KENZORA (Kenzo & Zora)

KENZORA (Kenzo & Zora)
Bab 9


__ADS_3

Suasana rumah kontrakan Zora sudah ramai para tetangga yang melayat. Begitu pula pak Ali beserta istri dan anaknya yang sudah jauh-jauh datang dari desa demi memberikan penghormatan terakhir kepada saudara iparnya serta memberikan dukungan dan pelukan hangat untuk keponakannya.


Zora melampiaskan kesedihannya di pelukan istri pak Ali, Bu Heny, wanita yang sudah Zora anggap sebagai ibu keduanya di kampung karena selalu membantunya merawat Bu Alya.


"Yang tenang, Ra. Ikhlaskan ibumu. Beliau sudah bahagia bersama ayahmu disana. Doakan saja orangtuamu" pesan Bu Heny menenangkan dengan mengusap punggung Zora.


Zora mencoba ikhlas dengan menguatkan dirinya sendiri. Ya, ia sadar kini ibunya sudah bahagia bersama ayahnya di alam sana. Tak ada sakit ataupun kesedihan lagi yang mereka rasakan.


Zora menghapus air matanya. Ia akan berusaha kuat dan ikhlas menerima semua cobaan yang dialaminya.


Zora didampingi Bu Heny dan Bu Windy untuk mengantarkan Bu Alya di peristirahatan terakhir. Zora telah menepati janjinya. Ya, di tak lagi menangis. Ia nampak begitu tegar meski semua orang tahu jika sebenarnya ia rapuh.


********


Sudah seminggu sejak kepergian Bu Alya. pak Ali dan keluarga pun sudah kembali ke desa. Begitu pula dengan Zora yang sudah mulai dengan aktifitasnya di bank setelah beberapa hari mengambil libur. Sesekali Bu Windy datang mengunjungi Zora di rumah kontrakannya ketika malam hari usai gadis itu pulang kerja.


Seperti malam ini, Bu Windy menemani Zora sambil membawakan beberapa makanan. Wanita itu sangat peduli pada Zora mengingat persahabatannya dengan ibu Zora begitu dekat waktu muda.


"Tante tidak perlu repot-repot sampai kesini membawa banyak makanan" tegur Zora karena setiap kali sahabat ibunya itu datang, selalu banyak makanan yang ia bawa. Zora sadar betul ia tak mungkin menghabiskan sendiri makanan itu. Hingga terkadang, ia membagikan makanan itu kepada tetangga terdekat.


"Tante tidak repot sama sekali, Ra. Tante senang melakukan semua ini. Apalagi kalau kamu mau tinggal bersama Tante" jawab Bu Windy setiap kali ditegur oleh Zora. Beliau selalu memberikan tawaran agar Zora mau tinggal di rumahnya. Namun sayangnya, lagi-lagi Zora selalu menolak ajakan itu dengan soapn Ada berbagai alasan yang membuatnya menolak. Salah satunya,, Zora tidak ingin terlalu merepotkan orang lain, terlebih orang itu tidak punya hubungan saudara dengannya.


"Oh iya, Tante juga mau kasih tahu kalau dalam beberapa ke depan mungkin Tante tidak bisa mengunjungi kamu. Tante harus ke Singapura untuk keperluan yang penting. Tapi Tante akan selalu memperhatikan kamu dari sana. Kamu tinggal bilang sama Evi kalau ada yang kamu butuhkan" kata Bu Windy sambil memberikan kartu nama Evi yang tak lain adalah asisten pribadinya kepada Zora.


Zora menerima kartu nama itu sambil membacanya. Disana tertulis nama Evi dan nomor yang bisa dihubungi.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Tante sudah bilang sama Evi tentang kamu. Jadi kamu tidak usah sungkan-sungkan" lanjut Bu Windy yang sengaja meninggalkan asistennya untuk tetap di Jakarta menggantikan pekerjaannya sementara selama dia tinggal.


Zora mengangguk dan tersenyum. Kemudian menyimpan kartu nama itu di dompetnya.


Tak lama kemudian, Bu Windy berpamitan untuk pulang. Ia menyampaikan beberapa nasehat pada Zora agar gadis itu menjaga diri dan kesehatannya. Sesaat kemudian ia masuk ke dalam mobil dan pulang bersama supirnya.


******


Pagi harinya Zora berangkat ke kantor seperti biasa. Ia duduk di meja kerjanya dan melayani beberapa customer yang hendak membutuhkan pelayanan.


Baru saja melayani beberapa customer, tiba-tiba Zora menghentikan pekerjaannya buru-buru pergi meninggalkan meja kerjanya. Ia masuk ke dalam ruangan pegawai dan meminta rekannya untuk menggantikannya sementara.


