
Jam terus berputar Biyan dan Adit rapi-rapi untuk pulang. Biyan sudah janji untuk berjumpa bersama sahabatnya bernama Shakila bertemu di tempat kerjaan Biyan, setengah jam Biyan menunggu Shakila, tak lama Shakila datang.
"Bi, apa kabar sayang?"
"Kila, baik, gimana kabar kamu? Aku kangen tahu."sambil memeluk Shakila.
"Sama aku juga kangen, baik koh aku."
Biyan dan Shakila saling berbicara tentang apa yang terjadi dalam hidup mereka, tak lama Zaki datang untuk jemput Biyan. Biyan hanya melirik Zaki dengan wajah penuh rasa kesel, Adit yang masih berdiri di sekitar restoran hanya melihat Biyan...
Satu jam kemudian, Shakila pamitan sama Biyan yang masih ada meeting mendadak maklum Shakila wanita karir. Tinggal Biyan dan Zaki duduk di sekitar restoran Adit hanya melirik wajah cemburu, dari pertama Adit melihat Biyan ia menyukainya. Adit mendekati Biyan sambil tersenyum malu.
"Bi, pulang aku antar yuk mau nggak??"
"Tidak usah Dit, aku sudah ada yang jemput."
"Laki itu?"
Biyan hanya tersenyum manis tanpa suara yang terucap dari bibirnya takut mereka tahu siapa Zaki sebenarnya, Biyan meninggalkan Adit di ikuti Zaki dari belakang.
Di dalam perjalanan Biyan tanpa ada kata-kata yang terucap darinya, maklum dia masih benci dengan Zaki yang sudah menduakan dirinya.
"Bi, mau makan?"
"Aku sudah makan."
"Temanin aku makan iya?"
"Iya."
Zaki berhentikan mobilnya di sebuah restoran ternama di jakarta, Biyan dan Zaki keluar dari mobil dan masuk dalam restoran di ikuti pelayanan restoran mereka berdua duduk di dekat dengan kolam ikan ukuran kecil, tahunya Zaki sudah pesan tempat itu. Waiters memberikan menu makanan Zaki memilih gurame bakar bumbu padang, sop iga, dan minum jus melon. Biyan hanya pesan minum jus terong belanda di campur pisang. Dua puluh menit kemudian yang di pesan telah datang, ponsel Biyan berbunyi tahunya dapat chat dari Siti menyuruh Biyan untuk masuk pagi lagi padahal hari besoknya Biyan masuk siang.
Zaki hanya melihat Biyan sambil tersenyum manis, sekali Biyan hanya melirik tak ada suara kata yang mereka ucap seakan mereka tidak saling kenal hanya sibuk masing-masing, Zaki makan yang tadi di pesan, sedangkan Biyan hanya memainkan ponselnya.
Satu jam berlalu tak terasa Zaki dan Biyan meninggalkan restoran itu, Zaki dan Biyan masuk dalam mobil di dalam mobil juga sama mereka tak ada kata-kata terucap, hanya suara-suara klakson mobil yang terdengar. Biyan hanya menikmati perjalanan sambil melihat dari balik kaca mobil, setengah jam kemudian sampai di halaman rumah Biyan.
"Aku pulang iya?"ucap Zaki.
"Iya, terima kasih."
"Besok aku mau keluar kota, kamu jaga diri kamu baik-baik iya."
"Iya."
"Jangan nakal, ini ada kartu atm, kamu bawa nanti aku chat kamu untuk pin. Nanti setelah aku pulang kita adakan lamaran iya?"
"Kapan kamu pulang? Untuk apa kartu ini?"
"Sekitar empat bulan, takutnya kamu mau jajan."
"Oh, aku mau masuk dulu."sambil membuka pintu mobil.
"Iya sudah."
Biyan masuk dalam rumah melihat di rumah tak ada orang, langkah demi langkah Biyan berjalan menuju kamar berapa langkah Biyan mendengar suara yang memanggilnya, Biyan melihat ke belakang tahunya mamanya.
"Sudah pulang?"
__ADS_1
"Sudah ma."
"Zaki jemput kamu?"
"Iya."
"Kamu ikutin mau mama dan abang kamu, menikah dengan Zaki."
