KENZORA (Kenzo & Zora)

KENZORA (Kenzo & Zora)
Bab 10


__ADS_3

Suasana bandara Soekarno-Hatta mulai nampak gelap. Namun tak menyurutkan sedikitpun wajah-wajah manusia yang tengah berada disana.


Bu Windy telah tiba setelah melakukan penerbangannya dari Singapura. Kehadirannya sudah ditunggu oleh Evi dan sopir pribadinya di ruang jemput penumpang.


Setelah bertemu dengan asisten dan sopir pribadinya, Bu Windy segera melanjutkan perjalanan menuju rumah kontrakan Zora. Ia terlalu cemas memikirkan nama wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya. Bahkan ia tak pulang dulu ke rumahnya.


Tepat pukul setengah delapan malam, rombongan Bu Windy tiba di rumah kontrakan Zora. Kondisi rumah itu masih sama, sepi dengan lampu yang masih menyala.


Bu Windy mencoba mengetuk pintu berulang kali. Namun tetap saja tidak ada sahutan ataupun jawaban dari dalam. Ia mencoba mengintip di balik kaca jendela yang tirainya sedikit terbuka. Ada motor Zora yang di dalam. Bu Windy yakin betul gadis itu ada di dalam. Namun entah mengapa ia tak membukakan pintu. Bu Windy mencoba mengetuk kembali. Kali ini ketukan itu cukup keras, dan hasilnya masih sama. Sesaat kemudian ia mencoba menghubungi ponsel Zora. Tetap saja tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba terdengar suara benda dari kaca yang jatuh dari dalam.


"Seperti suara gelas jatuh" ungkap Bu Windy yang mendengar dengan jelas.


"Betul, Bu. Saya juga mendengarnya" sahut Evi yang juga mendengar suara itu.


"Saya khawatir terjadi sesuatu sama Zora. Saya yakin sekali dia ada di dalam" kata Bu Windy semakin cemas.


Dari sebelah rumah Zora, keluar salah satu ibu-ibu tetangga yang mendengar suara dari luar.


"Eh, anda mbak-mbak yang tadi kan?" tanya ibu tetangga yang tidak asing melihat wajah Evi.


"Iya, betul, Bu" jawab Evi tersenyum.


"Dari tadi mbak Zora belum sampai pulang, mbak. Mungkin dia liburan di kampung halamannya. Coba besok kembali lagi" kata ibu itu menyarankan.


"Tidak mungkin, Bu. Saya baru saja mendengar suara gelas jatuh dari dalam. Dan motor Zora juga diparkir di dalam" sahut Bu Windy.

__ADS_1


Ibu tetangga itu mulai penasaran. Ia pun berjalan menuju teras rumah Zora untuk mengintip keadaan di dalam. Dan benar saja, apa yang dikatakan Bu Windy memang benar.


"Begini saja, Bu. Bagaimana kalau saya antar anda ke rumah ibu kontrakan biar bisa pinjam kunci cadangan. Nanti sampaikan saja maksud dan apa yang anda ketahui. Barangkali kita bisa dipinjami. Syukur-syukur juga mbak Zora mencabut kuncinya dari dalam" saran ibu tetangga ke Bu Windy.


"Boleh, bu" jawab Bu Windy mengiyakan.


Mereka berdua berjalan menuju rumah ibu pemilik kontrakan yang jaraknya hanya seratus meter saja dari tempat Zora. Sedang Evi dan sopir ditugaskan untuk tetap berada di depan rumah Zora.


Setelah meyakinkan ibu kontrakan dengan berbagai alasan, akhirnya mereka mendapatkan pinjaman kunci cadangan untuk membuka pintu rumah Zora.


Ibu tetangga membantu membukakan pintu rumah zora dengan kunci cadangan yang ia dapat. Setelah terbuka, Bu Windy di temani ibu tetangga masuk ke dalam rumah. Mereka mencari keberadaan Zora yang mereka yakini berada di dalam kamar. Beruntung pintu kamar tidak di kunci dari dalam sehingga memudahkan mereka untuk masuk. Dan alangkah terkejutnya dua wanita paruh baya itu saat menemukan beberapa pecahan kaca yang berserakan di lantai dekat tempat tidur. Namun sesaat kemudian pandangan mereka tertuju pada sosok yang tengah meringkuk di atas tempat tidur dengan seluruh badan yang tertutup selimut. Siapa lagi kalau bukan Zora.


