Kembalikan Senyumku

Kembalikan Senyumku
Episode 7


__ADS_3

Wajah Adit berubah rasa penyesalan membuat ia takut kehilangan Biyan, hari demi hari telah berlalu penjelasan yang Adit ucapkan tak sedikit Biyan percaya.


****


Satu minggu kemudian, aku baru saja sembuh dari penyakitku, seperti hari sebelumnya kerja dan kerja tanpa memikirkan pasangan lagi. baru masuk saja aku dapat kata yang membuat aku merasakan sakit kembali, Adit bilang sama Siti kalau aku tidak sakit semua itu hanya pura-pura, apa yang ia rencanakan membuat aku terus merasakan sedih, Siti yang dulu selalu bersama dan percaya oleh Biyan kini berubah semuanya.


Suara lantunan azan yang indah dan suara kicau burung bersautan membuat wanita cantik terbangun dari mimpi indahnya, saat ini aku masuk pagi bersama ia yang telah menyakitiku.


Sesampai tempat kerjaan aku melihat ia sedang duduk sambil menikmati sarapan pagi, aku melewatinya hanya sekali tersenyum manis.


Dia teman kerjaku sekaligus mantan pacarku walau kita saling cinta, profesional itu yang membuat kami menjadi rekan kerja yang baik.


"Pagi Bi,"ucapnya kepadaku sambil tersenyum manis dan mendekatiku sambil memberikan buah kesukaanku mangga.


Tanpa ada kata membuat Adit terus mengejarku.


"Bi, ada acara hari ini?"sambil terus memberikan mangga untuk Biyan.


"Ada,"ucapku kepadanya, sambil berjalan menuju ruangan karyawan, tanpa mengambil mangga di tangannya.


"Bi, aku salah apa? Sampai buah mangga kamu menolaknya."berjalan mengikuti Biyan.


"Kamu tidak salah, aku yang salah. Salah mencintai seseorang tanpa mencintai aku."


"Bi, sampai kapan kamu kaya begini? Kamu menghindar dari aku tanpa mendengar penjelasanku."


"Aku harus mendengar apa yang engkau ucap? iya!"dengan nada tinggi, ada titik-titik air dari bola matanya.


"Bi, mereka tidak menyukai aku dekat sama kamu, soal pernikahan itu bohong."


"Iya, nikah bohong? apa lagi yang kamu rencanakan setalah ini? Hebat kamu Dit semua orang telah percaya ucapan busuk dari bibirmu!"mataku membulat, dengan nada tinggi.


"Bi, percaya aku, nikahlah denganku."


"Maaf, aku tidak lagi mencintaimu."


"Bi."


"Sudah iya, kita berteman bukan ini yang kamu mau?"


"Aku tidak mau, mau aku kamu jadi milik aku."


"Aku sudah ada yang punya."


"Bohong kamu."


"Kamu bilang aku bohong?"


"Iya!"dengan nada tinggi.


"Kamu paling benar."senyum sinis.

__ADS_1


"Bi, tolong jangan membuat aku merasakan bersalah paling dalam, besok aku libur kamu juga libur kita jalan, mau iya?"


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Sudah janji sama teman, mau jalan sama dia."


"Teman kamu penting, sampai kamu menolak aku untuk jalan?"


"Kamu siapa? Kamu hanya sekadar temanku bukan siapa-siapa aku."ucapku sambil senyum sinis


"Bi, aku mencintaimu?"


"Aku tidak, disini tempat kerja cari uang bukan saling mencintai, apa lagi menjatuhkan."


"Apa sih Bi? Siapa yang menjatuhkan!"


"Seseorang berbuat salah tidak akan merasakan apa yang ia lakukan, kalau ada mungkin mereka punya hati."


Siti tiba-tiba datang "Assalamualaikum."ucapnya sambil tersenyum manis.


"Waalaikum salam."Adit dan Biyan.


"Stcok barang sudah?"


"Belum, Ti, gue izin ke kamar mandi."ucapku sambil berikan kertas stcok opname ke Siti.


"Iya."


