
"Ok, apa kata kamu Bi, mau bilang aku munafik atau apa. Aku akan minta sama mama kamu untuk menikah dengan kamu, ingat itu."
Biyan terus berjalan, tanpa melihat arah belakang, ojek yang Biyan pesan tak kunjung datang. Sedangkan Zaki sudah sampai di kediaman rumah Biyan, tak ada ojek Biyan kembali lagi ke mall untuk duduk di depan kolam ukuran kecil terdapat ikan mas yang besar, Biyan membeli makanan ikan yang ada di loket. Membuat Biyan bosen dan jenuh Biyan berjalan dan memesan ojek online.
Tak lama ojek pesanan Biyan sudah datang, sesampainya di rumah aku melihat ada mobil Zaki di alaman rumah Biyan. Aku masuk melihat Zaki, mamanya dan kakak Andre sedang bicarakan aku.
Aku terus melangkah kaki ini melewat mereka yang sedang bicarakan aku tanpa ada kata keluar dari bibirku, kak Andre memanggil aku dengan mengikuti langkah kaki ini untuk terus berjalan tanpa peduli aku padanya. Aku masuk kamar dan aku kunci dari dalam.
Terdengar suara memanggil namaku dari depan pintu. "Dek, keluar bentar aku mau bicara,"ucap kak Andre sambil mengetuk kamarku.
Aku tak peduli dengan apa yang di katakan oleh Kakakku, sambil tiduran di atas ranjang ukuran kecil menikmati udara sore itu dengan secangkir kopi hangat membuat aku jadi tenang. Aku keluar kamar melihat masih ada Zaki dan kakak aku sedang bicara, tiba-tiba dari belakangku ada memegang pundak Biyan.
"Kenapa kamu seperti itu Bi?"
"Seperti itu apa."melihat arah belakang tahunya mama aku.
"Kata Zaki kamu jalan dengan laki lain, benar??"ucap mama aku.
"Kalau iya kenapa mama? Aku mau jalan sama laki lain atau siapa saja apa hak dia, dia bukan siapa-siapa aku ma!"
"Besok kamu akan di lamaran oleh Zaki."
"Aku tidak mau, tanyakan apa yang terjadi tadi di bioskop."sambil berjalan arah Zaki.
Zaki melihat Biyan dengan tersenyum manis, mungkin dalam benaknya aku akan mau menikah dengan dia, padahal aku hanya ingin meluruskan apa yang terjadi tadi.
"Dek."kata Andre.
"Iya kak, katanya kamu ingin melamar aku, Zaki?"
"Iya sayang, Zaki mau lamar kamu."ucap Andre.
"Wanita tadi siapa Zaki?"
"Wanita mana."ucap Zaki padaku.
"Wanita yang di bioskop tadi?"
"Dia, adik sepupu aku, kamu tidak percaya Bi sama aku?"
"Percaya sama kamu? Bohongnya kamu aja aku percaya koh apa lagi benarnya."tersenyum sinis.
"Bi, sudah." ucap Andre.
"Oke... Abang mau aku nikah sama dia?"
"Iya!"
"Oke kalau begitu, aku lelah permisi."berjalan terus menuju kamar.
"Bi, kamu itu tidak sopan iya."
Tanpa peduli Andre Biyan terus mengerakan arah kaki menuju kamarnya, menutup kamarnya sambil dengarkan lagu dengan suara keras..
*****
Tak sadar Biyan tertidur dengan lelap, jam terus berjalan, hari juga berganti hari itu Biyan masuk pagi... Semua sudah rapi Biyan berangkat kerja sampai kerjaan Biyan melihat Adit sedang duduk di meja komputer.
"Pagi Bi."ucap Adit sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Kamu masuk pagi?"
"Iya."
"Sama siapa hari ini?"
"Sama kamu dan aku."
"Serius?"
"Iya."
Biyan mengambil ponsel untuk menghubungi Siti lidernya, memakai aplikasi yang berwarna hijau wajah penuh dengan kesel.
"Pagi."
"Ada apa Bi?"ucap yang jauh di sana.
"Kenapa gue di suruh bersama dengan Adit? dia anak baru, yang jadi kasir siapa? yang di dapur siapa?"ucap Biyan.
"Bi, gue percaya sama kamu, kamu pasti bisa."
"Maksudnya? aku harus kerja semuanya gitu."
"Iya."
"Tega sekali kamu Siti, tanpa peduli aku di sini."
