
Zora melangkahkan kaki keluar dari gedung perusahaan dengan raut wajah kesal. Bibirnya yang merah ranum bahkan tak henti mengumpat tanpa suara.
Zora kembali ke bank tanpa peduli tujuan awalnya. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana harus kembali ke kantor agar bisa menghubungi Bu Windy untuk mengatakan jika dirinya tak bisa mendapatkan tandatangan dari Kenzo.
Seperti rencana sebelumnya, Zora menghubungi Bu Windy untuk menyampaikan maksudnya. Ia mengaku putus asa dengan alasan putra CEO itu sangat sulit untuk ditemui.
"Baiklah tidak masalah. Anda bisa datang kemari besok siang di jam istirahat. Tidak apa-apa kan? Karena saya berencana mengundangnya untuk makan siang. Dengan begitu anda bisa memperoleh tanda tangan darinya. Pokoknya saya ingin anda yang datang. Bukan pegawai lain" kata Bu Windy lembut namun penuh dengan penegasan. Entah mengapa dia merasa cocok dengan Zora hingga harus menggunakan alasan kerja untuk bertemu dengan gadis itu lagi.
"Baik, Bu" jawab Zora dengan nada lemas. Dirinya seakan malas jika harus kembali lagi bertemu dengan lelaki sombong itu. "Ada lagi yang mau ditanyakan, Bu Windy?" lanjut Zora bertanya sebelum mengakhiri panggilan, seperti yang biasa para pegawai lain lakukan untuk menutup sambungan telepon.
"Tidak ada, mbak. Terimakasih, saya senang kota bekerjasama" tutur Bu Windy.
Zora menutup sambungan telepon setelah menyudahi obrolannya.
*****
hari berikutnya seperti yang telah dijanjikan, Zora memenuhi undangan Bu Windy untuk datang ke rumahnya kembali. Tujuannya masih sama, mendapatkan tanda tangan untuk dokumen penting. Jika bukan karena Kenzo merupakan orang penting di tempatnya kerja, mungkin Zora sudah enggan untuk melakukan pekerjaan itu.
Zora mendatangi kediaman Bu Windy masih dengan gaya berpakaian yang sama, hanya warnanya yang berubah. Celana abu tua dan kemeja berwarna putih di balut blazer berwarna senada dengan celana. Penampilannya memang tak seheboh para pegawai lain yang lebih suka mengenakan rok mini. Namun meski demikian tak mengurangi kepopulerannya di kantor karena kecantikannya yang belum tersaingi.
"Silahkan masuk mbak, sudah ditunggu sama ibu di dalam" ucap salah satu asisten rumah tangga disana yang menggiringnya masuk.
Zora diajak masuk ke meja makan untuk menemui Bu Windy dan putranya yang tengah menikmati makan siang.
Suara langkah kaki dua wanita yang berjalan mendekat mengalihkan perhatian Bu Windy dan Kenzo untuk menoleh ke arah suara.
"Ayo, Mbak Zora. Kemari ikut makan siang juga" ajak Bu Windy.
"Mama ngapain ngundang tuh wanita kemari, Kenzo tidak mau makan semeja dengan dia" kata Kenzo kesal. "Bisa hilang selera makanku" lanjutnya menggerutu.
__ADS_1
"Kenzo, kamu ini bicara apa sih, tidak baik seperti itu" tutur Bu Windy menasehati tingkah putranya yang kekanak-kanakan. "Ayo Mbak Zora, sini ikut makan bareng" ajaknya ke Zora.
Zora yang mendengar perkataan Kenzo menjadi sedih. Ia merasa kecil berada di tempat itu. Namun dengan hebat ia menutupi kesedihannya dengan senyuman.
"Saya sudah makan barusan Bu, terima kasih. Biar saya tunggu di depan saja" tolak Zora sesopan dan seramah mungkin karena tak ingin mengganggu aktifitas ibu dan anak itu.
