tidak dapat dibayar dengan nilai tukar apapun.
Wanita itu dengan sayang menggelengkan kepala, "hanya selama 3 bulan, Mas. Kurasa waktu itu cukup bagimu untuk berada di sisiku. Semoga dan InsyaAllah, semoga Allah mengembalikan ingatanmu supaya kamu bisa mengingat siapa wanita yang dicintaimu dulu. Yang pasti cintamu bukan lagi aku," kata Shania.
Shania menarik tangannya yabg berada di genggaman Pradipta, "Berjanjilah padaku untuk yang satu itu."
"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi tentang hubungan kita, Shan?" Rengek Pradipta persis saat di usia muda. Percayalah, Pradipta yang ini berbeda jauh dengan sosok Pradipta yang sudah menikah dengan Shania 8 tahun lamanya.
Untuk yang kali ini, pria itu seperti anak usia remaja lanjut yang membujuk pacarnya saat marah.
"Jika tidak mau, maka tidak ada aku sama sekali. Aku akan pergi jauh, sejauh mungkin sampai kau sulit menemukanku. Pilihannya hanya itu, 3 bulan bersamaku atau tidak sama sekali," ucap Shania tegas.
Mendesah keras, pria itu pasrah.
"Baiklah, 3 bulan. Bagaimana jika dalam 3 bulan, aku belum juga pulih dari hilang ingatan? Apa bisa diperpanjang?"
__ADS_1
Shania menggeleng, tatapannya lurus ke depan, "ingat tidak ingat, aku akan pergi. Aku sudah berjanji pada ayah, tidak mungkin kuingkari," lugas Shania berkata.