Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Menyatakan Perang


__ADS_3

Shania kehilangan satu kekuatannya, sedangkan usahanya untuk menyembuhkan ingatan suaminya masih harus berlanjut sampai ingatan pria itu benar-benar pulih.


Hari ini Pradipta tidak datang ke rumahnya, Shania merasa kehilangan. Biasanya setiap pagi selalu ada yang datang ke rumahnya atau mengetuk jendela kamarnya. Hari ini benar-benar sepi.


Wanita itu turun dari lantai dua rumahnya. Di tangga dia melihat ibunya melintas membawa polybag, "Ibu, apa tidak ada yang datang?"


"Siapa?" Tanya ibunya.


"..." Shania menggeleng.


"Maksudmu Pradipta, suamimu?" Tanya Ibunya dengan nada menggoda.


Shania mengerjapkan mata berkali-kali, dia merasa malu karena ibunya mengetahui maksud dirinya yang menanyakan kedatangan suaminya.


"Apa sekarang kamu mulai merindukannya, Nak?" Tanya ibunya.


"Ibu, mana mungkin?" Shania masih mengelak, dia tidak mau melupakan rasa sakit hatinya yang kini masih membekas.


"Mana mungkin aku rindu sama dia?" Ujarnya pada sendiri. Namun, dia tetap melangkah pergi, mengendarai mobilnya dan menuju ke suatu tempat.


Meski sebenarnya dia tidak tahu akan pergi kemana, tetapi mobil yang dikemudikannya berhenti di pelataran rumah mertuanya.


Emosinya memuncak saat dia tengah memarkirkan mobil di sebuah pelataran luas dan sudah disambut dengan pemandangan yang tidak enak dipandang.


Amanda, wanita itu sedang duduk di bangku taman dan bermain sepasang burung dara dengan seorang pria yang tidak lain adalah suaminya.


Bagaimana hati Shania tidak tersulut, hari ini dia menantikan kedatangan pria itu di rumahnya. Takut terjadi sesuatu yang mengganggu kesehatan karena konflik kecil kemarin, malah dia sedang bermain burung dengan wanita lain.


"Benar kedatanganku kemari," ucap Shania dengan geram. Dia memukul setir kemudinya.


"Ternyata kau malah memilih untuk bersaing, ya?" Shania yang geram menekan kencang klakson mobilnya.


Bunyi klakson yang melengking dan panjang membuat mereka terkejut dan sepasang burung dara itu terbang berpindah tempat.


"Shania?" Pria itu yang menyadari siapa orang di dalam mobil itu lantas berjalan mendekat.


Pradipta mengetuk kaca jendela mobil Shania, wanita itu menurunkan kaca jendelanya.

__ADS_1


"Apa kabar, Mas? Amanda ada di sini?" Tanya Shania dengan wajah yang biasa saja.


"Iya, dia menginap semalam," jawab suaminya itu jujur.


Menginap? Kenapa bisa-bisanya dia menginap? Apa dia sudah bermain sejauh itu?


"Mas, bisa kita bicara?" Tanya Shania.


"Kemana? Ayo masuklah ke rumah," ajal Pradipta.


Di sana, Mama Meida sedang berbincang dengan Amanda dengan senyum dan tawa. Lalu Amanda berteriak, "Dipta, ayo, Mama mengajak kita makan siang bersama," ujar Amanda dari kejauhan.


"Ayo, Shania, kita makan bersama?" Ajak Pradipta.


Di saat itu, Shania ingin menangis. Matanya terasa panas dan sudah berlapis air mata yang siap menetes.


Kamu tidak lagi memanggilku 'Shan-Shan', secepat itu kamu melupakan aku, Mas? Kamu bahkan bukan kamu yang dulu.


Shania menuruti ajakan pria itu, dia turun dan duduk di ruang makan rumah mertuanya.


Pradipta yang duduk diampit oleh Amanda dan Mama Meida, sedangkan Shania duduk di seberang mereka seorang diri.


Shania diam. Semakin wanita itu diam, maka pemandangan di depannya semakin membuatnya tidak keruan. Amanda yang lebih banyak tertawa karena mama Meida dan Pradipta bermain dengan bayi di dalam perut Amanda yang sudah ada pergerakan seperti menendang samar-samar.