Zora berjalan keluar melewati pintu utama dengan mengumpat Kenzo habis-habisan. Sayangnya umpatan itu tidak sampai di bibirnya. Zora duduk di kursi rotan yang diletakkan di teras. Tubuh Zora terasa lemas karena sebenarnya ia melewatkan makan siangnya demi mendapatkan tanda tangan kenzo. Ia berbohong pada Bu Windy dengan mengatakan sudah makan siang.Padahal sebenarnya ia belum sempat menikmati makan siangnya. Beruntung ia menyimpan sebungkus roti di dalam tasnya.
Zora segera mengeluarkan roti dan air minum dari dalam tasnya lalu menikmatinya. Tak butuh waktu lama sebungkus roti itu habis tak tersisa. Zora mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya seraya menunggu ibu dan anak itu menyelesaikan makannya.
Beberapa menit kemudian asisten rumah tangga yang tadi datang menemui Zora dan meminta Zora untuk kembali masuk karena sudah ditunggu oleh pemilik rumah di ruang tamu.
Zora bangkit dan menuju ruangan yang dimaksud. Zora duduk di depan Bu Windy dan Kenzo. Lain dengan Bu Windy yang menyambut Zora dengan senyum ramah, Kenzo justru menunjukkan wajah dinginnya seolah enggan untuk bertemu Zora.
Zora sudah menyadari sikap Kenzo yang tak ramah padanya. Zora acuh dan tak peduli. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana mendapatkan tanda tangan itu dan segera kembali ke kantor.
Zora berpamitan setelah menyelesaikan urusannya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di kantor.
Di kantor, Zora harus berhadapan dengan setumpuk file nasabah yang ia tinggalkan karena harus mengurus tanda tangan Kenzo. Bahkan hingga waktu menunjukkan jamnya pulang, ia masih belum selesai juga.
"Yang lain udah pada pulang lho, kamu yakin masih mau menyelesaikan ini?" tanya Doni menghampiri Zora. Ia duduk di kursi yang ada di depan meja Zora dengan sudah menggendong tas ransel di punggungnya.
"Tinggal dikit kok" jawab Zora tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di hadapannya.
"Ya sudah aku temani" kata Doni membuat Zora menghentikan aktifitasnya.
"Tidak perlu. Kamu pulang aja duluan. Bentar lagi juga aku selesai. Lagi pula aku tidak sendirian disini. Tuh masih ada mbak Hesti sama mas Ari, ada pak satpam juga" tolak Zora halus dan menunjuk ke dua temannya yang juga masih dengan aktifitas yang sama dengannya.
"Baiklah kalau begitu, aku tinggal duluan tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Tidak apa, kamu hati-hati ya"
Zora kembali fokus pada kerjaannya. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan berkas-berkas itu dan kembali pulang agar ibunya tidak khawatir.
Teringat akan ibunya, Zora mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya untuk memberitahukan jika dirinya akan pulang terlambat.
Zora : "Assalamualaikum, ibu"
Ibu: "Waalaikumsalam, tumben belum pulang, Ra"
Zora: " Zora sedikit terlambat ya, Bu. Zora masih harus menyelesaikan beberapa berkas"
Ibu: "Ya sudah, kamu hati-hati. Ibu mau pamit ke apotek buat beli obat ibu yang habis"
Zora: "Tidak nunggu Zora saja, Bu? Nanti Zora belikan sepulang kerja. Biar ibu tidak capek-capek"
Ibu: " Tidak apa-apa, Ra. Ibu sekalian cari angin. Lagipula nanti takutnya kamu pulang kemalaman"
Zora: "Baiklah, ibu hati-hati ya"
Panggilan terputus setelah keduanya saling mengucapkan salam. Zora merasa lega setelah menghubungi ibunya. Ia bisa kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Tepat pukul delapan seperempat, Zora menyelesaikan semua berkas nasabah. Ia membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.
Dengan semangat ia pun mengendarai motor kesayangannya yang selalu menemaninya kemanapun pergi. Beruntung jarak tempatnya kerja dengan rumah kontrakannya cukup dekat. Sehingga ia hanya membutuhkan waktu lima belas menit menempuh perjalananan dengan motor maticnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘
__ADS_1