Biyan kerja sendiri masak bakwan, bakso dan lain sendiri. Adit hanya melihat Biyan tersenyum manis, pekerjaan semua sudah rapi, Biyan duduk di depan komputer jam sudah pukul sepuluh pagi tiba-tiba Siti datang Biyan wajah penuh dengan rasa kesel sama Siti.
Siti melihat Biyan mendekati sambil mencolek dagunya, aku menuju depan kasir satu-satu customer datang Biyan melayani dengan baik..
Biyan mengajarkan Adit menu-menu yang ada di restoran, tanpa berkedip Adit melihat Biyan tiba-tiba Zaki datang pesan mie ayam rica-rica, Biyan melihat Zaki dengan wajah penuh rasa kebencian.
"Baik kak."
"Maaf kak, pesanan di ambil sendiri bukan di antar."ucap aku tersenyum terpaksa.
"Oke! ada atasan kalian."sambil melirik kanan dan kiri.
"Ada kak, untuk apa?"tanyaku pada Zaki.
Tiba-tiba Siti keluar dari ruangan.
"Kenapa Bi?"
"Saya minta beli mie ayam rica-rica tapi minta di antar, koh nggak bisa iya Kenapa?"ucap Zaki.
"Bisa koh kak, kata siapa nggak bisa?"
"Kata mba ini."menujuk arah Biyan.
"Biyan."wajah penuh dengan marah.
"Kenapa? Gue minta dia mengambil sendiri."
"Bisa nggak jangan kaya gitu."
"Oke, Adit tolong antar nanti mie ayamnya."
__ADS_1
"Baik."
"Sudah bayaran?"
"Sudah."
"Ikut gue masuk."
Zaki melihat Biyan dengan rasa bersalah, Biyan masuk dalam ruangan karyawan penuh rasa emosi. Biyan akan terima apa yang Siti katakan walau itu pahit.
"Kamu tahu dia itu customer, kenapa melakukan seperti ini?"
"Biasa juga ambil sendiri, kakak itu manja, kalau nggak ada gue dan Adit takutnya nggak ada yang antar."
"Bi, nggak ada kamu dan Adit pasti ada yang antar gue atau yang lain."
"Yakin, sudahlah gue males bahas ini!"
"Koh jadi kamu yang marah Bi?"
"Dia teman gue, sudah jangan bahas ini."berjalan keluar menuju kasir.
Biyan memanggil Siti untuk keluar, Biyan menuju ke toilet. Melewati Zaki yang masih berdiri di depan restoran itu, Biyan melirik arah Zaki hanya tersenyum manis.
Zaki mengikuti Biyan dari belakang, Biyan masuk dalam toilet sedangkan Zaki menunggu di depan toilet, Biyan keluar penuh rasa kaget melihat Zaki di depan pintu.
"Bi."
"Apa? Mau bilang aku minta maaf, sudahlah tidak usah ucap kata maaf, dari bibirmu aku tidak akan mau maafkan kamu."
"Siapa yang mau minta maaf. Aku hanya bilang tadi di marahin sama lider kamu? "
"Mau aku di marahin atau tidak jangan ikut campur kamu."
"Aku bukan ikut campur Bi, aku hanya senang kamu di marahin. Lebih baik kamu nikah dengan aku pasti kamu tidak usah kerja lagi."
"Iya, aku tidak kerja, lalu kamu mau semuanya tanggung jawab hidup aku mas, Zaki?"
"Aku akan tanggung jawab semuanya Bi, kamu tidak akan merasakan kekurangan."
"Oh iya."berjalan lebih cepat.
Zaki mengikuti Biyan sambil mengejar aku, sesampainya Biyan berdiri di komputer kasir.
"Kak ini mienya."ucap Siti.
"Kasih mba ini aja."menujuk Biyan, sambil berjalan keluar dari restoran.
Siti hanya melihat Biyan sambil rasa bingung, Biyan mengambil mie sambil masuk ruangan karyawan, sambil menikmati mie ayam memainkan ponselnya ... Chat yang jauh di sana dengan aplikasi berwarna biru.
"Terima kasih mie ayamnya."
"Iya, nanti aku jemput kamu iya?"
"Tidak usah."
"Kenapa?"
"Aku mau pergi kerumah teman aku."
__ADS_1
"Oke!"
Selesai makan Biyan berdiri di depan komputer kasir sambil tersenyum manis, walau begitu Biyan juga sayang sekali sama Zaki tapi Biyan takut sepenuhnya cinta kepada Zaki iya takutnya Zaki akan merendahkan dia, maklum Zaki seorang laki-laki kaya raya wanita mana yang tak mau sama dirinya.