
Bagian Shania Citra.
Sebulan berlalu.
Sesungguhnya, demi Tuhan aku tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu seumur hidupku. Bahkan, berita kecelakaannya yang sampai disiarkan di beberapa stasiun televisi dan media internet, tidak lekas membuatku merasakan iba pada kondisinya.
Mungkin hatiku yang telah mati dan mengeras, tepat setelah aku mengetahui pria itu berkhianat dan secara tidak langsung membunuh anakku. Rasa cinta yang dulu membara seperti api asmara remaja, sepertinya menguap begitu saja bersama dengan rasa percayaku yang berada di level tertinggi padanya telah dia hancurkan dalam sekejapan mata.
Untuk kali ini dan hanya hari ini aku akan datang menjenguknya. Semoga tidak ada lagi yang memohon padaku supaya datang menemuinya untuk kedua atau ketiga kalinya. Bukan karena dendam, hanya saja rasa sakit di hati ini tidak bisa dihilangkan semudah itu. Untuk itulah, sungguh, aku pun muak dengan perasaanku. Mengapa Tuhan harus menciptakan 'sakit hati' yang ternyata rasanya sesakit ini?
"Ayo, Nak. Sejak semalam, Dipta hanya menyebut namamu saja. Mama mohon padamu. Dengan ketulusan hati, tolong bicaralah kepadanya," ujar mama Meida–mertuaku. Karena mamalah, aku ada di sini sekarang.
Sudah lama mama mertua membujukku untuk datang menjenguk anaknya, tetapi aku selalu menolak. Tidak mungkin aku menolak lagi permintaan mama mertua yang sampai berlutut di depanku, aku merasa menjadi manusia rendah jika diperlakukan seperti itu.
Memang aku mempunyai hak untuk mengambil keputusan hidupku. Apakah aku akan menemui, memaafkan, atau menghukum seseorang. Namun, manusia bukan makhluk yang sempurna. Untuk itu, sebisa mungkin aku memaafkan kesalahannya.
__ADS_1
Melepaskan; memutuskan hubungan; berusaha melupakan, itulah caraku memaafkan. Mama Meida–mertuaku itu–tidak berhak berlutut kepadaku karena aku tidak pantas untuk disujudi karena kami sama-sama manusia yang tidak sempurna.
"Mama, Shania hanya akan menemui Mas Dipta sekali. Minta maaf, jika kehadiran Shania tidak membuat Mas Dipta bangun dari komanya," ujarku pada mama mertua di depan ruang ICU.
"Mama yakin kamu bisa, mama percaya padamu. Asalkan kita sudah berusaha, hasilnya serahkan pada Yang Kuasa, Nak," ujar mama mertuaku dengan derai air matanya.
Kuusap air mata Mama Meida, aku tahu bagaimana Mama Meida sangat menyayangi anak sulungnya itu. Sejak awal mengenal pria itu, aku langsung terpana dengan sikap keluarganya. Dan, begitu aku menjadi menantunya, pun kasih sayang Mama Meida sama besarnya kepadaku–entah siapa pun yang menjadi menantunya itu.
Sebelum aku masuk, seorang wanita berperut agak buncit keluar dari dalam ruangan itu. Kami bersitatap, satu yang kuyakini jika dia adalah wanita yang sama saat hari terakhir aku melihat suamiku membopong tubuhnya.
Tidak mempunyai urusan dengan wanita di depanku yang sejenak menunduk untuk menyapaku, aku pun langsung masuk ke dalam ruangan Mas Dipta. Barulah di sini aku merasa iba dengan kondisinya. Berbaring tidak berdaya dengan banyak selang-selang yang membantu memperpanjang hidupnya.
Hampir semua yang kuingat darinya–Mas Dipta–adalah kasih sayangnya, cinta kasihnya, lemah lembutnya, dia sosok sandaranku di dunia, dan imam yang baik dalam kehidupan rumah tangga kami. Namun, semuanya seakan tercoreng karena perselingkuhannya sampai dia memiliki anak dari wanita lain. Lantas, sejak hari itu aku berpikir, siapakah manusia yang bisa kupercaya di dunia ini?
Kulihat dadanya bergerak naik turun dengan pelan yang artinya napasnya lemah. Aku membungkukkan badanku, mendekatkan wajahku ke telinganya.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Allahumma sali ala sayyidinna muhammad. Mas Dipta, bisa dengar suaraku? Ini aku istrimu, Shania. Bagaimana kabarmu? Maaf, aku baru datang menjengukmu," ujarku perlahan di telinganya.
Satu kedipan mata dapat kuamati darinya, kemungkinan dia mendengar suaraku. Kuraih jemarinya yang dingin dan pucat itu, kugenggam jemarinya dalam kedua telapak tanganku menyalurkan sedikit kehangatan yang kupunya.
"Yang kutahu, kamu adalah pria yang kuat dan optimistis. Jika boleh kuminta, tolong jadilah orang yang sekuat itu dan lawan rasa sakitmu. Bangun dan temuilah orang-orang yang kamu sayangi, mereka telah menunggumu, Mas."
Aku mengusap lembut pipinya yang halus dengan tangan kananku, "bangunlah dan peluk mamamu karena dia yang paling sayang padamu," aku menjeda kalimatku sesaat. Perlahan, asalkan dia bisa menerima kalimat-kalimatku.
"Bangunlah dan jika kamu rindu padaku, maka temui aku sekarang juga," ucapku dengan dada yang terasa sesak. Ingat dengannya yang selalu berkata rindu walau terpisah selama sehari saja. Jika memang rindunya itu benar, maka waktu sebulan ini adalah yang terberat baginya menahan rindu bertemu denganku.
"Jangan mengharapkan aku akan datang lagi besok hari karena aku hanya akan kemari untuk sekali ini, bangunlah," ujarku.
Beberapa menit aku diam, menunggu responsnya. Kulihat detak jantung di layar kardiograf bergerak naik pesat dan dadanya bergerak naik turun lebih dalam. Apakah itu respons baik?
Selanjutnya, kurasakan tangan yang kugenggam menggenggam balik jemariku dengan bertenaga. Lantas, kulihat wajahnya. Matanya bergerak, lalu perlahan terbuka. Senyum kuulas, usahaku berhasil!
__ADS_1