Kembali Mencinta Pasca Amnesia

Kembali Mencinta Pasca Amnesia
Bagian 6


__ADS_3

Kesehatan suaminya secara umum telah pulih. Beberapa hari lalu, Pradipta sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan perawatan lanjutan dapat dilakukan dengan kontrol rutin saja dan terapi.


Dia kembali tinggal di rumah orang tuanya. Namun, itu menjadi ujian bagi Shania karena selama itu juga dia berusaha untuk bisa berada di sisinya–tidak lain hanya untuk menepati janjinya pada sang mertua. Akan tetapi, hal itu terhalang dengan oleh izin orang tuanya.


"Kamu mau kemana, Shania?" Suara berat seorang pria berusia akhir 50 tahunan berhasil menghentikan langkah Shania di ambang pintu.


"Kalau niatmu untuk menemui pria itu, ayah tidak diizinkan kamu pergi," ujar pria tersebut.


Shania memutar tubuhnya, "Tapi, Mas Dipta sedang sakit, Ayah," bantahnya, meski dengan nada lembut pada sang ayah.


"Lebih sakit mana dibandingkan seorang ayah yang mendapati putrinya disakiti pria lain, Shan?" Untuk yang itu Shania tidak bisa lagi melawan. Bagaimana pun juga, ayahnya adalah pria terbaik di hidupnya.


Shania berjalan menghampiri ayahnya, memeluk tubuh pria itu. Di dalam dekapan itu, ayahnya berujar, "Setelah kamu diselingkuhi, apa kamu masih menganggap dia pria yang baik? Apa kamu masih pantas memedulikannya, Shania?"


Dengan kerendahan hatinya tanpa bermaksud melawan ucapan ayahnya, Shania menyampaikan kegundahan hatinya, "Tapi, Mas Dipta masih suami Shania, Yah," kata Shania mengungkapkan apa yang menjadi kebimbangannya.


"Setelah dulu ayah peringatkan untuk tidak bersamanya, lalu sekarang apakah anak ayah ini akan tetap membantah? Ingin kembali bersamanya dan kemungkinan besar akan semakin tersakiti lagi olehnya?"


Shania menggeleng kuat-kuat, luka parah di dalam hatinya akibat perselingkuhan yang dia lihat di depan mata masih menyisakan sakit yang teramat sangat. Shania teringat betul rinci kejadian itu dan yang paling menyakitkan adalah saat calon bayinya pergi, pria itu malah mengabaikan dan sama sekali tidak peduli.


"Hanya ayah yang tulus pada putrinya. Ayah hanya menitipkan putrinya pada seorang pria yang dipercaya menjadi suami dari anaknya. Jika ternyata pria itu terbukti tidak becus menjaga titipannya, maka seorang ayah berhak mengambil kembali putrinya," kata Ayah Shania.


"Shania percaya sama ayah?" Tanya pria itu mengangat wajah anaknya yang mendesak di dadanya.


Wanita itu memgangguk, "Hanya ayah pria terhebat di dunia ini, sekarang Shania hanya percaya sama Ayah."


"Maka menurutlah, buatlah gugatan perceraian dan ajukan ke pengadilan. Ayah akan selalu bersamamu, tidak akan ayah izinkan dia datang lagi ke hidupmu," kata Ayahnya tegas.


Di tempat lain.


Beberapa hari setelah kepulangannya, Pradipta tidak lagi melihat wajah kekasihnya. Ditunggu-tunggu dengan bersabar pun tidak kunjung datang, padahal masih banyak pertanyaan yang terpendam di kepalanya setelah mendengar cerita dari Reno dan Shania tempo hari, pria itu masih terus kepikiran karena dalam ingatannya seolah tidak pernah melakukan semua hal itu dan terasa asing di ingatannya.

__ADS_1


"Ma, dimana rumah Shania?" Tanya dia pada ibunya, memutuskan untuk datang ke rumah kekasihnya. Namun sayang, dia melupakan rumah kekasihnya yang memang pada kenyataannya sudah sangat lama tidak lagi menyambangi rumah mertuanya setelah pernikahannya dengan Shania. Sejak awal pernikahan, memang hubungan antara menantu pria dan mertuanya itu tidak baik.


"Mau apa?" Tanya Meida.


"Main," jawab putranya singkat. Di pikirannya, hanya teringat bagaimana mengapeli pacar tercintanya dulu.


"Ma," panggilnya pada Meida yang sempat tidak mengacuhkan pertanyaan terakhirnya.


"Hem?"


Lantas, anak itu bangkit dari kursinya dan mendekat pada ibunya yang sedang menyiram tanaman mawar merah di teras, "Ma, apa benar aku amnesia?"


