
Pagi ini Zora sudah siap dengan tas ranselnya yang sudah lebih dulu ia letakkan di pijakan kaki motor maticnya.
"Hati-hati disana. Jaga diri baik-baik" pesan ibu Alya pada Zora sebelum berangkat.
"Ibu juga, Zora pamit ya, Bu" pamit Zora mencium punggung tangan ibunya.
Zora melangkahkan kaki mengambil motornya yang terparkir setelah mengucapkan salam. Ia pun melajukan motornya menuju kantor bank tempatnya bekerja.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Ketiga karyawan yang ditugaskan menuju ke kantor pusat sudah bersiap dengan bawaannya untuk berangkat diantar oleh mobil inventaris kantor.
Zora mencoba menghilangkan kegugupannya dengan bercanda tawa dengan rekannya. Ya, hari ini adalah pertama kalinya ia kembali ke kota semenjak kepergian ayahnya. Mulai sekarang, ia akan berusaha melupakan semua kenangan pahit di masa lalunya untuk hidup yang lebih baik.
"Ra, nanti kalau acara hari ini selesai, kamu ajak kita jalan-jalan keliling kota ya, kan kamu pasti hafal sama tempat-tempat yang bagus" kata Meta.
"Siap, bossku..." jawab Zora semangat.
Sesampainya di lokasi tujuan, mereka mengikuti pelatihan bersama karyawan dari kantor cabang lain. Dimana ada satu sosok laki-laki yang menjadi perhatian Zora. Zora merasa tidak asing dengan sosok itu. Namun karena takut salah dengan pemikirannya, ia tetap diam tanpa menyapa.
Pelatihan hari pertama berakhir pukul empat sore. Semua karyawan membubarkan diri keluar dari aula. Zora hendak kembali ke mobil bersama meta untuk menuju ke hotel penginapan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Almahyra Zora" panggil lelaki itu membuat Zora menoleh ke belakang.
"Kamu Zora, kan?" tanyanya ulang memastikan.
"Iya, betul. Jadi kamu Doni ya?" tanya balik Zora menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Aku masih belum percaya kita bertemu lagi disini. Sudah empat tahun lebih kita tidak bertemu. Kamu banyak berubah. Aku sampai tidak bisa mengenalimu. Kamu apa kabar?"
"Aku baik, Don. Kamu karyawan bank ini juga?"
"Iya. Kamu mau ke hotel?" tanya Doni.
"He'em. Teman-temanku sudah menunggu. Aku duluan ya" kata Zora sambil menoleh ke arah mobil yang di belakangnya.
"Boleh minta nomormu?" tanya Doni menyodorkan ponselnya.
Zora mengambil ponsel Doni dan mengetikkan beberapa nomor disana.
__ADS_1
"Ini, aku duluan ya" pamit Zora seraya mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
"Terimakasih. Sampai bertemu di hotel" ucap Doni yang dijawab Zora dengan senyuman.
Zora masuk ke dalam mobil. Ia meminta maaf akan peristiwa yang membuat teman-temannya menunggu. Beruntung kedua rekannya bisa mengerti.
"Tadi siapa kamu, Ra? Cakep banget lho" ucap Meta yang terlihat lagi. akan ketampanan Doni.
"Yee... kamu ini, Met. Kalau lihat yang bening matanya langsung cling" celetuk Eza, satu-satunya pria yang ikut pelatihan dari kantor cabang tempat Zora bekerja.
Kalimat Eza sontak membuat gelak tawa seisi mobil. Bahkan pak supir yang semula hanya diam ikut tertawa mendengar gurauan para penumpangnya.
Sesampainya di hotel tepat para peserta pelatihan menginap, Zora menghubungi Anita untuk mengajaknya bertemu. Zora pun bersiap-siap untuk keluar setelah mendapatkan balasan dari Anita. Tak lupa ia mengajak Eza dan juga Meta untuk ikut serta. Selain melepas rindu dengan sahabatnya, Zora juga mengajak teman-teman sekantornya untuk jalan-jalan.
Dia sela-sela waktu luangnya, Zora selalu menyempatkan diri menghubungi ibunya untuk bertukar kabar. Ia merasa lega karena ibunya sehat dan baik-baik saja.
Ketiga pegawai bank itu berangkat menjemput anita sesuai alamat yang telah dikirimkan lewat pesan WhatsApp. Zora meminjam mobil inventaris kantor setelah mendapatkan ijin dari sopirnya. Ia memilih untuk menyetir sendiri mobil itu sendiri agar pak sopir bisa istirahat.
