
"Terima tawaran itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali" ucap Bu Alya setelah Zora menyampaikan niatnya.
"Tapi, bu____"
"Tapi apa? Jangan terlalu banyak pertimbangan. Ini kesempatan emas buatmu. Sangat jarang bagi seorang pegawai baru mendapatkan kepercayaan seperti ini. Mungkin ini awal kesuksesanmu. Terimalah, nak. Sudah cukup bagimu untuk menderita, Bahagiakan hidupmu. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu" potong Bu Alya memberikan nasehat pada putrinya.
Zora sejenak terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan tak berani menatap wajah ibunya. Sesaat kemudian, ia berkata tanpa mengubah posisinya, "Zora akan setuju bila ibu ikut bersama Zora ke kota."
Bu Alya tak menanggapi apapun perkataan putrinya. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang nampak keriput.
"Ibu satu-satunya yang aku punya sekarang. Aku tidak mungkin meninggalkan ibu sendiri disini" kata Zora.
"Ibu tidak sendiri, ada pamanmu dan keluarganya disini" kata Bu Alya.
"Tidak, Bu. Apapun itu, keputusanku sudah bulat. Aku akan menerima tawaran itu jika ibu bersedia bersamaku" kata Zora lembut, namun penuh penekanan. Bahkan ia tak berani menatap wajah ibunya yang ia yakini kini tengah sedih.
Bu Alya terdiam tak bisa lagi membantah ucapan putrinya. Satu-satunya alasan yang ia gunakan sudah tidak berguna lagi untuk menolak permintaan putrinya.
"Baiklah, ibu akan menerima permintaanmu" ucap Bu Alya kemudian membuat Zora tersenyum haru. Hatinya cukup senang mendengar ucapan ibunya. Saking senangnya hingga kedua matanya berkaca-kaca.
Zora mengangkat wajahnya dan memeluk ibunya. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini perlahan jatuh di pipi mulusnya.
"Maafkan Zora, Bu" ucap Zora dengan bahu bergetar.
"Tak ada yang perlu dimaafkan. Yang terpenting kita jalani hidup dengan baik. Tuhan sudah menentukan jalan setiap manusia. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk selalu menjadi lebih baik" kata Bu Alya membelai rambut putrinya yang tergerai.
Zora menarik diri dari pelukan ibunya. Sebuah senyum mengembang di wajah ayunya.
******
Suara bising jalanan dan ramainya manusia lalu lalang menambah sibuknya ibukota yang kala itu dipenuhi beberapa orang-orang yang tengah menikmati liburan atau sekedar mencari angin. Ya, hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana Zora dan ibunya tiba di Jakarta untuk memulai hidup baru kembali.
Zora memutuskan untuk langsung ke Jakarta setelah sehari yang lalu berpamitan dengan teman-temannya di kantor lama.
Zora menaiki angkot setelah turun dari bus menuju rumah kontrakan yang disarankan oleh Anita. Lokasi kontrakan itu sengaja dipilih tidak jauh dari kantor pusat agar mempersingkat waktu Zora meninggalkan ibunya sendiri.
__ADS_1
Saat sudah sampai di kontrakan utang dituju dan bertemu dengan pemiliknya, Zora dan Bu Alya bergegas membereskan barang bawaannya untuk disimpan rapi disana. Zora harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga karena besok ia harus sudah mulai bekerja di tempat baru.
*****
Pagi harinya, di hari pertama Zora bekerja di kantor yang baru, Zora berkenalan dengan beberapa karyawan kantor pusat dan karyawan baru lainnya yang juga berstatus sama dengannya. Disana, ada satu sosok yang menarik perhatian Zora. Doni, teman SMA Zora yang kemarin juga ikut serta dalam acara pelatihan kemarin.
"Ra, aku nggak nyangka kita ketemu lagi disini" ucap Doni.
"Kamu juga lolos seleksi?" tanya Zora memastikan dan Doni menjawabnya dengan mengangguk.
"Selamat ya" kata Zora mengulurkan tangannya.
Doni tersenyum dan membalas uluran tangan Zora, "selamat juga untukmu."
Seluruh karyawan langsung memulai pekerjaan masing-masing. Zora yang sudah mendapatkan informasi di bagian mana dirinya ditempatkan, segera menuju meja kerjanya untuk menyimpan beberapa keperluannya disana.
*****
Sudah seminggu lebih Zora menempati tempat barunya. Sikapnya yang ramah dan mudah bergaul mempermudah dirinya untuk menerima rekan baru, terlebih suasana Jakarta yang tak lagi asing baginya mempermudah kinerjanya saat atasannya memintanya untuk melakukan kunjungan nasabah khusus yang memiliki peran cukup penting di bank tersebut.
Seperti hari ini, Zora ditugaskan untuk menemui salah satu nasabahnya yang juga pemilik saham di tempatnya bekerja dimana sedang membutuhkan pelayanan di alamat yang sudah tertulis di sebuah map tebal yang kini dipegang olehnya.
