KENZORA (Kenzo & Zora)

KENZORA (Kenzo & Zora)
Bab 11


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya Zora dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Bu Windy selalu menemaninya disana. Ia tak sampai hati jika harus meninggalkan Zora sendirian. Sehingga ia memutuskan untuk ikut tinggal beberapa hari di rumah sakit. Sesekali Evi juga berkunjung untuk menemui atasannya setelah mendapatkan perintah.


Hari ini para wanita itu sedang menunggu keputusan dokter untuk Zora. Karena kondisi Zora yang semakin membaik, kemungkinan Zora bisa diijinkan untuk pulang.


Tepat pukul delapan pagi, dokter yang menangani Zora masuk ke ruangan dimana Zora dirawat. Bersama seorang perawat yang membantunya, ia pun menyampaikan kabar bahagia jika Zora sudah bisa pulang dengan catatan harus tetap mengikuti aturan-aturan kesehatan dari dokter.


Pagi itu juga Bu Windy dibantu oleh Evi sedang mengemasi barang-barangnya serta milik Zora dan bersiap untuk pulang.


"Ra, sementara ini tinggal di rumah Tante dulu saja ya, sambil menunggu kesehatanmu benar-benar pulih. Tante tidak mungkin membiarkanmu tinggal sendiri di kontrakan" kata Bu Windy ke Zora.


"Terima kasih, Tante. Tidak usah, Zora sudah benar-benar sehat kok. Zora janji akan lebih jaga diri dan kesehatan. Kalau ada apa-apa Zora pasti hubungi Tante" tolak Zora halus agar tidak menyakiti hati wanita yang kini beralih kedudukannya sebagai ibu pengganti Zora.


"Enggak...enggak... Pokoknya kamu harus tinggal sama Tante sampai kamu benar-benar sehat, titik" kata Bu Windy memaksa. Ia menggunakan sedikit paksaan untuk menekan Zora agar mau mengikuti permintaannya, karena baginya semua ini juga untuk kebaikan Zora.


Zora tak mampu lagi beralasan untuk menolak kemauan Bu Windy. Ia hanya bisa pasrah dan terpaksa menurut.


"Dari sini kita pulang ke kontrakanmu dulu untuk mengambil beberapa barangmu yang kamu butuhkan selama tinggal bersama Tante, nanti setelah itu kita berangkat ke rumah Tante" kata Bu Windy yang hanya dijawab Zora dengan anggukan pasrah.


Setelah Evi mengurus administrasi rumah sakit sesuai perintah Bu Windy, mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit diantar oleh sopir pribadi Bu Windy ke alamat yang dituju sesuai rencana tadi.


Jarak rumah sakit dari kontrakan Zora yang cukup dekat membuat mereka tak perlu berlama-lama untuk sampai tujuan.


Setelah beberapa menit berkemas dengan barang bawaannya, Zora keluar rumah dengan membawa tas ransel yang biasa digunakannya kerja dan menenteng tas kecil di tangannya.


"Sudah?" tanya Bu Windy memastikan setelah melihat Zora yang keluar hanya membawa sedikit barang.


Zora mengangguk yakin karena memang ia merasa hanya akan membutuhkan beberapa hari saja untuk menginap disana.


"Kamu yakin?" tanya lagi Bu Windy.


"Yakin, Tante. Zora hanya butuh perlengkapan kerja dan beberapa potong baju" jawab Zora.


"Baiklah. Ya sudah, ayo" kata Bu Windy yang tak lagi bisa membantah.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Windy yang lokasinya cukup jauh. Sambil mengobrol dan bercanda, mereka berusaha untuk mengisi kejenuhan selama perjalana. Setelah memakan waktu satu jam lamanya, mereka sampai di rumah mewah milik Bu Windy yang tempo hari pernah Zora kunjungi.

__ADS_1


"Ayo, Zora. Kita masuk ke dalam" ajak Bu Windy pada Zora yang nampak seperti orang sungkan.


Dengan ragu-ragu, Zora mengikuti langkah Bu Windy sambil menenteng barang bawaannya.


"Bi, bantu Zora bawakan barang-barangnya ke kamar tamu ya" pinta Bu Windy pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik, nyonya" jawab asisten itu yang kemudian mendekati Zora dan meminta barang bawaan Zora untuk ia bawakan. "Mari, nona. Saya antar ke kamar anda" ajaknya kemudian.


Zora hanya menurut saja pada asisten yang diperintah pemilik rumah itu.


Asisten rumah tangga yang bernama Bi Lasmi itu mengajak Zora ke sebuah ruangan yang berada tepat di bawah tangga. Dan saat pintu ruangan itu di buka, nampak sebuah ruangan kamar yang sangat besar dan mewah bagi Zora. Bahkan lebih besar dari rumah kontrakan Zora.


"Ini kamar anda, nona" kata Bi Lasmi yang kemudian masuk untuk menyimpan barang Zora.