"Pantaskah aku bahagia? Sedangkan aku selalu gagal mendapatkan cinta sejati, Zaki laki-laki yang aku pilih saat ini biarlah aku tidak bahagia mungkin ini jalanku. Usia muda aku akan mengurus anak semua tidak terbayang olehku."gumanya dalam hati, air mata Biyan terus menetes.


Lima menit Biyan keluar dari kamar mandi, melihat ada Siti di depan pintu matanya membulat arahku, aku hanya tersenyum kepadanya.


"Sampai kapan di sini?"


"Iya maaf."


"Bosan kerja di sini?"


"Bosan kenapa?"


"Bi, gue nggak mau Lu sakit hati sama Adit, dan satu lagi Bi, kalau Lu pacaran harus ada yang gue pindahkan, apa siap?"


"Sudah jangan bicarakan soal cinta, gue sama Adit hanya berteman tidak lebih."sambil jalan melewati Siti tanpa peduli Siti.


Langkah demi langkah aku menyusuri mall yang masih gelap, aku melihat ada wanita sedang duduk di meja tempat aku kerja di sampingnya ada seorang lelaki yang cukup aku kenal ia pemuda yang selama ini kasih harapan palsu untukku dia Adit.


Dari arah belakangku ada suara


"Dia calon yang jadi ibu dari anak-anak Adit nanti."ucap Siti.

__ADS_1


"Oh."


Aku bisa berbohong kepada semua orang tapi air mata dan hati ini tidak bisa, air mataku terus mengalir. Siti hanya melihat wajah dari Biyan.


"Menangislah, Bi."


Biyan memeluk Siti air mata terus berjatuhan rasa itu membuat Biyan tidak percaya semuanya. Adit melihat Siti dan Biyan sambil berpelukan dan menujuk arah Biyan, Siti tersenyum.


Wajah Adit bingung harus berbuat apa, aku melepaskan pelukanku dari Siti dan masuk ke ruang karyawan, Adit mengikuti aku sambil memegang tanganku.


"Lepas tanganmu dari aku."ucapku.


"Bi, dia yang di jodohkan oleh ibu aku, wanita baik dari keluarga baik. Mungkin ada katanya bibit, bebet dan bobot, tapi aku tidak cinta."


"Iya aku bukan wanita dari orang kaya, tidak ada kata bibit, bebet, dan bobot, sudah jangan membuat aku merasakan sakit terlalu dalam lagi."


"Aku mohon, cinta ini hanya untukmu bukan untuk dia, dia dan aku hanya teman."


"Aku harus percaya sama kamu?"


Ada langkah sepatu yang masuk, dia gadis cantik seorang yang di jodohkan untuk Adit menjadi istrinya.


"Mas, aku mau sarapan dulu iya."


"Iya! Dek."


Aku terdiam mendengar mereka saling bicara, detik menit berlalu waktunya aku, Siti, dan Adit untuk istirahat, Adit mengajak aku untuk makan di luar tapi aku menolaknya, duduk di keramaian pusat belanja hanya bisa melihat mereka tertawa bahagia seakan tertawakan aku yang sedang terluka olehnya.


Adit dan Siti duduk di samping aku dan wanita cantik itu duduk sebelah Adit sambil melihat arah aku.


"Hai, aku Vina,"ucapnya kepadaku sambil berjabat tangan. Wajahnya tersenyum manis.


"Aku Biyan."


"Namanya cantik seperti orangnya."


"Terima kasih, kenal Adit dimana?"ucapku sambil tersenyum manis.


"Aku kenal mas Adit dari mba Tia."


"Katanya kamu di jodohkan sama orang tua Adit?"


"Kata siapa?"


Adit yang sedang makan tersendak melihat arah Biyan.


"Kata Adit."


"Iya aku di jodohkan benar mba, tapi aku di jodohkan sama mba Tia."


"Oh."

__ADS_1


Siti dan Adit saling melirik ke arah Biyan. Aku hanya bisa tersenyum dalam tangis apa yang mereka rencanakan aku tidak tahu, seakan tubuh ini sudah tak sanggup untuk berkerja lagi yang aku anggap sahabat dia telah menyakitiku.


"Sang Penciptaan langit dan bumi kenapa semua terjadi padaku, kenapa harus dia yang melakukan ini padaku."gumanya dalam hati


__ADS_2