Alamat itu cukup mudah ditemukan, karena di daerah itu dikenal sebagai kawasan perumahan elit dan mewah bagi para orang kaya.
Baru saja memasuki kompleks, Zora sudah disuguhkan beberapa bangunan rumah yang begitu mewah dan megah yang berjejer rapi. Zora membaca setiap nomor yang tertera di pintu gerbang rumah untuk mencari alamat rumah yang dituju. Pencarian Zora berhenti di sebuah rumah yang paling besar di tempat itu. Rumah itu tertutup pagar besi yang cukup tinggi. Bangunan rumah itu bergaya Eropa dan halaman di depannya menjadi kepuasan tersendiri bagi Zora. Bagaimana tidak, bangunan rumah tiga lantai yang besar itu nampak semakin megah dengan menonjolkan empat pilar besar di bagian depan. Halaman rumah yang begitu luas nampak asri dan indah dihiasi beberapa bunga dan taman yang mengelilingi sebuah kolam ikan.
Zora menekan bel yang terpasang di depan pintu gerbang. Tak butuh waktu lama suara seorang laki-laki dari balik kamera terdengar cukup jelas bagi Zora.
"Dari mana dan cari siapa, mbak?" tanya laki-laki yang tidak menampakkan wajahnya itu.
"Permisi, bapak. Selamat pagi. Saya pegawai dari bank XXX yang ditugaskan untuk menemui Ibu Windy Octarina yang membutuhkan pelayanan" ucap Zora ramah.
"Tolong tunggu sebentar. Saya konfirmasi dulu ke beliau."
"Baik, pak."
__ADS_1
Zora dengan sabar menunggu laki-laki itu menghubungi atasannya. Zora memperhatikan lingkungan sekitar kompleks perumahan disana. Nampak sepi. Tentu saja karena orang kaya begitu tertutup dan sibuk hingga tidak punya waktu untuk sekedar menyapa tetangga kanan kirinya.
Tak la kemudian seorang lelaki berseragam sekuriti yang diduga berbicara dengan Zora tadi membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Zora masuk. Zora kembali menaiki motornya dan membawanya masuk sesuai kata sekuriti.
Zora tercengang melihat pemandangan rumah dan bangunan bak istana nampak jelas di hadapannya.
Namun dengan cepat ia menyadari kebodohannya. Ia tidak boleh terlihat kampungan yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Mari saya antar menemui Bu Windy" ucap seseorang yang berbeda dari lelaki yang tadi membukakan pintu. Lelaki yang ini nampak lebih tua yang Zora duga adalah seorang tukang kebun.
Zora mengangguk dan mengikuti langkah bapak tua yang berjalan lebih dulu di depannya.
Zora digiring masuk melewati pintu utama bangunan rumah yang dibiarkan terbuka. Zora kembali dibuat tercengang dengan interior rumah yang nampak begitu mewah dan indah. Namun sejenak pandangan mata Zora beralih ke sebuah sofa mewah yang ditunjuk oleh bapak yang mengantarnya.
"Silahkan duduk sambil menunggu Bu Windy keluar" ucap bapak itu.
Zora tersenyum dan mengangguk. Ia duduk seperti yang diarahkan oleh bapak itu. Sambil menunggu pemilik rumah muncul, ia mengeluarkan map dan beberapa barang yang dibutuhkan dari dalam tasnya. Zora tak lagi memperdulikan pemandangan barang-barang mewah di rumah itu karena harus mempersiapkan dokumen milik nasabah yang dikunjunginya.
"Sudah lama menunggu ya, mbak" sapa seorang wanita yang berjalan mendekat membuyarkan konsentrasi Zora.
Zora berdiri dari duduknya dan menyalami wanita berusia kepala lima yang masih nampak begitu cantik dan anggun. Tak lupa Zora menyematkan senyum ramahnya yang biasa ia tunjukkan saat memberikan pelayanan pada nasabah bank. Meski belum pernah kenal sebelumnya, Zora yakin wanita itu yang bernama Bu Windy.
"Selamat pagi, ibu. Saya Zora utusan dari bank XXX" kata Zora memperkenalkan diri.
Bu Windi tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia mempersilahkan Zora untuk kembali duduk diikuti olehnya.
Bu Windy menyampaikan maksudnya meminta pihak bank mengirimkan salah satu pegawainya datang. Ia bermaksud saham yang ia tanam di bank tersebut dipindahkan atas nama putranya.
Zora menyanggupi permintaan Bu Windy dan menunjukkan lembar demi lembar dokumen atas nama Windy Octarina. Zora menjelaskan beberapa poin penting pada Bu Windy secara jelas dan detail.
Bu Windy mendengarkan dan memperhatikan Zora dengan seksama. Berkali-kali senyum ia kembangkan saat melihat wajah Zora yang serius.
"Gadis ini begitu lihai dalam menjelaskan. Dia juga begitu menarik" batin Bu Windy dalam hati.
Bu Windy tak menyimak keseluruhan isi yang Zora sampaikan karena saking sibuknya pikirannya mengagumi gadis yang duduk tak jauh darinya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