"Nunggu lama ya?" tanya Anita yang baru saja keluar dari sebuah gang.
"Tidak, kami baru saja sampai" jawab Zora diikuti senyum ramah para rekannya.
Zora meminta Anita yang mahir dalam menyetir dan memiliki surat izin mengemudi itu untuk mengambil alih mobil kantor agar mempermudah menemukan tujuan. Bukan karena malas. Setahun lebih Zora meninggalkan kota, ia sedikit asing dengan banyaknya perubahan yang ada. Bahkan jalan besar yang dulu biasa ia lewati kini bercabang tak terhitung entah berapa banyaknya.
Setelah berjam-jam mengunjungi beberapa taman hiburan dan wisata malam, mereka berempat memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan malam di sebuah kafe yang cukup ramai.
Zora yang tengah bercanda tawa dengan teman-temannya menghentikan aktifitasnya sejenak saat mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Takut telepon penting, Zora meminta ijin sedikit menjauh dari kawan-kawannya untuk menerima panggilan.
"Halo Zora, kamu sedang apa?" suara seseorang dari seberang telepon.
"Maaf, ini siapa ya?" tanya Zora yang merasa asing dengan suara itu.
"Ini aku Doni. Kamu lagi ngapain?"
"Oo... Kamu, Don. Aku lagi makan sama teman-teman sekalian jalan-jalan"
"Wah... seru dong. Kok enggak ngabarin sih, tahu gitu tadi aku bisa ikut"
__ADS_1
"(Tertawa pelan) Iya, maaf. Aku lupa" jawab Zora sekenanya.
"Ya sudah kalian lanjutin lagi saja. Maaf ya sudah mengganggu waktumu"
"Tidak apa-apa kok. Santai saja"
"Ya sudah aku tutup ya"
Panggilan terputus setelah Zora mengiyakan perkataan Doni.
Zora kembali bergabung dengan teman-temannya dan menghabiskan makan malamnya yang mulai dingin karena tertunda sebuah panggilan.
Hingga malam mulai larut, ke empat anak muda itu memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebelumnya mereka mengantarkan Anita pulang ke rumahnya.
Lelah akan aktifitas seharian dari mulai pelatihan sampai jalan-jalan wisata malam Jakarta membuat Zora dan Meta yang tinggal sekamar segera membersihkan diri sesaat sebelum mengistirahatkan tubuhnya.
"Tinggal di kota ternyata seru ya. Banyak tempat-tempat bagus, makanan enak, semuanya menyenangkan" ucap Meta begitu riang menceritakan kehidupan kota.
"Ya, begitulah" jawab Zora senyum.
"E tapi anehnya kok malah kamu lebih milih pulang ke desa. Apa tidak sayang?" tanya Meta heran.
Zora tersenyum masam. Sejenak ia mengingat masa-masanya saat keluarganya masih utuh. "Semenjak ayahku meninggal, aku harus menjadi tulang punggung keluarga, ibu juga sering sakit. Aku tidak mungkin melanjutkan kehidupan disini sementara biaya hidup tidak ada yang murah. Dan lagi, kejadian pahit yang tidak bisa aku ceritakan...", diam sejenak, "Sudahlah lupakan" ucapnya tiba-tiba memaksakan senyum untuk menutupi kesedihannya.
Mera mengusap lengan sahabatnya. Ia bisa memahami rasa sedih yang Zora rasakan meski wanita itu tak mengungkapkannya. "Sakitnya masa lalu itu tidak untuk diingat, jadikan semua itu pelajaran" kata Meta memberikan semangat pada Zora.
Zora tersenyum lebar. Ia merasa aneh mendengar perkataan Meta yang cukup bijak. Padahal wanita itu suka sekali bercanda. Bahkan ia hanya akan berbicara serius pada orang tua atau atasannya.
"Kenapa senyum-senyum? Heran ya sama kata-kataku yang bijak?" tanya Meta dengan membanggakan dirinya seraya menarik turunkan kedua alisnya.
Zora mencebikkan bibirnya. Ia begitu gemas dengan tingkah lucu sahabatnya itu. "Terserah deh, aku mau tidur, sudah malam" jawab Zora yang kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Zora... jangan tutup wajahmu. Aku kaya tidur sama mayat tahu tidak sih" teriak Meta membuat sore terkekeh dan kemudian membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Ya sudah, ayo tidur" ajak Zora.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