
Nama aku Biyan anak gadis umur dua puluh tahun, rambut aku lumyan panjang, banyak yang bilang wajah aku seperti artis ternama di Indonesia, tapi aku tidak merasakan itu semua. Aku kerja di satu restoran ternama di kota Jakarta, tiap pagi rumah aku selalu ramai iya ponakan aku tinggal di sini. Jadi rumah aku sangat ramai, tapi kakak aku tidak tinggal di sini hanya anak-anaknya yang tinggal bersama mama.
Hari ini aku masuk pagi bersama Tia, ia wanita tomboy kadang aku takut ia menyukai sesama jenis. Tapi ketakutan itu membuat aku jadi malu sendiri ia hanya jadikan aku teman saja. Sesampainya kerjaan sudah ada Tia sedang sarapan sambil mendengarkan musik.
"Pagi."ucapku padanya
"Pagi Bi."
"Tia, sudah stcok barang belum?"
"Belum."sambil senyum manis.
"Kebiasaan."
"Maafkan aku sayang."
"Bisa nggak, jangan panggil gue dengan kata sayang?"
"Bisa Bi, Bi, anak baru masuk sekarang."
"Masuk apa anak baru?"
"Pagi."
"Suruh siapa ia pagi?"
"Siti."
"Dia nggak mikir apa, masuk pagi? Terus masuk lewat mana?"
__ADS_1
"Katanya Biyan yang jemput."
"Ogah."wajah berubah kesel.
Selesai nyetok aku langsung rapikan meja-meja untuk para tamu, dari arah kanan ada yang memanggilku ia Siti liderku, dengan nada tinggi ia mendekatiku.
"Biyan Bintang Geandara, gue capek dari tadi menghubungi lu biar samperin anak baru tapi tidak juga datang!"dengan nada tinggi.
"Maaf, gue sibuk."
"Sibuk apa lu?"
"Tia, belum stcok."sambil menunjuk tia.
"Bisa lu tinggal, Bi?"
"Gue tinggal, terus dagangan gue gimana?"
"Adit."ulurkan tangan arah biyan.
"Tia."memegang tangan Adit.
Aku berjalan melewati Tia, Siti dan Adit. Tanpa pedulinya Adit yang berkenalan dengan aku, jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, aku duduk di meja komputer sambil memakan sarapan aku, iya maklum aku itu ratu paling males lama-lama di kerjaan selalu telat dengan jam kerja jadi tidak ada waktu aku untuk sarapan di rumah padahal sudah sering di potong karena telat. Mengikuti lider yang sering telat, Adit aku suruh untuk jaga di depan sambut para tamu, sedangkan Tia, aku suruh masak jadwal aku hari ini hanya jadi kasir. Jam terus berlalu tamu terus berdatangan anak siang sudah datang aku, Tia dan Adit istirahat. Aku memilih minum kopi bersama Tia dan Adit di kantin yang ada di mall itu.
Pesanan aku datang tiba-tiba ada yang memegang pundak aku di lihat Siti sambil membawa jus untuknya, kami saling diam-diaman. Adit melihat aku dengan mata tajam, sekali aku melirik arah Adit sambil mainkan ponsel, ada chat dari aplikasi berwarna hijau dari Zaki laki-laki yang di jodohkan mama kepadaku.
"Lagi apa?"
"Lagi minum kopi, kamu lagi apa?"
__ADS_1
"Kerja, kamu masuk apa?"
"Pagi."
"Nanti aku jemput iya."
"Iya."
Selesai aku chat, tiba-tiba kopi punya Adit tumpah mengenai tangan Siti. Aku hanya melihat saja sambil tersenyum manis, wajah Siti berubah kesel dengan Adit. Satu jam berlalu aku dan Tia balik ke restoran yang kami kerja....
*****
Anak siang gantian untuk istirahat, aku masih berdiri di depan kasir sambil sekali aku memainkan ponsel aku. Sambil chat Zaki, tahu kenapa aku merasakan ada yang melihat aku dari jauh aku melihatnya tahunya Zaki sudah ada di kursi sambil makan yang ia pesan di restoran aku kerja.. Zaki seorang pengusaha ternama ia punya perusahaan di mana-mana, aku tidak mendekatinya ia hanya tersenyum kepadaku, teman kerjaan aku tidak pernah tahu kalau dia adalah calon suami aku soalnya aku tidak menyukainya biarlah jadi rahasia aku. Zaki sering sekali makan tanpa menyapaku hanya sebagai pembeli dan penjual, aku tidak mau mereka tahu siapa aku dan dia.
Jam pukul empat sore lewat waktunya aku, Tia dan Adit untuk pulang kerja, aku memakai jaket andalan aku sambil pamitan dengan teman aku...
Aku berjalan, Zaki mengikuti dari arah belakang tanpa berdekatan aku, Adit mendekati aku.
"Bi!"dengan nada keras, sambil berlari.
"Iya."melihat arah belakang.
"Pulang naik apa?"ucapnya padaku
"Naik motor."
"Bawa motor?"
"Nggak, ada yang jemput aku, Dit, duluan iya gue."
__ADS_1
"Oke."