Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Bagian 8


__ADS_3

Kehadiran Hisyam menjadi lebih sering ke kediaman orang tua Shania. Bukan karena pria itu berinisiatif datang dengan keinginannya sendiri, tetapi atas perintah Ayah Shania yang mengundang pria itu cuma-cuma meski hanya untuk menemaninya minum teh atau mengobrol isu politik dan bakal calon presiden di pemilu mendatang.


Alih-alih membicarakan hal penting, Ayah Shania kerap kali meminta putrinya menggantikan dirinya untuk menemani tamu itu mengobrol. Terbesit di benak Shania jika sang ayah sepertinya sedang mencarikan calon suami untuknya yang sebentar lagi mendapat predikat janda muda. Untuk itulah, ayahnya melakukan cara supaya Shania melakukan pendekatan dengan pria lain meski itu terlalu awal bagi wanita yang sedang melawan rasa traumanya.


Shania tahu, hatinya selalu berkata jika hal itu tidaklah benar. Meskipun nantinya akan bercerai, tetapi saat ini dia masih menjadi seorang istri dari seorang pria yang menjadi suaminya secara sah.


"Ya, baiklah. Ayah tinggal dulu sebentar, ya," pamit Ayah Shania meninggalkan kedua manusia dewasa itu di ruang tamu.


Shania lebih banyak menunduk, saling malu untuk menentukan siapa yang akan memulai perbincangan.


"Mas,"


"Shan," panggil keduanya bersamaan.


"Baiklah, Mas, dulu." Ucap Shania mempersilakan tamunya menyampaikan sesuatu yang sempat terjeda."


"Oh, baiklah. Hanya ingin memberitahu soal gugatan perceraian itu, kalau nanti akan dilakukan mediasi 1 pada lusa mendatang," ujar Hisyam memberitahu.


"Baik, Mas, terima kasih. Mas Hisyam gak keberatan, ya, kalau sering disuruh mampir ke sini sama Ayah? Maksudku, mungkin lain kali Mas Hisyam bisa menolak permintaam ayah kalau memang tidak bisa, jangan dipaksakan." tutur Shania dengan lemah lembut, tidak ingin membuat lawan bicaranya tersinggung.


"Tidak, kok, Shan. Senang hati kalau ada undangan datang, jadi, ada alasan untuk berkunjung," kata Hisyam dengan cengengesannya.

__ADS_1


"Ah? Alasan apa maksudnya?" Tanya Shania tidak paham.


"Tidak, lupakan saja. Oh, iya besok free, tidak?"


Shania mengangguk, sejak menikah dia memang jadi wanita yang free dan selalu free, bahkan pekerjaan rumah pun free karena Pradipta tidak pernah mengizinkan istrinya itu memegang pekerjaan rumah yang dapat melelahkan.


Tapi, apalah arti semua kebaikan dan perhatian kalau ternyata tersimpan niat keburukan di sebaliknya.


Jengah memikirkan suaminya yang sepertinya sudah benar-benar melupakannya, Shania mengangguk sebagai jawaban untuk Hisyam.


"Temani aku memilih hadiah untuk kado ulang tahun rekanku, ya?" Ajak Hisyam pada wanita di depannya.


"Kenapa harus sama aku, Mas?" Tanya Shania.


"Bagaimana, bisa?" Tanya Hisyam memastikan.


"Hem, nanti aku izin ayah dan ibu dulu, ya, Mas," ujar Shania karena bimbang memberikan keputusan yang cukup sulit menurutnya itu.


Dua jam kedua insan berlainan jenis itu memilih untuk lebih banyak diam daripada bahas sana bahas sini yang sama sekali tidak Shania sukai karena dirinya yang sedang mencoba istiqamah sebagai muslimah yang taat dan dalam proses berhijrahnya.


Hisyam pun tahu sampai mana batasan-batasan atas sikapnya kepada wanita berparas ayu dan anggun dengan balutan jilbabnya yang selalu menatapnya dengan sayu penuh kedamaian. Pria mana yang akan menolak jika ditawarkan menjadi suaminya?

__ADS_1


Sepertinya Hisyam yang langsung mendapat lampu hijau dari orang tua si tuan putri, dia akui jika Shania memanglah wanita yang cantik, berakhlak, dan kepribadiannya tidak perlu diragukan lagi. Meskipun nantinya dia mendapati wanita itu sudah dalam status janda, tapi tidak masalah. Bahkan, meneladani rasulullah yang menikahi Khadijah radhiyallahu anha yang berstatus janda adalah hal yang mulia, tidak ada bedanya.


Pernah tempo hari saat kali pertama Pak Rahman–ayah Shania meminta bantuannya untuk mengurus masalah perceraian putrinya. Dari ruang tamu, Pak Rahman menanyakan sesuatu pada Hisyam, "apakah kamu melihat keburukan pada putriku?" Tanya Pak Rahman saat Shania berjalan mendekat untuk menyajikan minuman untuk tamunya atas permintaan ayahanda tercinta.


Hisyam pun menggeleng, "tidak ada, Pak. Putri Anda wanita yang baik," jawan Hisyam seraya memandangi Shania yang berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kembali ke dapur.


"Itulah sebabnya, aku berniat mengenalkan dia padamu. Suaminya yang buta itu tidak bisa melihat betapa berharganya putriku yang baik bak bidadari itu," kata Pak Rahman.


Untuk itu, setelah mengetahui maksud dari Pak Rahma, maka setiap beliau mengundangnya untuk datang, Hisyam tidak pernah menolak. Malah berterima kasih dan selalu menyempatkan waktu.


"Ayah diperbolehkan karena kamu sudah dewasa. Ayah percaya kamu bisa menjaga diri," jawab ayahnya saat Shania meminta izin menemani Hisyam membeli kado untuk temannya.


Padahal dalam hati wanita itu, berharap jika Ayahnya akan melarang, sekeras saat beliau melarang dirinya bertemu dengan suaminya.


"Pergilah, jangan sampai larut malam. Nanti Ayah titipkan pesan pada Hisyam supaya menjaga kamu baik-baik," kata ayahnya menambahkan.


Malam hari Shania dibuat gelisah karena esok akan pergi bersama pria lain tanpa kepentingan yang pasti. Menjelang tidur, ponselnya berbunyi tanpa satu pesan masuk. Diperiksanya, ternyata tertulis di layar notifikasi 'My Husband'


"Shania, ini aku Pradipta; suamimu. Benar, kan, ini suamimu? Kenapa kamu tidak berada di sampingku sebagai istri?"


"Aku sangat merindukanmu, bisa kita bertemu? Bisa kita berbicara? Aku hampir gila jika sehari saja tidak melihatmu, Shania," ujar suaminya itu.

__ADS_1


"Boleh aku datang sekarang? Kamu keluarlah, sekarang aku berada di luar gerbang rumahmu," satu pesan terakhir yang dibaca olehnya.


__ADS_2