
Sambil duduk di kursi yang biasa digunakan para pembantu untuk memasak dan makan, Zora ikut membantu pekerjaan mereka mengiris sayuran.
"Di rumah ini kalau siang memang sepi ya, mak?" tanya Zora pada mak Sri yang duduk di sampingnya.
"Disini itu mau pagi siang malam suasananya ya seperti ini, non. Sepi" jawab mak Sri.
"Bukannya Bu Windy punya seorang anak?"
"Dua lebih tepatnya, non. Den Kenzo sama nona Keyza"
"Terus mereka kemana? Apa tidak pernah pulang?" tanya Zora penasaran.
"Den Kenzo tidak tinggal disini, Non. Beliau sudah lebih memilih tinggal di apartemen miliknya di jalan XXX, Jaraknya satu jam dari sini. Beliau sejak lulus SMA sudah mandiri dan tidak tinggal bersama mamanya. Den Kenzo itu pekerja keras lho, Non. Dia hebat. Bisa sukses hingga seperti sekarang ini. Bahkan beliau yang bekerja keras membangun dan menata kembali perusahaan di saat perusahaan milik keluarga besar hampir bangkrut. Semua hasil kerja keras beliau. Makanya Bu Windy sangat bangga sama den Kenzo" jelas mak Sri yang paling tahu tentang keluarga disana.
"Kalau nona Keyza?" tanya Zora.
"Kalau nona Keyza masih menempuh kuliah di luar negeri. Tapi kabarnya nona akan pulang lusa karena liburan panjang"
"Kalau asisten rumah tangga yang tinggal disini ada berapa, mak?"
"Ada banyak, non. Ada sepuluh orang. Bu Lasmi sebagai kepala asisten disini. Tugasnya bertanggung jawab untuk memeriksa hasil pekerjaan para asisten. Kalau pekerjaan dia selesai biasanya Bu Lasmi ikut bantu-bantu kami. Untuk bagian dapur ada saya sama anak saya. Terus bagian laundry ada satu orang. Tiga orang bagian bersih-bersih, satu satpam, satu sopir, dan satu tukang kebun" lanjut mak Sri menjelaskan dengan detail.
Zora mendengarkan cerita dari mak Sri dengan seksama. Keramahan Zora membuatnya dengan mudah berbaur dengan para penghuni di rumah besar yang kini menjadi tempat tinggalnya sementara. Mereka menyelesaikan pekerjaan sambil sesekali mengobrol membicarakan tentang kehidupan masing-masing.
"Non Zora bisa masak?" tanya Nisa yang kebetulan usianya hanya berselisih lima tahun dari Zora.
"Sedikit, mbak Nisa" jawab Zora sambil tersenyum .
"Biasanya yang nona bisa masak apa?"
"Saya biasanya masak masakan tradisional seperti rendang sama masakan khas Jawa"
"Wah, kalau itu bukan sedikit lagi, non. Itu mah jago masak namanya. Kebetulan juga ini Bu Windy minta dimasakin rendang" kata Nisa kagum membuat emak Sri menepuk punggungnya karena takut perkataan putrinya dianggap seolah memberikan perintah agar Zora memasak.
__ADS_1
"Kalai boleh saya mau bantu masaknya, mbak Nisa" jawab Zora tiba-tiba membuat para penghuni dapur sungkan.
"Jangan didengar, non Zora. Nisa hanya bercanda saja. Biar kami yang memasak. Nona bisa istirahat saja dulu" sahut emak Sri sambil melototi Nisa.
"Betul, nona. Kami tidak mau nona kelelahan. Nanti Ibu bisa marah kalau tahu" sela bi Lasmi menambahi.
Zora tersenyum mendengar perkataan mereka. Ia mencoba meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Begitupun Bu Windy tidak akan tahu jika semua yang ada disana tidak memberitahu.
"Tidak apa-apa, bi, mak. Saya baik-baik saja. Ayo kita mulai" kata Zora memaksa tanpa bisa dibantah lagi oleh orang-orang disana.
Zora mulai meracik bumbu dan menghaluskannya dnegan mesin blender. Dengan bantuan mbak Nisa yang sudah memotong daging sesuai dengan ukuran semestinya, Zora mulai menumis bumbu racikannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit saja Zora sudah tak sanggup melanjutkan masakannya. Tangannya mulai lelah mengaduk-aduk masakannya agar tidak gosong. Mengolah rendang memang butuh kemampuan ekstra. Apalagi kalau daging yang dimasak begitu banyak seperti saat ini. Terlebih ia baru saja sembuh.
