
Almahyra Zora, gadis ceria dan cantik berusia 22 tahun yang berparas tinggi. Meski hanya berpenampilan pas-pasan tak seperti layaknya anak muda lainnya, Zora tetap mengutamakan kebersihan tubuhnya. Tak heran ia memiliki kulit putih bersih yang semakin memancarkan kecantikannya.
Kebutuhan ekonomi menuntutnya untuk bekerja keras karena harus mencukupi kebutuhan hidup dan pengobatan ibunya. Ya, semenjak ayahnya meninggal setahun lalu, Zora menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja di sebuah bank swasta di daerah pedesaan sebagai customer service yang setiap jam kerjanya harus berhadapan dengan banyak pelanggan dari berbagai kalangan.
Pagi ini seperti biasa Zora sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Sebelum berangkat ke tempat kerjanya Zora berpamitan pada ibunya dan kemudian ke rumah pamannya yang rumahnya bersebelahan dengan rumahnya untuk menitipkan ibunya.
"Paman Ali, nitip ibu ya. Tolong jagain. Zora mau berangkat dulu. Nanti kalau paman butuh sesuatu hubungi Zora" pamit Zora ke pamannya.
"Iya, nak. Tenang saja. Paman akan jagain ibumu. Kamu buruan berangkat sebelum telat"
"Iya, paman. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Zora keluar dari rumah pamannya dan menaiki motor matic yang biasa digunakannya. Ia bergegas melajukan motornya ke jalan raya menuju ke tempatnya bekerja.
Zora masih beruntung karena pekerjaan pamannya membuka warung di depan rumahnya sehingga Zora bisa lebih mudah menitipkan ibunya.
Dulu, Zora dan keluarganya tinggal di ibu kota. Ayah Zora adalah seorang buruh pabrik. Sedang ibunya, Bu Alya, adalah seorang penjahit rumahan. Zora merupakan anak tunggal. Sepeninggal ayahnya, Zora dan ibunya memilih untuk kembali ke desa dan tinggal di rumah lamanya. Ia pun menjual beberapa barang peninggalan ayahnya di Jakarta seperti rumah dan barang berharga lainnya untuk bertahan hidup dan pengobatan ibunya yang mulai sering sakit. Akhirnya Zora meminta ibunya untuk berhenti bekerja.
Zora menghabiskan waktunya berjam-jam di bank. Hampir seluruh waktunya ia habiskan di bank karena ia harus pulang sore bahkan larut jika harus lembur akhir bulan. Tak heran jika setiap weekend, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah untuk menemani ibunya dibandingkan harus keluar dan dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Nak, apa kamu tidak bosan libur kerja hanya di rumah saja?" tanya ibunya yang merasa tidak tega melihat putrinya hanya diam di rumah.
"Tidak, ibu. Lagi pula aku juga malas untuk keluar rumah. Aku ingin menghabiskan hari liburku menemani ibu disini" jawab Zora dengan senyum. Ia pun kembali memainkan ponselnya
"Ibu sayang sama kamu" ucap Bu Alya tiba-tiba.
Zora menoleh ke arah ibunya. Ia tersenyum haru melihat kedua manik mata ibunya basah. Wanita paruh baya itu selalu mengucapkan kalimat itu hampir tiap harinya.
Zora tersenyum lembut dengan mengelus punggung tangan ibunya. "Apalagi Zora, Bu. Zora sangat dan sangat menyayangi ibu. Ibu kini satu-satunya harta yang Zora miliki. Ibu sehat-sehat terus, biar bisa selalu menemani Zora" ucap Zora menahan air matanya agar tidak jatuh.
Bu Alya memeluk putri semata wayangnya. Ia menumpahkan tangisnya mengingat kisah pilu hidupnya yang menyedihkan.
"Maafin Zora, Bu. Karena Zora keluarga kita jadi begini" kata Zora dengan Isak tangisnya yang tumpah dalam pelukan ibunya
"Jangan bicara seperti itu lagi, nak. Ayahmu pergi karena memang takdir Tuhan. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kesalahan yang tidak pernah kau buat"
__ADS_1
"Tapi semua tidak akan seperti ini jika____"
"Sudahlah, jangan dilanjutkan. Jangan berandai untuk sesuatu yang telah lalu" tegur Bu Alya mengingatkan putrinya seraya mengusap punggung Zora.
Ibu dan anak itu saling melepaskan diri dari pelukan. Bu Alya membelai wajah putrinya dan mencoba untuk tersenyum.
"Jalani dengan ikhlas. Tetaplah menata masa depanmu. Kamu masih muda. Jangan sia-siakan kesempatan emas yang kamu miliki untuk membahagiakan hidupmu" nasehat Bu Alya mencakup kedua pipi putrinya.
Zora tersenyum dan mengangguk berulang kali. Ia pun kembali menghamburkan diri ke pelukan ibunya.
