
Di hari yang menjelang malam itu, Shania tertegun dengan pesan paling akhir dari suaminya yang mengatakan jika dirinya berada di luar gerbang rumah Shania. Wanita itu sontak mengamati pemandangan di luar dari balik kaca jendelanya. Dia menelisik ke segala sisi gerbang rumahnya, benarkah ada pria itu di sana?
Terlihat seorang pria berbaju biru muda. Dari balkon kamarnya, Shania dapat menjumpai sosoknya yang sedang berdiri membelakangi gerbang rumahnya. Meski tidak jelas, dia hafal betul siapa pemilik punggung tegap itu.
Tanpa sepengetahuan penghuni rumah, di waktu menjelang magrib itu Shania akhirnya berjalan mengendap-endap menuju depan rumah untuk menemui pria yang sempat menjadi belahan jiwanya–Pradipta.
Begitu gembok gerbang dibuka, suara derit besi yang beradu mengalihkan perhatian pria yang membelakangi dirinya.
"Shan," panggilnya setelah memutar badan dan dengan senyum semringah. Pria itu sudah siap untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dengan erat dan rasanya tidak akan melepaskannya lagi untuk selamanya.
Melihat senyum pria di depannya yang terpancar secerah itu, jujur saja Shania merindukan sosok pria yang pernah mengisi seluruh hatinya, pria yang menjadi belahan jiwanya, pria yang sempurna di mata Shania. Jika boleh berkata, Shania akan mengungkapkan kerinduannya dan memeluk pria itu sekarang juga dan berkata, 'aku rindu'. Namun, kalimat itu hanya dapat tercetus di dalam pikirannya tanpa bisa diungkapkan.
"Sayang, aku rindu kamu," giliran Pradipta yang mengatakan hal itu. Satu kalimat yang sering Shania dengar bahkan hampir setiap hari dia mengatakan itu sepulang bekerja. Jika di hari biasanya Shania akan menjawab, 'aku juga rindu kamu, Mas," tetapi kali ini berbeda. Diam–sama sekali tidak ada respons dari wanita berjilbab biru itu.
Peadipta sudah siap merentangkan tangannya, memeluk kekasihnya sama persis seperti biasanya. Namun, kali ini langkah Shania mundur. Dia menghindar dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Pradipta yang heran pada sang pacar–dalam ingatannya.
"Bukankah kamu selalu suka saat berada di pelukanku, Shan?" Tanya Pradipta yang mengingat salah satu hal kesukaan Shania yang dulu.
Lagi-lagi wanita berjilbab biru muda itu menggelengkan kepalanya, "itu dulu, tapi sekarang kamu menderita–" ujarnya Shania yang akan memberi tahu.
"Amnesia. Aku mengalami kecelakaan dan aku amnesia, begitu yang kamu dan orang-orang katakan padamu," sergah Pradipta.
Pradipta paham, dirinya yang menderita amnesia mau tidak mau harus mengerti apa yang disampaikan Shania.
"Baiklah. Tapi, Shan, aku minta maaf jika memang berbuat salah padamu. Kata orang, kita sudah menikah, kan? Kalau seperti itu, aku pasti jadi orang yang paling bahagia sedunia. Meski saat ini, akh tidak kuingat apapun tentang pernikahan kita."
Shania menggeleng, "tidak, kita tidak bahagia. Kita akan bercerai," ujar Shania menahan dada pria itu supaya tidak melangkah lebih dekat lagi.
"Tidak mungkin, aku begitu mencintaimu sampai saat ini, sampai detik ini. Tidak mungkin aku akan menceraikanmu. Pasti ada salah paham di sini," kata Pradipta tetap teguh dalam pendiriannya.
__ADS_1
"Kamu tidak mencintaiku lagi, kamu menduakanku, Mas. Jadi, pergilah dan sampai bertemu di pengadilan," ujar Shania seraya menutup pintu gerbang itu lagi.
"Tidak, Shan. Tunggu!" Ujar pria itu menahan ujung pintu gerbang sebelum dikunci.
Shania menghentikan pergerakannya, "aku tidak pernah menduakan kamu. Sekali pun sampai hari ini, aku tidak pernah mempunyai niatan itu," ujar pria itu bersungguh-sungguh.
"Pada kenyataanya, kamu melakukan itu. Kamu bahkan akan mempunyai anak dari wanita lain setelah menikah denganku," tutur Shania dengan nada bicara yang mulai bercampur isak tangisnya.
"Tidak! Tidak, Shan. Itu tidak mungkin," Pradipta mencoba mengelak, berusaha supaya wanita di depannya itu percaya dan melihat sebesar apa cinta pria itu padanya.
"Tapi, itu benar-benar terjadi!" Pekik Shania, membuat Pradipta memundurkan tubuhnya, Seumur hidup dalam ingatannya, kekasihnya itu tidak pernah sekali pun menaikan nada bicaranya. Namub, hari ini berbeda, dia merasa sedih membuat Shanianya menangis dan meneriaki dirinya.
"Shan, maaf kalau memang aku pernah berbuat salah padamu. Aku mungkin melupakan hal itu karena ku pun tidak tahu apa yang terjadi padaku."
"Tapi, Shania, tolong jangan meminta cerai dariku jika memang kita sudah menikah. Karena aku akan menjadi orang tersial di dunia jika berpisah denganmu. Jangan, Shania, jangan lakukan itu," pinta Pradipta memohon-mohon.
__ADS_1
Namun, Shania tetap menggeleng.
"Baiklah. Beri aku waktu untuk mengingat semua terlebih dulu, sampai aku sadar apa yang telah aku lakukan sampai kau semarah ini padaku. Setelah ingatanku pulih dan aku terbukti berbuat seleweng itu, maka aku siap melepaskanmu. Aku janji! Tolong, beri aku waktu mengingat semua, Shan. Dan aku mohon, tetaplah berada di sisiku, Shania," ucap Pradipta menggenggam tangan Shania, kali ini tidak ada penolakan dari wanita itu.