Kembalikan Senyumku

Kembalikan Senyumku
Episode 8


__ADS_3

Adit hanya menatap wajah Biyan dengan penuh rasa malu kebohongan yang ia tutup telah terungkap oleh kekasihnya, aku duduk sambil menahan rasa sedihku walau di mata sudah banyak yang harus aku tumpahkan.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, anak siang waktunya istirahat, di depan kasir berdiri hanya menatap mereka sedang tertawa bahagia tanpa pedulikan aku. Ada percikan air menetes terus berjatuhan ke wajahku.


"Mba."ucap pemuda tampan.


Biyan hanya melirik arah suara itu, melihat tahunya Zaki seseorang yang akan menikah olehnya.


"Iya, Kak."


"Saya, mau pesan bakso satu porsi."


"Baik, Kak, mau di antar apa bawa sendiri?"


"Di antar aja mba."


"Ok."


Lima menit makanan Zaki sudah siap untuk di berikan ke Zaki.


"Ini Kak baksonya."


"terima kasih, Bi, makan bareng."


"Aku sudah makan tadi."


Zaki berdiri mendekati Siti.


"Mba, boleh saya minta tolong?"


"Apa iya."


"Saya mau makan bersama wanita cantik."


"Sama saya?"


"Sama Mba yang di sana?"sambil menunjuk arah Biyan.


"Ok."


Zaki berjalan menuju meja makan, sambil menarik kursi di sampingnya.


"Duduk."


"Aku kerja."


"Iya aku tahu, sebentar iya."dengan wajah memelas.


"Iya,"ucap aku, sambil duduk samping Zaki mata aku masih ada tetesan air mengalir.


Dua bola matanya melihat arah aku dengan tajam membuat aku merasakan gelisah dan malu Zaki makan bakso yang ada di depannya aku hanya memainkan ponselku. Suara getaran ponsel yang berbunyi dari kantong celana Zaki hanya melihat saja lalu di masukan kembali ke kantong celananya.


"Kenapa tidak di angkat, Mas?"

__ADS_1


"Tidak penting."


"Siapa?"


"Teman."


"Oh."


"Bi, kita menikah secepatnya."


"Kapan?"


"Bulan depan."


"Kasih waktu aku."


"Sampai kapan, Bi, hari demi hari aku tidak ada penjelasan mau kemana hubungan aku sama kamu?"


"Mas, usia aku masih muda, beri aku waktu lagi."


"Aku menunggu kamu berapa lama, apa sampai aku memutih? Atau aku harus sampai terkubur hingga kamu mau menikah dengan aku?"


"Mas, aku cinta sama kamu tapi tolong butuh waktu aku bisa paham cinta itu apa, cinta bersama kamu seperti apa?"


"Kamu tahu cinta itu apa? Cinta itu benang dan kain dalam kesempurnaan."


"Cinta bukan lihat dalam kesempurnaan, untuk apa ada kekurangan bila tak saling melengkapi, apa kamu harus pilih sempurna untuk menikah denganmu mas?"


"Iya."


Langkah demi langkah aku berjalan melewati Adit yang bersama wanita itu, aku berdiri depan kasir Adit menatap aku hanya membuat aku merasakan sakit yang ia lakukan padaku...


Satu jam berlalu aku, Adit dan Siti waktunya pulang kerja. Adit ingin mendekati aku wajahnya itu ada sesuatu yang mau dia bicarakan kepadaku tapi apa daya wanita sebelahnya terus mengikuti samping Adit.


"Mas pulang."ujar wanita itu sambil membawa tasnya.


Tanpa buang waktu aku berjalan mendekati Zaki yang asyik memainkan leptop, wajah Adit berubah rasa cemburu kepada Zaki. Zaki berdiri dengan manja Biyan merangkul tangan dari Zaki tanpa melihat wajah dari Adit.


"Kamu kenapa, Dek?"ucap Zaki kepadaku.


"Apa aku salah merangkul kamu?"


"Aku bahagia."