Meida sedikit terkejut, tetapi dengan anggukan ragu dia memberikan jawaban yang artinya mengiyakan.


Sedikit khawatir dengan pertanyaan itu, apakah itu terlalu cepat dia ketahui atau tidak. Namun, Meida mengentahkan kekhawatirannya "Bagaimanapun juga, anak ini akan segera tahu yang terjadi padanya," ujar Meida dalam batinnya.


"Dan apa benar kalau aku sudah menikah dengan Shania?"


"Iya atau tidak, Ma?"


...🌾🌾🌾...


Pada akhirnya, Meida menunjukkan dimana sekarang Shania berada. Lantas, pria itu mendatangi tempat yang menjadi kediaman kekasihnya.


Suara bel berulang kali dia tekan di pintu gerbang utama rumah orang tua Shania. Di cuaca yang terik itu, bahkan keringat yang mengucur membasahi tubuhnya tidak membuatnya pantang dan pergi sebelum bertemu dengan kekasihnya.


"Shania, permisi!" Terus saja pria itu mengatakan hal yang sama dan menekan bel berulang kali.


Di dalam rumah Shania. Dia dan kedua orang tuanya berdiri di dekat jendela, mengamati pria yang mondar-mandir dan terus berada di luar gerbang rumahnya sejak tadi.


"Biarkan saja dia di sana, kalau lelah dia akan pergi dengan sendirinya. Bu, matikan sambungan belnya supaya tidak berisik," kata Ayah memerintahkan Ibu yang berada di dekatnya. Memutuskan sambungan listrik supaya bel tidak berbunyi sehingga usaha Pradipta di luar sia-sia.

__ADS_1


Ssbenarnya, Shania tidak tega. Bagaimanapun, di dalam hatinya masih tersisa rasa cinta yang dulu sempat membara. Perihal pernikahan yang tidak direstui orang tua pun pernah dihalaunya hanya karena cintanya pada pria itu. Namun, sekarang dirinya seakan dibuat menyesal karena tidak menggubris ucapan orang tua yang sempat melarang hubungannya dulu.


"Bu, Shania harus bagaimana?" Tangis wanita itu memeluk ibunya. Rasa sakit hati dan sisa-sisa cintanya masih beradu dan masih sama besarnya.


"Sayang, kamu harus kuat. Jangan mudah goyah. Ibu dan ayah tidak rela kamu disakiti sampai seperti itu, biarkan ini menjadi pelajaran untuk suamimu," kata ibunya mengusap kepala putri satu-satunya di keluarga itu.


Sampai senja tiba, pria itu masih berada di luar rumah mertuanya. Namun, tidak ada satu penghuni rumah pun yang mau membuka atau menemui pria malang tersebut.


"Shania! Shania! Aku ingin bertemu," teriaknya di depan gerbang.


Ayah sangat marah saat rumahnya diteriaki seperti itu, rasa-rasanya ia akan menghajar menantunya sekarang juga.


"Tidak, tidak, Yah! Jangan, jangan sakiti dia. Shania mohon, jangan, Yah. Dia kehilangan ingatannya dia membutuhkan Shania saat ini. Hanya ada Shania yang dulu di ingatannya, Yah."


"Biarkan Shania menemuinya, Yah. Menyuruhnya untuk pulang, hanya itu," pinta Shania pada ayahnya.


Merasa usahanya tidak sia-sia, pria itu bangkit dan menemui kekasihnya yang mendekat tanpa membuka pembatas besi yang memisahkan mereka.


"Shania, sejak tadi aku di sini, memanggilmu. Kamu tidak mendengarku?" Kata pris itu antara gugup dan senang.


"Pulanglah, pulang dan jangan lagi menemuiku,"


"Kenapa? Kenapa harus pulang? Kamu datang hanya akan mengusirku?" Tanya Pradipta merasa heran.


"Sebelumnya kamu tidak pernah mengusirku, hari ini ada apa?" Tanya Pradipta. Seingatnya, Shanianya tidak pernah mengusir saat dia datang, bahkan wanita itu akan membantah saat ayahnya melarang.


"Itu Shania yang dulu, sekarang berbeda. Jadi, pergilah," kata Shania tegas dan langsung berputar arah.


Pria itu nekat membuka gerbang dan masuk menyusul langkah Shania, "Tunggu, Shania! Ya, aku tahu kamu yang sekarang berbeda dengan yang dulu karena sekarang kamu adalah Shaniaku, istriku!" Ucapnya lantang dan penuh kemantapan.


Shania menghentikan langkahnya, "Kamu istriku, benar? Bantu aku, bantu aku untuk mengingat siapa diriku sebenarnya, Shan. Tolong," pintanya.

__ADS_1


__ADS_2