
Zora telah sampai di depan rumah kontrakannya. Ia sedikit bingung saat melihat sebuah mobil mewah keluaran Jepang terparkir di halaman tepat di depan pintu rumahnya.
"Mobil siapa ini, sepertinya bertamu ke rumah" tanya Zora berbicara sendiri setelah melirik pintu rumahnya yang terbuka.
Zora menyapa seorang pria paruh baya berseragam sopir tengah duduk di depan mesin mobil dengan senyuman dan anggukan sopan. Begitupula
Merasa mengenal pemilik mobil itu, Zora masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa ia mengucapkan salam sesuai agama yang dianutnya. Betapa terkejutnya ia mendapati Bu Windy disana.
"Nah, ini putri saya, Dy" ucap ibu Zora memperkenalkan Bu Windy pada Zora.
"Bu Windy" sapa Zora yang masih belum percaya kehadiran Bu Windy di rumah kontrakannya.
"Jadi Mbak Zora ini putri kamu?" tanya Bu Windy.
Bu Alya kebingungan karena ternyata mereka saling mengenal.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Alya.
Bu Windy mengangguk dengan senyum ramahnya. Ia membenarkan pertanyaan Bu Alya karena memang dua hari ini mereka saling bertemu.
Zora berjalan mendekati dua wanita paruh baya yang tengah duduk di ruang tamu kemudian menyalami keduanya.
"Kebetulan Bu Windy ini punya peran penting di tempat Zora kerja, Bu. Beliau penanam saham besar disana" ungkap Zora. "Bu Windy bagaimana bisa kemari?"tanya Zora ke tamunya yang masih belum bisa ia tangkap alasan kehadirannya.
"Bu Windy ini teman lama ibu, Ra. Kebetulan pas tadi ibu ke apotek ketemu disana. Eh malah ibu dianterin pulang" celetuk Bu Alya.
"Iya, Mbak Zora. Kebetulan kami dulu sangat dekat. Tapi karena setelah lulus kuliah saya harus pindah ke Singapura, saya jadi kehilangan kontak dengan ibumu sampai sekarang ini" sahut Bu Windy menanggapi membuat Zora mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Panggil saya Zora saja, Bu" tutur Zora. Karena tidak enak jika orang kaya itu memanggilnya dengan embel-embel.
Bu Windy tersenyum. Ia sangat tertarik pada keramahan dan kesopanan Zora terhadapnya. "Kalau begitu panggil juga saya dengan Tante" pintanya ramah.
Zora meninggalkan dua wanita yang kini tengah melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Ia pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Kedua wanita itu saling mengobrol ringan, membicarakan dan menceritakan kehidupan masing-masing selepas lulus kuliah.
Beberapa menit kemudian Zora kembali dan ikut bergabung dengan ibu dan tamunya. Mereka mulai bercanda tawa dan bergurau dalam obrolan
"Ya sudah kalau begitu, ini sudah malam. Saya harus pamit dulu" kata Bu Windy memperbaiki tentengan tasnya untuk pamit karena baru menyadari jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Bu Windy meninggalkan kartu namanya pada Zora dan ibunya. Berharap selalu mendapatkan kabar dan berita dari sahabat lamanya. Sesaat kemudian ia mengundurkan diri.
*****
Sejak pertemuan dua sahabat lama malam itu, Zora mulai sering bertemu dengan Bu Windy. Terkadang beliau berkunjung ke rumah kontrakan Zora saat weekend. Dan tak jarang pula mereka diundang untuk makan siang di luar.
Bu Alya mengeluhkan badannya yang terasa sakit semua dan dada yang terasa sesak. Zora pun mengakhiri aktifitasnya dan membawa ibunya untuk ke kamar beristirahat. Ya, Bu Alya memang sering sakit-sakitan semenjak kepergian suaminya. Yang lebih parahnya, ia kini sering merasakan sakit di bagian dadanya hingga menyebabkan sulit bernafas.
Zora cukup panik dan cemas. Namun ia tetap berusaha untuk tenang demi agar ibunya tidak berfikir yang macam-macam.
"Ibu tidur saja dulu. Biar Zora temani disini" kata Zora menutup sebagian tubuh ibunya dengan selimut.
Zora dengan setia menunggu dan menemani ibunya. Sesekali ia mengusap lembut tangan ibunya yang mulai keriput. Tanpa Zora sadari, kedua sudut matanya menggenang mengingat bagaimana perjuangan ibunya saat kepergian ayahnya. Ibu Zora melindungi Zora dari perlakuan buruk orang-orang jahat yang tak punya hati dengan meninggalkan tanah kelahirannya dan pulang ke kampung halaman suami. Semua itu demi melindungi dan menjaga Zora, anak tunggal kesayangannya yang selalu ia banggakan. Ia tidak ingin Zora kenapa-napa.
