KENZORA (Kenzo & Zora)

KENZORA (Kenzo & Zora)
Bab 3


__ADS_3

Hari Kedua Pelatihan.


Zora dan para peserta pelatihan lainnya sudah bersiap untuk memulai acara. Hari ini adalah hari kedua sekaligus hari terakhir pelatihan. Zora yang duduk diapit oleh kedua sahabatnya menyimak materi yang telah disampaikan oleh narasumber.


"Ra.." Bisik Meta pelan.


Zora menjawabnya hanya berdehem pelan.


"Cowok yang kemarin nemuin kamu itu pacarmu, ya?"


"Yang mana?"


"Itu yang duduk di depan kamu, itu yang kemarin panggil kamu kan?" tanya Meta berbisik.


Zora mengalihkan pandangannya mencari pria yang dimaksud oleh Meta. Dan ternyata lelaki itu adalah Doni.


Doni tersenyum manis saat Zora melihat ke arahnya. Begitu pula Zora, ia membalasnya dengan senyuman.


"Dia teman SMA ku dulu" jawab Zora pelan ke Meta.


"Kayanya dia suka sama kamu"


"Iih jangan ngarang. Mana mau dia sama anak desa kaya aku" jawab Zora mengelak.


"Ya, namanya cinta siapa yang tau, Ra. Lihat aja dari tadi tidak berkedip memandangmu"


"Udah, jangan ghibah. Nanti kita ketinggalan materi" celetuk Eza tiba-tiba, padahal ia tak mengerti apa yang kedua teman perempuannya itu bicarakan.


Kedua wanita itu pun sontak mengatupkan kedua bibirnya dan tak lagi berani berbicara.


Dari pelatihan itu nantinya akan dipilih beberapa karyawan anak cabang yang akan dipindahkan ke kantor pusat. Dimana pegawai yang memiliki kinerja bagus dan ulet yang akan lolos seleksi.


Pelatihan berakhir lebih awal dari sebelumnya. Tepat pukul satu siang semua peserta pelatihan sudah membubarkan diri. Zora yang akan kembali ke kantor cabang bersama teman-temannya berpamitan dengan peserta lain.


"Kamu langsung pulang ya, Ra?" tanya Doni ke Zora.

__ADS_1


"Iya, kami semua harus segera kembali ke kantor" jawab Zora ramah.


"Kamu hati-hati ya, semoga nanti kita bertemu lagi" ucap Doni.


"Terima kasih, kamu juga hati-hati"


Zora, Meta dan Ega melakukan perjalanan kembali ke kantor cabang tempatnya bekerja. Jarak dari kota ke desa membutuhkan waktu tiga jam. Ketiga karyawan itu sampai kantor sore hari.


Zora mengikuti rapat sebelum kembali pulang ke rumah. Ia dan kedua temannya menyampaikan laporan tentang hasil pelatihan.


Usai dengan semua tugasnya, Zora bergegas mengambil motornya di parkiran khusus karyawan. Ia buru-buru pulang agar bisa segera bertemu dengan ibunya yang ia rindukan.


Di sela-sela melepas rindu dengan sang ibu, Zora menceritakan pengalamannya berada di kota. Bu Alya begitu senang mendengarkan cerita putrinya.


"Terlepas dari semua tentang pria itu, apa kau senang jika hidup di kota?" tanya Bu Alya.


Zora terdiam. Ia menundukkan wajahnya. Sambil mencoba berpikir bagaimana cara ia mengungkapkan. Sebenarnya ia senang tinggal di kota. Dengan suasananya, jalanan yang lebih dikenalnya, dan semua tentang kesehariannya. Ya meski sudah setahun lebih Zora tinggal di desa, ia tetap belum hafal jelas jalanan di daerah itu. Ia hanya hafal betul arah jalan ke kantor. Selebihnya ia akan mengajak sepupunya bila ingin pergi-pergi. Namun di sisi lain, ia tak ingin menyakiti hati ibunya dengan mengingat kenangan buruk tentang cerita kematian ayahnya.


"Tidak, ibu. Lagi pula aku harus kesulitan mencari pekerjaan disana" jawabnya mengelak. Ia berusaha memungkiri perasaannya demi tidak menyakiti ibunya.


Zora tersenyum. Ia bahagia ibunya sangat menyayanginya. Ia menahan air mata harunya agar tidak jatuh.


"Ibu istirahat dulu ya, sudah malam" kata Zora agar mereka tidak larut dalam kesedihan.


"Kamu juga, besok kamu akan bekerja. Segeralah tidur" pinta Bu Alya.


Ibu dan anak itu kembali ke kamar masing-masing setelah mengucapkan selamat malam.


Zora merebahkan tubuhnya. Lelah seharian bekerja tak bisa membuatnya tidur cepat. Ia mengingat-ingat masa-masa dirinya dan kedua orang tuanya saat masih tinggal di kota. Zora menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Begitu lelah dan penat untuk mengenang semua itu.