Cukup lama Zora meninggalkan pekerjaannya. Ia memilih bolak-balik kamar mandi dan ruang karyawan sambil sesekali mengintip ke ruang luar dimana para nasabah dan customer membutuhkan pelayanan. Setelah dirasanya aman, ia kembali ke ruangannya semula dan mengucapkan terima kasih pada rekannya yang telah menggantikan pekerjaannya.


Zora kembali berkutat dengan pekerjaannya hingga waktunya jam pulang kerja tiba. Ia segera membereskan beberapa berkas-berkas nasabah dan bersiap-siap.


"Iya nih, Don" jawab Zora singkat seraya tersenyum.


"Buru-buru ya?."


"Sedikit sih... Memangnya ada apa?" tanya balik Zora.


"Kalau tidak, aku mau ajakin kamu makan malam di kafe deket sini mumpung weekend. Tapi karena kamu nya buru-buru, ya sudah tidak apa-apa. Lain kali saja" kata Doni berusaha tersenyum, padahal terlihat betul dirinya sedang kecewa.


"Sorry ya, Don. Badanku sakit semua rasanya pengen rebahan, istirahat. Lain kali saja ya..." tutur Zora yang sudah tidak kuat lagi menahan sakit badannya.

__ADS_1


Doni mengangguk dengan memaksakan senyumnya agar Zora tahu dirinya baik-baik saja.


Mereka berdua pun berpamitan dan berjalan bersama menuju tempat parkir dimana masong-masing dari mereka mengambil kendaraan bermotornya. Zora dan Doni memisahkan diri karena Doni harus menuju parkiran mobil yang berada di ujung halaman untuk mengambil mobilnya. Sedang Zora tak butuh waktu lama untuk berjalan mengambil motornya yang berada dekat pintu masuk bank.


Sesampainya di rumah, Zora lantas membersihkan diri dan tidur. Ia sudah tidak peduli lagi untuk makan malam. Yang ada di benaknya saat ini adalah mengistirahatkan tubuhnya yang sakit karena kelelahan sepanjang hari.


******


Hari berlalu hingga di penghujung weekend. Di tempat lain, Bu Windy merasakan resah karena semenjak tiba di Singapura. Ia pun menghubungi asisten pribadinya untuk menanyakan kabar Zora karena gadis cantik itu tidak bisa dihubungi.


Sesuai arahan bossnya, Evi pergi menuju rumah kontrakan Zora. Rumah itu nampak sepi. Bahkan lampu teras pun belum dimatikan. Evi mengetuk pintu rumah Zora, berharap pemiliknya akan membukakan pintu. Namun setelah berulangkali mengetuk dan tak menemukan jawaban, Evi pun berhenti. Ia memperhatikan sekitar. Disana nampak cukup ramai beberapa tetangga berada di luar rumah. Evi mencoba bertanya ke tetangga sekitar yang rumahnya berdempetan dengan bangunan yang sama. Bisa dikatakan sederet bangunan disana adalah rumah kontrakan yang sama seperti tempat Zora tinggal.


"Bu, mau nanya. Yang tinggal di rumah ini kemana ya?" tanya Evi ke beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di taman depan rumah sambil momong anak-anak mereka.


"Mbak Zora, ya?" tanya salah satu ibu-ibu disana.


"Iya betul. Dia dimana ya?"


"Dari kemarin rumahnya terkunci mbak. Lampunya juga tidak dimatikan" kata ibu berhijab yang sedang menyuapi putranya. Ia menunjuk pada lampu rumah yang masih menyala.


"Biasanya kalau mau pergi lama, mbak Zora bilang ke kami lho... sama nitip kalau barangkali ada temannya yang nyari. Tidak tahu ini kok tumben sekali", sahut ibu yang lain.


"Oo...begitu ya... Ya sudah terima kasih kalau begitu. Mari ibu-ibu" pamit Evi yang kemudian meninggalkan tempat itu.


Evi menyampaikan informasi yang didapatnya dari beberapa ibu-ibu disana pada Bu Windy. Merasa cemas dan khawatir karena ada kejanggalan, Bu Windy meminta Evi untuk memesan penerbangan pulang pada hari itu juga. Beruntung dua jam kemudian ada penerbangan menuju Jakarta.

__ADS_1


Bu Windy segera bersiap untuk kembali ke Jakarta. Dengan hati yang gelisah, beliau tak henti memikirkan Zora. Entah kenapa gadis itu tidak ada kabar sama sekali dan juga tidak bisa dihubungi.


__ADS_2