Kedua wanita yang tengah berdiri di ambang pintu berlari mendekati Zora yang saat itu tengah menggigil kedinginan. Padahal tubuh Zora sangat panas sekali.


"Kamu demam tinggi, Ra. Tante akan membawa kamu ke rumah sakit" kata Bu Windy setelah menyentuh kening dan pipi Zora.


"Pak Ilham, tolong bantu saya menggendong Zora ke mobil" pinta Bu Windy pada sopirnya yang baru saja masuk.


Pak Ilham mengangguk dan tanpa menunggu lama segera membopong tubuh Zora menuju ke mobil diikuti oleh yang lainnya. Tanpa harus menunda lagi, Bu Windy dan rombongan segera menuju rumah sakit setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada ibu tetangga.


Setibanya di rumah sakit, Bu Windy menjelaskan sakit yang Zora alami pada dokter.


Dokter membawa Zora menuju ruang IGD untuk di periksa. Sementara Bu Windy dan yang lainnya diminta untuk menunggu di luar ruangan agar tidak mengganggu pemeriksaan.


Sembari menunggu dokter keluar menyampaikan kabar tentang Zora, Bu Windy menghubungi rumah untuk memberikan kabar jika malam ini ia akan menginap di luar.

__ADS_1


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan. Ia pun mencari keluarga pasien dimana Bu Windy langsung berdiri dari duduknya dan mendekat.


"Pasien disini hidup sendiri, dok. Saya yang merawatnya" ucap Bu Windy.


"Baik, ikut ke ruangan saya sebentar. Sementara pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan"


Bu Windy mengikuti langkah dokter menuju ruangannya yang letaknya tak jauh dari ruang IGD. Dan dokter mempersilahkan bu Windy untuk duduk setelah memasuki ruangan.


"Begini, Nyonya. kondisi pasien hanya demam biasa. Hanya saja penangananya yang sedikit lambat sehingga membuat pasien menggigil hebat. Mengenai tubuhnya yang seperti kaku, saya khawatir ini disertai alasan ada gangguan dari psikisnya. Pasien nampak seperti tertekan. Untuk lebih jelasnya, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke depannya" kata dokter memberikan penjelasan.


"Saya mengerti, dok. Tolong usahakan yang terbaik" ucap Bu Windy.


Bu. Windy keluar dari ruangan dokter dan langsung menuju ruang dimana Zora dirawat setelah mendapatkan informasi dari asisten Evi yang ikut menemani Zora.


"Terimakasih, Evi. Maaf sudah merepotkanmu untuk mengurus Zora" ucap Bu Windy.


"Ini sudah tugas saya, Bu" jawab Evi tersenyum.


"Kamu pulanglah dulu dan istirahat. Besok pagi tolong ke rumah untuk membawakan beberapa baju ganti untuk saya"


"Ibu tidak pulang dan akan menunggu nona Zora sendirian disini? Saya tidak mungkin meninggalkan ibu disini sendirian" tanya Evi.


Bu Windy mengangguk. Ia memberikan senyuman yang begitu lembut pada asistennya. "Tidak masalah, Vi. Di rumah juga tidak ada yang menunggu saya. Lagipula ruangan ini cukup nyaman untuk beristirahat", ucapnya pada Evi.


Bu Windy memang sengaja memilih ruangan terbaik di rumah sakit itu untuk memberikan kenyamanan pada Zora dan pada dirinya sendiri tentunya yang akan tinggal disana sementara untuk menemani Zora.

__ADS_1


Evi pun akhirnya mengiyakan apa kata atasannya. Dengan terpaksa ia berpamitan dan meninggalkan atasannya sendiri untuk menunggu gadis yang beliau sudah anggap seperti keponakannya sendiri.


__ADS_2