*******


Pagi harinya Zora sudah duduk di balik komputer di meja kerjanya. Zora sudah siap untuk melayani pelanggan dan nasabah bank yang membutuhkan pelayanan dan konsultasi mengenai perbankan.


Hari ini bank tidak begitu ramai seperti hari sebelum-sebelumnya. Zora masih bisa sedikit bersantai sambil mengobrol dengan teman yang duduk di sampingnya sambil menunggu nasabah.

__ADS_1


"Ra, hasil seleksi untuk pemindahan pegawai ke kantor pusat sudah keluar lho" ucap Rita, teman sekerja Zora.


"Beneran, kamu tahu darimana?"


"Tadi ada bocoran dari pak Hermawan". Pak Hermawan adalah pimpinan kantor cabang bank tempat Zora bekerja. "Katanya dari cabang sini ada satu pegawai yang dipindah ke sana. Kalau tidak kamu, ya Meta, atau bisa jadi Eza" lanjut Rita.


Zora menanggapinya hanya dengan membulatkan bibirnya. Ia mencoba bersikap biasa saja meskipun sebenarnya hatinya diliputi kegundahan. Suatu kebanggaan sebagai pegawai untuk bekerja di kantor pusat. Karena disana merupakan para pegawai pilihan. Namun, ia bingung bagaimana memberitahukan ke ibunya jika dirinya yang terpilih. Dan lagi, ia juga tidak yakin jika dirinya yang terpilih.


"Kalau kamu yang terpilih, jangan lupain kita-kita ya" ucap Rita tiba-tiba.


Zora tersenyum dan mengangguk. "Aku kan masih pegawai baru yang belum cukup pengalaman, Ta. Mana mungkin aku terpilih"


"Jangan pesimis gitu. Mereka dan dipilih bukan karena pengalaman kerjanya, tapi karena bagusnya kinerja. Siapa tahu kamu salah satu orang yang beruntung"


"Aamiin.... aku Aamiinin aja kalau gitu" kata Zora mengarahkan kedua tangannya ke atas dan kemudian mengusap nya ke wajah seperti orang berdoa.


Dua wanita itu terkekeh pelan. Begitulah kebiasaan mereka. Bercanda saat luang di tempat kerja.


Zora dikenal sebagai gadis yang riang dan ceria. Parasnya yang ayu membuatnya banyak dikenali di bank itu. Dan juga kinerjanya yang sangat baik meski dirinya hanya pegawai baru di dunia perbankan.


Jam istirahat telah tiba. Para pegawai bergantian menggunakan jam istirahatnya untuk makan dan istirahat sejenak. Zora dan beberapa pegawai lainnya memilih untuk makan siang di dekat kantor setelah mendapatkan pengumuman adanya rapat singkat setelah jam istirahat.


Waktu berjalan begitu cepat. Semua karyawan sudah bersiap di ruang meeting untuk mengikuti rapat singkat sebelum kembali menutup jam istirahat.


"Terima kasih atas kehadiran teman-teman semua. Langsung saja untuk mempersingkat waktu. Setelah perwakilan dari kantor cabang kita mengikuti pelatihan di kantor pusat, berdasarkan informasi yang sudah tersebar dan kalian ketahui, kantor pusat akan memilih beberapa karyawan yang akan dipindah tugaskan di kantor pusat. Dan suatu kebanggan bagi kita karena salah satu karyawan dari kita ada yang lolos seleksi. Jadi, yang terpilih ini nantinya harus mengikuti peraturan yang berlaku. Jadi mau tidak mau tiga hari lagi ia harus siap pindah ke kantor pusat. Jadi kesimpulannya Senin sudah tidak bekerja bersama kita semua lagi disini. Dan karyawan itu adalah..." diam sejenak mengembangkan senyum. Kemudian menunjuk salah satu karyawan dengan telapak tangan kanannya, " Almahyra Zora, selamat untuk anda yang sudah terpilih" lanjut pimpinan kantor cabang yang juga memimpin rapat.


Zora yang masih terkesiap hanya diam dan mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sementara para rekan kerjanya sudah banyak yang menyalami tangannya dan mengucapkan selamat. Bukan karena sombong, ia hanya dilema antara bangga dan khawatir akan ibunya.


Seusai rapat, Zora lebih sering diam. Lebih tepatnya ia sedang berpikir dengan mengumpulkan beberapa kalimat yang akan diucapkannya pada sang ibu.


Hingga jam kerja usai, Zora meminta ijin untuk pulang duluan tanpa menunggu trman-tannya seperti biasa. Ia bergegas pulang karena ingin menemui ibunya untuk membicarakan berita pemindahannya. Di satu sisi, ia menginginkan pekerjaan ini. Namun di sisi lain ia khawatir ibunya akan menolak untuk kembali tinggal di kota sementara ia tidak mungkin tega meninggalkan ibunya sendiri tinggal sendirian di rumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘

__ADS_1


__ADS_2