Bahkan Shania merasa terpukul saat Pradipta–suaminya itu menempelkan telinganya di perut Amanda. Perhatian yang tidak pernah Shania dapatkan saat dia hamil dulu dan saat Pradipta sehat dahulu.


Kamu sangat licik, Amanda. Bahkan di keadaan tidak sehatnya, kamu masih bisa mengambil hatinya. Wanita ular!


Tidak ada yang memedulikan keberadaanya, dentingan bunyi sendok dan garpu yang sengaja dia timbulkan tidak berpengaruh pada mereka.


"Ekhem!" Shania berdehem.


"Oh, ya, kenapa Shania? Pelan-pelan kalau makan," ucap Pradipta yang khawatir dan menuangkan air putih dan memberikannya pada Shania.


"Aku sudah selesai makan, aku mau pamit pulang," ujar Shania lemah.


"Pulang? Cepat sekali?" Tanya Pradipta mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Hust, biarlah, mungkin Shania ada kepentingan lain," ujar Mama Meida mengelus bahu putranya itu untuk kembali duduk.


"Iya, aku pamit pulang dulu ya, Mas, Mama?" Pamit Shania.


Dia ingin segera pergi dari rumah itu, berjalan cepat keluar dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, dia menangis tersedu-sedu.


Tok tok tok.


"Kak Shania, Kak Shania?" Seorang wanita mengetuk-ketuk kaca jendela Shania.


"Kak, tolong buka jendelanya," ucap perempuan itu. Dia Hasna, adik ipar Shania.


Shania menurunkan jendela mobilnya, "Kak, aku percaya sama Kak Shania. Aku akan tetap berada di pihak Kakak. Amanda, wanita itu bukan wanita baik untuk Kak Dipta, hanya kakaklah orangnya," ujar Hasna seakan menggantikan semangatku yang sempat hilang.


"Kak, tetap semangat untuk kesembuhan Kak Dipta ya kak. Aku sangat yakin hanya kakak yang mampu mengembalikan semuanya," ujar Hasna.


Shania mengangguk-angguk, wanita itu memegang lengan adik iparnya, "bisa kita bicara, Na?" Ajak Shania yang diangguki oleh Hasna.


Di kafe dekat rumah mertua Shania, wanita itu menjelaskan segala isi hatinya.


"Bukannya aku berharap Mas Dipta kembali padaku atau aku ingin menguasai hidupnya, bukan, Na. Aku hanya ingin dia mengingat atas apa yang sudah dia lakukan padaku dan calon anaknya."


"Aku ingin dia kembali ingat sepenuhnya karena aku ingin dia tahu bahwa betapa tersakitinya aku yang kehilangan anakku dan termasuk dirinya. Namun, kenapa harus ada Amanda yang ada diingatannya? Mungkin tidak apa jika dia tidak mengingat Amanda atau jika dia sama sekali tidak mengingatku, itu lebih baik dan mudah bagiku meinggalkannya. Asalkan apa yang dia ingat tentangku bukan hanya sebagian saja, itu sangat tanggung," jelas Shania.


Hal yang menyulitkan bagi Shania karena yang tidak bisa meninggalkan Pradipta dengan sebagian ingatannya saja, karena yang pria itu ingat tentang Shania yang dulu, yang cinta mati padanya bukan Shania yang telah disakiti dan dikhinatinya. Shania tidak bisa meninggalkan hal yang dirasa tanggung itu.


"Lalu, apakah Amanda mengambil kesempatan ini, Kak?"


"Aku rasa begitu," jawab Shania.


"Kalau begitu, ayo, kita nyatakan bersaing dengannya?!" Ajak Hasna menggebu-gebu.


"Na?"


"Bagiku, kakak iparku hanyalah kamu. Hanya kamu dan tidak ada penggantinya atau tidak usah sama sekali, okey?!" Hasnya berujar seraya menangkup wajah Shania dalam ke dua telapak tangannya.


"OKEY!" Shania berseru.

__ADS_1


Perjuangan dimulai!


__ADS_2