"Mbak Nisa, tolong lanjutin ya... tangan saya mulai kaku" pinta Zora tersenyum malu-malu.
Mbak Nisa mengiyakan dan segera mengambil alih pekerjaan Zora.
Zora duduk kembali di kursi. Sambil memperhatikan bi Lasmi yang tengah meniris bawang di sampingnya, zora membuka obrolan kembali.
"Tidak juga, non. Tapi kalau rendang, memang masaknya harus banyak. Soalnya rendang itu kesukaannya den Kenzo. Biasanya beliau minta dibungkusin juga buat pulang. Makanya masaknya banyak."
Zora hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Satu jam di dapur membuatnya merasa gerah karena seluruh badannya seperti tercium bau rendang. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
*****
Satu jam berlalu. Zora sudah rapi dengan pakaian bersihnya setelah mandi.
Di dalam kamar, Zora nampak sibuk berkutat dengan ponselnya untuk memeriksa beberapa laporan pekerjaan yang masuk dalam email-nya. Beberapa hari terakhir semenjak sakit, Zora memang memilih untuk bekerja dari rumah sementara sambil menunggu kondisinya membaik.
Zora merasa sedikit kesulitan bekerja tanpa laptopnya yang tertinggal di rumah kontrakan.
__ADS_1
"Ah, sial. Bagaimana mungkin aku mengetik sebanyak ini dengan ponselku. Ini sungguh tidak nyaman" keluhnya sambil terus memandangi lembaran kertas di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tak lepas dari ponsel miliknya.
tok...tok...tok...
"Non, ditunggu Bu Windy di bawah untuk makan siang"
Ketukan dan panggilan dari bi Lasmi terdengar jelas di telinga Zora. Ya, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Pekerjaan yang cukup menguras otak dan tenaganya membuatnya lupa akan waktu.
"Iya, bi. Sebentar lagi saya turun" jawab Zora tanpa membuka pintu.
Bi Lasmi meninggalkan kamar yang ditempati Zora setelah mendengar jawaban dari pemiliknya.
Zora bergegas membereskan laporan miliknya dan menyimpannya kembali di tas kerjanya. Tak ingin merepotkan pemilik rumah, Zora segera keluar kamar dan berjalan ke arah meja makan.
Dari jauh nampak bi Lasmi tengah berdiri sedikit menunduk di depan meja sambil menyendokkan nasi di piring tuannya. Tapi ada yang aneh siang ini. Yang biasanya Bu Windy katanya hanya makan sendiri, entah mengapa Zora melihat ada sosok lain disana. Sayangnya, siapa sosok itu Zora tidak bisa melihat ya dengan jelas karena terhalangi oleh hiasan pot bunga plastik yang cukup tinggi di ruang tamu.
Perlahan Zora terus melangkahkan kaki mendekat ke meja makan. Dan ternyata sosok lain itu adalah putra dari Bu Windy, Kenzo. Zora masih ingat betul wajah Kenzo. Laki-laki yang pernah hampir berdebat dengannya waktu mengurus tanda tangan permintaan Bu Windy.
"Selamat siang, Tante" sapa Zora saat dirinya sudah berada di dekat meja makan.
"Siang, sayang. Ayo duduk kita makan siang dulu"
Kehadiran orang lain selain mamanya membuat Kenzo mengangkat wajahnya untuk melihat siapa wanita yang tengah ikut berada di meja makan bersamanya.
Kenzo menyipitkan matanya melihat sosok Zora berada di rumah miliknya. Laki-laki itu seakan malah karena kehadiran Zora yang menurutnya cukup menyebalkan.
"Mama ngapain undang dia kesini" celetuk Kenzo tak terima. Ia masih teringat bagaimana Zora mengatainya dengan tidak baik.
"Hust... jaga bicaramu, Ken. Mama tidak suka kamu bersikap seperti itu" tegur Bu Windy ke putranya yang semakin membuat Kenzo malas.
Zora merasa canggung berada di tengah-tengah anak dan ibu yang hampir berdebat karenanya. Zora sadar betul tidak seharusnya ia berada disana karena dirinya bukan siapa-siapa.
"Maaf, Tante. Saya bisa makan di belakang saja kok sama Emak Sri dan yang lain" sahut Zora dengan senyum memaksa. Ia merasa tidak enak karena kehadirannya mengganggu suasana. Begitupun dengan bi Lasmi yang juga merasa aneh dengan tingkah tuannya yabg tak seperti biasa. Baru kali ini ia mendengar tuannya berkata cukup sinis.
__ADS_1
"Sudah jangan ditanggapi. Sini duduk di samping Tante" pinta Bu Windy sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.