******
Hari berikutnya Zora tengah duduk di balik meja kerjanya seraya melayani pelanggan yang tengah membutuhkan layanan. Hingga bank tutup, Zora masih harus menyelesaikan pekerjaannya bersama teman lainnya.
"Akhirnya, selesai juga pekerjaan hari ini" ucap Zora begitu senang. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena seharian tak ada habisnya nasabah bank yang datang.
"Jangan senang dulu, Ra. Habis ini ada meeting dadakan lho" kata Meta, teman kerjanya yang kala itu masih mengetik beberapa dokumen di komputernya.
"Beneran? Jam berapa?" tanya Zora.
"Bentar lagi, jam lima"
"Kenapa? Kamu buru-buru?"
"Enggak, kok. Cuma kangen aja sama ibu" jawab Zora tersenyum.
"Tenang aja, meetingnya cuma bentar kok. Paling cuma bahas masalah pengiriman karyawan yang ikut pelatihan di kantor pusat".
Waktu pun berlalu. Zora, Meta dan para pegawai lain sudah duduk di ruang meeting bersama pimpinan kantor cabang.
Pemimpin kantor cabang mengutus tiga perwakilan kantor cabangnya untuk berangkat esok hari ke kantor pusat, dimana diantara tiga orang itu nama Zora juga masuk didalamnya bersama Meta dan satu karyawan laki-laki. Mereka akan mengikuti pelatihan di kantor pusat selama dua hari.
Zora pulang ke rumah dengan perasaan lesu. Ia bingung harus mulai dari mana untuk mengatakan maksudnya. Di satu sisi, ia takut akan suasana kota yang mengingatkannya akan masa lalunya yang pahit. Ia takut bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Ia juga tak tega meninggalkan ibunya selama dua hari sendirian di rumah. Namun di sisi lain, ia tidak bisa menolak perintah kantor tempatnya bekerja.
"Assalamualaikum" sapa Zora memasuki rumahnya yang pintunya selalu terbuka.
"Waalaikumsalam. Mandi dulu, nak. Ibu sudah siapkan sarapan di meja"
__ADS_1
Zora mencium punggung tangan ibunya dan menuju kamarnya setelah mengucapkan kata terimakasih.
Jarum jam menunjukkan angka sembilan malam. Zora menemui ibunya yang sudah lebih dulu kembali ke kamar untuk istirahat.
"Ibu.... Apa ibu sudah tidur?" panggilnya seraya mengetuk pintu kamar ibunya.
Tak butuh waktu lama Bu Alya membuka pintu. Ia memperhatikan wajah putrinya yang nampak lesu.
"Ada apa, nak. Ibu baru selesai sholat. Masuklah" ajak Bu Alya. Ia membuka lebar pintu kamarnya agar Zora masuk.
"Kamu kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan sama ibu?" tanya Bu Alya yang melihat putrinya nampak cemas.
"Bu... Emm..sebenarnya besok ada tugas di kantor" kata Zora ragu-ragu.
"Iya, terus apa masalahnya, nak?"
"Zora ditugaskan untuk ikut selama dua hari. Dan tugasnya di kantor pusat yang lokasinya ada di kota" kata Zora.
"Ya sudah, kamu berangkat saja. Yang penting jaga dirimu baik-baik"
"Tapi bagaimana dengan ibu? Zora tidak tega meninggalkan ibu sendirian"
Bu Alya mengusap lengan putrinya. "Kan ada sepupumu si Danu. Tadi sore dia pulang karena kuliahnya libur. Ibu bisa minta bantuan Danu buat menemani ibu kalau malam. Dia pasti mau. Dan paman Ali juga pasti mengijinkan"
"Alhamdulillah kalau begitu" ucap Zora lega. Ia pun tersenyum lembut pada ibunya. Namun sesaat kemudian senyum itu berubah menjadi masam saat mengingat kata kota.
"Kenapa lagi?" tanya ibu Zora.
"Zora takut kota, Bu" kata Zora menunduk.
"Bukan Kota yang kamu takutkan, tapi masa lalu. Lupakan semua itu, kamu harus bisa mengikhlaskan segalanya. Yang terpenting kamu fokus dengan tujuanmu. Kamu disana untuk bekerja. Jangan pikirkan yang lainnya" kata Bu Alya menasehati putrinya.
"Zora mengerti, ibu. Zora akan berusaha ikhlas dan tenang. Kalau begitu ibu istirahatlah dulu, Zora akan bersiap-siap mengemasi barang untuk pergi besok"
Zora kembali ke kamarnya untuk membereskan beberapa pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkannya ke dalam sebuah ransel yang akan dibawanya besok.
Di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya, ia menghubungi seorang sahabat dekatnya waktu kuliah dulu yang bernama Anita. Ia mengatakan jika dirinya akan pergi ke kantor pusat dimana tempatnya tidak jauh dari rumah sahabatnya itu. Mereka saling membuat janji untuk bertemu melepas rindu setelah setahun berpisah karena Zora harus pulang ke desa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