"Masa?"


"Iya, sudah kalau tidak percaya, mau langsung pulang atau jalan dulu?"


"Aku mau jalan, Mas."ucap aku, sambil wajah manja.


"Oke kalau kamu mau, mau kemana kita?"


"Aku mau beli es krim."

__ADS_1


"Kita beli."


Tersenyum terpaksa walau hati terluka hanya untuk menghibur hati, biarlah ini jadi rahasia aku dan tuhan tanpa ada yang tahu. Langkah demi langkah aku terus berjalan di dalam keramaian membuat aku tersenyum sakit hati perasaan itu membuat aku harus menghindari dia walau aku tak bisa.


Aku merasakan ada yang melihat aku, aku menoleh ke belakang tahunya Adit yang mengikuti bersama wanita itu.


Aku pesan es krim rasa vanila dan cokelat, Zaki mengeluarkan dopet dan membayar yang aku pesan tadi, aku duduk di bangku sudah tersedia di sana.


Saling menatap mata sambil menikmati rasa es krim itu, Zaki memberikan es krim ke mulut Biyan tanpa sengaja ia menempelkan ke wajah Biyan, wajah Biyan kesel tapi ia melihat arah belakang masih ada yang melihatnya aku melakukan sama seperti ia lakukan aku pura-pura bahagia agar Adit sakit hati olehku.


Satu jam aku dan Zaki masih ada di mall itu, aku mengajak Zaki untuk pulang dua puluh menit kami sampai rumah aku, terus berjalan tanpa banyak bicara masuk arah ruangan yang sering aku meluapkan rasa kesel, sedih dan kecewa. Kamarlah yang membuat aku tenang setiap harinya.


Selesai bersihkan diri aku membuka jendela, menikmati desir angin menembus tulang belulang di dalam kalbuku hingga aku terasa nyaman dan tenang walau seketika hati telah hancur seperti cermin yang rentak.


Aku melihat mentari senja akan tertutup awan putih berganti dengan bulan dan bintang yang menyelimuti kegelapan malam hingga tubuh ini terasa lemas seketika, berbaring tubuh ke tempat kasur yang sangat empuk hanya menatap wajah ia yang telah menyakitiku, ingin sekali aku memaki, menangis agar aku puas hati ini tapi apa daya aku.


Hanya hitungan detik mata aku tertidur lelap, mentari pagi menyapaku panasnya menembus kulit hingga ketulang berlulang, aku terbangun mendengar suara merdunya ayam bersautan dan suara azan subuh untuk menyapa umat muslim melakukan kewajiban ibadah kepada pemilik dunia ini.


Hari ini aku libur kerja ingin sekali pergi yang jauh biar hati ini tenang tapi aku bukan wanita lemah seperti mereka lakukan kepadaku ini.


"Aku akan balas kalian ingat itu, kalian pikir aku tidak bisa melakukan apa yang kalian lakukan, ingat pembalasan aku lebih perih dari ini."gumanya dalam hati.


Suara ponselku berbunyi aku lihat ada chat dari Tia, ia hanya ucap maaf kepadaku. Aku hanya tersenyum sinis melihat profil foto yang ada di chat itu.


"Maaf, lu pikir dengan ucap maaf bisa sembuhkan luka gue, dasar manusia jahat,"dalam hati wajah berubah marah dan melempar ponsel yang ada di tangannya.


Suara terdengar jelas di balik pintu sambil memanggilku, aku membuka tahunya Mama aku.


"Pagi anak Mama."


"Pag, Ma."


"Sarapan yuk?"


"Aku lagi malas, Ma."


"Kenapa?"


"Ma, aku pinjam mobil iya?"


"Mau kemana?"


"Aku, mau pergi kerumah teman aku boleh iya?"


"Ok, kapan kamu pergi?"


"Jam sepuluh."


"Sarapan dulu?"


"Malas, Ma."


"Iya sudah, Mama mau sarapan dulu."

__ADS_1


"Ok."


__ADS_2