"Iya."sambil berjalan.
"Bi, mama belum selesai bicara sama kamu!"
"Apa lagi ma?"
"Sudahlah mama males bicara sama kamu."
"Iya."
Biyan melanjutkan menuju kamar, Biyan duduk di kursi dan menikmati udara sore hari sambil ganti baju, selesai ganti baju Biyan membuka diary tiba-tiba terdengar suara di balik tas di lihat ada yang menghubungi Biyan tanpa nama.
"Assalamualaikum, siapa ini?"
Terdengar suara yang jauh di sana.
"Waalaikum salam, Bi, ini aku Adit."
"Kenapa Dit?"
"Lagi apa, sudah makan belum?"
"Bi, besok aku masuk siang, kita tidak ketemu lagi."
"Oh, bagus dong."jawab Biyan yang singkat.
"Kenapa kamu bilang bagus Bi?"
"Aku lelah, mau tidur, sudah iya assalamualaikum ."
"Waalaikum salam."
Selesai bicara dengan Adit melalui ponsel Biyan berbaring di atas kasur melirik kanan dan kiri seketika Biyan melihat kotak di atas meja dekat lampu Biyan berjalan dan melihat isi kotak itu, tahunya sebuah tas berwarna merah hati dan terdapat tulisan.
Aku tahu cinta yang pilih kita, sekuat apa rencana kita hanya Sang Pencipta yang akan kabulkan. Tapi kenapa aku tidak boleh mencoba denganmu menjadi sepasang kekasih?? Aku buta dalam cinta tapi hati ini terlukis wajahmu dan namamu..
By Zaki
Biyan melihat tas dan memakai tas pemberian Zaki, melihat dirinya di cermin sekali Biyan putar badannya. Biyan berjalan keluar kamar memanggil mamanya.
"Ma."
"Iya."
"Ada kotak, aku buka isinya tas, kapan Zaki kesini ma?"
"Tadi jam makan siang, kata dia habis ke tempat kerjaan kamu."
"Iya ma, tadi dia main ke tempat kerjaan aku ma."
__ADS_1
"Oh."
"Mama, aku mau bicara sama mama."
"Bicara apa?"
"Zaki mau tunangan sama aku tapi empat bulan lagi."
"Bagus."
"Aku tidak cinta mama sama Zaki."
"Kenapa?"
"Dia terlalu kaya aku takut di rendahin sama dia, sudah punya pacar dia ma."
"Kamu kata siapa dia punya pacar?"
"Aku melihatnya, dia sama wanita lain ma."
"Kamu yakin dia pacarnya?"
"Yakin ma."
"Zaki sayang sama kamu, ia baik, rajin ibadahnya. Apa yang kurang dari dia?"
"Cinta aku bukan untuk dia."
"Mama akan kasih waktu empat bulan, kamu harus punya pasangan kalau tidak dapat mau nggak mau harus menikah dengan Zaki gimana?"
"Oke aku setuju."
Waktu terus berjalan, kata-kata itu membuat Biyan terus merasakan terlalu dalam sakit. Biyan akan menikah dengan laki yang dia tidak cinta, Biyan terus mencari pasangan hidup untuknya tak kunjung dapat baru kenal dua hari tak ada kabar, Biyan terbiasa naik mobil umum untuk berangkat kerja salah satu supir bernama Mus telah mencuri pandang kepadanya.
"Namanya siapa?"
"Biyan."
"Aku Mus."
"Oh."
"Singkat, padat iya, tinggal di mana?"
"Jakarta."
"Saya tahu koh, kamu tinggal di jakarta, di mananya?"
"Di tanah bumi."
"Oke, Nggak apa-apa kalau kamu tidak mau kasih tahu rumah kamu."
"Iya."
Di dalam perjalan Biyan hanya melirik arah Mus, Mus tak berhenti melihat wajah manis dari Biyan, sampai di depan rumah Biyan. Mus hanya senyum sudah tahu rumah dari Biyan.
Hari terus berganti, Biyan dan Mus semakin dekat. Biyan tak pernah ada rasa cinta olehnya kata-kata mamanya membuat Biyan menjadi harus mengenal banyak pria di luar sana.
__ADS_1