"Terima kasih ya, Bu."


"Panggil saja saya Bi Lasmi, nona" kata Bi Lasmi meralat panggilan untuknya.


"Baik, Bi."


Mata Zora menyapu seluruh ruangan di kamar itu. Tak banyak barang disana. Hanya sebuah bed berukuran cukup besar dengan sebuah nakas di sampingnya, sebuah televisi dan almari pakaian, serta sebuah ruangan yang ia pastikan adalah kamar mandi. Tentunya semua itu tak sebanding dengan ukuran ruangan yang begitu besar sehingga membuat ruangan kamar itu nampak semakin luas saja.


Zora merapikan barang-barangnya di almari. Karena barang yang dibawanya hanya sedikit, itu memudahkannya untuk menyimpan.


"Bagaimana, Ra. Kamu suka kamarnya?" tanya Bu Windy yang tiba-tiba masuk karena melihat pintu ruangan yang terbuka lebar. Bu Windy duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Zora beberes.


"Eh, Tante" sahut Zora yang sedikit tersentak karena tidak menyadari kedatangan Bu windy. Zora berdiri dan ikut duduk di samping Bu Windy setelah menutup kembali almari yang baru saja ia gunakan untuk menyimpan barangnya.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Tante. Kamar ini sangat besar sekali. Bahkan lebih besar dari rumah kontrakan saya" kata Zora begitu polos.


Bu Windy hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Tante, kenapa hanya senyum?" tanya Zora heran.


"Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal disini selama yang kamu mau"

__ADS_1


"Tidak.. tidak, Tante. Saya lebih baik tinggal di rumah kontrakan saja" tolak Zora dengan cepat.


"Ya sudah terserah kamu saja. Tante mau istirahat dulu. Kalau butuh sesuatu kamu bisa minta tolong salah satu asisten rumah tangga disini" kata Bu Windy yang kemudian pergi keluar dari kamar tempat Zora tinggal sementara.


Zora menutup pintu kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Sambil mengamati langit-langit kamar, ia mencoba untuk beristirahat agar kesehatannya cepat membaik dan bisa kembali kerja besok. Ia tak ingin terus-terusan ijin karena itu juga akan mengurangi gaji bulanannya.


Sudah satu jam Zora hanya berguling ke kanan dan kiri. Meski dengan mata tertutup, gadis itu tak juga bisa tertidur. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur dimana tempat banyak para pekerja berkumpul mengerjakan pekerjaan mereka.


Beruntung saat menuju kamarnya ia telah melewati dapur sebelumnya sehingga mempermudahnya untuk menemukan dimana lokasi dapur.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zora tiba-tiba membuat tiga asisten rumah tangga yang tengah berada di dapur terkejut karena kaget.


"Nona, apa ada membutuhkan sesuatu?" tanya Bi Lasmi.


"Emm... tidak, Bi. Saya hanya merasa bosan di kamar. Jadi saya kemari barangkali bisa membantu mengerjakan sesuatu"


"Tidak perlu, nona. Anda bisa istirahat saja dulu. Nanti saat tiba waktunya makan siang, saya akan memanggil anda" kata Bu Lasmi yang tidak ingin tamu dari majikannya ikut bersusah payah di dapur.


"Tidak apa-apa, Bi. Saya juga terbiasa melakukan ini" kata Zora meyakinkan Bi Lasmi jika dirinya juga mampu melakukan pekerjaan seperti mereka.


Setelah perdebatan singkat, akhirnya Bi Lasmi mengijinkan Zora untuk ikut bergabung di dapur karena gadis itu begitu memaksa.


"Saya bisa bantu apa ini, Bi?" tanya Zora.


"Nona iris sayuran saja. Jangan mengerjakan pekerjaan yang berat. Nona kan baru sembuh" kata asisten rumah tangga lain yang tengah mencuci peralatan masak.


"O iya... Kita belum kenalan ya, perkenalkan saya Zora" kata Zora begitu ramah dengan senyumnya yang manis.


"Salam kenal, nona. Saya Sri. Saya kepala dapur. Saya yang paling tua disini. Orang-orang biasa panggil saya emak Sri" kata seorang wanita berumur kepala lima yang tengah meracik bumbu.


"Kalau saya Nisa, non. Saya anaknya emak Sri. Tugas saya disini ikut membantu memasak"kata yang wanita yang baru saja menyelesaikan mencuci peralatan masak.


"Salam kenal semua. Panggil saya Zora saja. Tidak perlu embel-embel. Lagi pula saya bukan nona rumah ini" kata Zora dengan senyum candanya.


"Maaf, nona. Kami tidak mungkin melakukan itu pada orang terdekat nyonya Windy yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri" tolak Bu Lasmi halus.

__ADS_1


"Ya sudah terserah kalian saja" kata Zora pasrah dengan senyum.


__ADS_2