*****
__ADS_1
Pagi harinya, Zora memutuskan untuk izin kerja karena tidak bis meninggalkan ibunya sendiri dalam keadaan sakit. Ia tak sampai hati jika ibunya harus sendirian dan tak ada yang menemani. Yang ada di pikirannya, bagaimana jika ibunya kenapa-kenapa, dan bagaimana jika ibunya butuh sesuatu sedangkan tidak ada yang bisa dimintai tolong mengingat tetangga kontrakan mereka juga pada sibuk bekerja.
Kesehatan Bu Alya makin lama makin memburuk karena rasa sesak di dadanya. Zora semakin khawatir dan cemas. Ia tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Zora sudah tak peduli lagi tentang jumlah biaya yang harus ditanggung selama perawatan ibunya. Baginya, yang bisa dicari, tapi kesehatan ibunya yang utama.
Zora duduk termenung di samping tempat tidur ibunya dirawat. Dipandanginya wajah ibunya yang nampak pucat. Zora begitu sedih melihat ibunya terbaring tak berdaya. Bu Alya sedang tertidur karena pengaruh obat penenang yang dokter berikan. Wanita paruh baya itu butuh banyak istirahat untuk menjaga
Kali ini yang Zora butuhkan dorongan dan semangat. Ia tidak mungkin menghubungi pamannya untuk datang menemaninya mengingat jarak dari desa ke kota yang lumayan jauh. Ada dua nama yang terngiang di ingatan Zora. Anita dan Bu Windy. Namun rasanya kurang pantas jika harus menghubungi Bu Windy karena beliau orang sibuk dan lagi ia tak punya ikatan saudara. Sedang Anita, Zora tidak mungkin menghubunginya sekarang mengingat waktu sudah mulai larut.
Malam itu Zora menemani ibunya sendirian di ruang perawatan. Malam yang larut tak bisa membuat Zora memejamkan kedua matanya. Pikirannya tengah kalut karena khawatir kondisi ibunya. Bahkan ia tak lagi memperhatikan kesehatan tubuhnya sendiri yang juga lelah.
Zora masih terjaga di pukul dua dini hari. Matanya tak beralih sedikitpun dari tempat ibunya berbaring. Sesekali ia melirik ke arah cairan infus yang tergantung di tiang sebelah tempat tidur ibunya. Jika habis, maka ia tinggal menekan tombol yang terpasang di tembok untuk menghubungi perawat jaga.
Zora semakin tak tenang saat nafas ibunya mulai tidak beraturan. Dengan sigap ia pun menekan tombol berulang kali agar perawat datang.
Dan benar saja. Tak lama kemudian perawat datang memeriksa ringan kondisi pasien. Merasa ada yang lain, perawat itu memanggil dokter jaga.
Dokter meminta Zora untuk keluar karena harus melakukan pemeriksaan pada Bu Alya. Dengan terpaksa Zora mengikuti perintah dokter demi keselamatan ibunya.
Sudah sepuluh menit lebih sejak dokter menutup pintu ruangan. Namun, ia dan perawatnya tak juga kunjung keluar memberi kabar. Zora semakin cemas ketakutan memperhatikan di balik pintu kaca yang tertutup. Ia tak tega melihat ibunya semakin kesakitan.
Keadaan Bu Alya yang tidak stabil membuat dirinya harus dipindahkan ke ruang intensive care unit. Banyak selang yang harus dipasang di tubuhnya. Kali ini bisa dipastikan Zora akan menguras habis tabungannya demi pengobatan ibunya. Bahkan kalau dihitung-hitung mungkin jumlahnya tidak akan cukup.
Zora hanya bisa menangis meratapi ibunya yang tak sadarkan diri. Tubuh Zora terasa lemah karena dari kemarin hanya kemasukan air untuk menahan lapar. Ia tak sampai hati meninggalkan ibunya sendirian hanya untuk membeli makanan.
Matahari mulai menampakkan warna terangnya. Lewat biasnya yang menembus jendela ruangan dengan gorden yang sudah terbuka, kehangatannya telah membuang sedikit demi sedikit hanya dingin yang merasuk tubuh. Zora memberanikan diri menghubungi pamannya untuk menyampaikan kabar sakitnya sang ibu. Sebenarnya ia tidak ingin lagi merepotkan pamannya mengingat paman Ali hanya saudara ipar bagi ibunya.
Paman Ali terkesiap mendengar kabar dari Zora. Namun, ia tak bisa berangkat ke kota karena dirinya sekarang juga sedang sakit. Zora bisa memaklumi itu. Ia mendoakan pamannya agar cepat pulih dan meminta paman Ali untuk mendoakan saudara iparnya agar cepat sembuh.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