
Zora mengenakan jaket serta ranselnya lalu menyusuri jalanan besar menuju alamat kantor perusahaan tempat putra Bu Windy berada setelah mendapatkan pengarahan dari wanita paruh baya yang baru saja ia temui itu.
Suasana jalanan yang cukup ramai tak menghalangi niat Zora untuk segera membereskan pekerjaannya. Terlebih alamat perusahaan yang dituju cukup familiar karena perusahaan itu termasuk salah satu perusahaan terbesar di Asia tenggara.
Zora memperlambat laju motornya saat sudah memasuki kawasan perusahaan. Ia memarkirkan motornya dengan baik setelah menyampaikan maksud kedatangannya pada sekuriti yang bertugas. Zora turun dari motornya dan berjalan menuju pintu lobby.
Saat berjalan melewati halaman kantor yang begitu luas, Zora menghentikan langkah dua lelaki yang berjalan hendak memasuki gedung kantor. Dua lelaki itu tidak berjalan beriringan. Yang satu di depan memakai kaca mata hitam dan menenteng jas di tangannya sedang yang satu di belakang membawa map sambil menempelkan ponsel di telinga layaknya seorang yang tengah menelepon.
"Mas...mas..." panggil Zora pada dua pria yang berjalan melewatinya.
Tak ada tanggapan membuat Zora kembali membuka mulutnya untuk memanggil kembali dua pria itu.
"Mas.."
Panggilan berikutnya masih juga sama, salah satu dari mereka tak ada satupun yang menoleh ataupun menjawab.
Merasa diabaikan dan tidak dipedulikan, Zora menggerutu kesal. "Ihh...cakep-cakep tapi pada budek."
Sayangnya, umpatan Zora di dengar oleh pria depan yang berkacamata hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Sedang pria di belakangnya hanya kebingungan dengan sikap temannya dan kemudian menghentikan panggilannya.
Pria berkacamata itu menoleh dan berjalan mendekati Zora dengan wajah dingin.
"Ulangi sekali lagi apa yang tadi anda bilang" kata pria berkacamata itu dengan nada marah.
"Kenapa? Nada tersinggung?" tanya balik Zora menantang.
Lelaki itu tersenyum sinis dengan ekspresi membunuh. "Jelas saya tersinggung, saya mendengar dengan jelas umpatan anda."
Zora mencebikkan bibirnya. Ia begitu malas menanggapi pria sombong yang ada di depannya. Ingin rasanya menghindari pria itu dan pergi dari sana. Tapi tugas penting baginya untuk menemui presiden direktur perusahaan ini membuatnya mengurungkan niatnya.
"Jika anda mendengar, kenapa anda diam saja waktu saya memanggil? Atau jangan-jangan Anda maunya dipanggung ibu atau embak-embak dulu baru akan menjawab?." Zora memberanikan diri menantang pria itu. Padahal dalam hatinya ia mulai takut dengan wajah marah lelaki itu.
Lelaki itu menunjuk di depan wajah Zora seraya mengeratkan giginya. "Kau...." marahnya pada Zora.
"Apa? Huh?" tanya Zora semakin menantang.
Teman pria itu membisikkan sesuatu pada pria berkacamata hingga emosinya mereda.
"Awas kau ya. Jika saja tidak ada urusan penting hati ini, bisa habis, kau" ancamnya pada Zora dan kemudian berbalik pergi.
Zora tak peduli dengan ancaman lelaki itu. Ia hanya menarik satu sudut bibirnya dan mensedekapkan kedua tangannya di dada. Kesal rasanya harus berurusan dengan laki-laki aneh sementara dirinya belum mencapai tujuannya.
Zora melepas jaketnya dan memasukkannya ke dalam ransel sebelum memasuki pintu utama perusahaan. Ia berjalan menuju lobby untuk menemui resepsionis mengutarakan maksudnya.
"Permisi, mbak. Saya mau menemui bapak Kenzo Rafael"
"Darimana dan ada keperluan apa ya mb?" tanya balik pegawai wanita yang bertugas sebagai resepsionis itu dengan ramah.
"Saya Zora dari bang XXX, mau mengurus dokumen penting dengan beliau"
"Apa sudah membuat janji sebelumnya?"
__ADS_1
"Belum, mbak. Saya diutus oleh Bu Windy Octarina untuk langsung kemari menemui pak Kenzo Rafael."
"Sebentar ya, silahkan anda duduk dulu disana" kata resepsionis itu mempersilahkan kepada Zora untuk duduk di kursi tunggu yang letaknya tak jauh dari meja resepsionis.
Zora mengangguk dan tersenyum. Ia mengikuti apa yang Resepsionis itu katakan. Sementara resepsionis itu mengambil gagang telepon melakukan panggilan dengan atasannya.
Tak butuh waktu lama, nama Zora dipanggil oleh resepsionis setelah usai melakukan panggilan.
"Ibu Zora" panggil resepsionis itu ramah.
Zora berdiri dari duduknya dan kembali mendekati meja resepsionis.
"Silahkan anda langsung menuju lantai empat melalui lift. Pak Presdir menunggu anda" kata resepsionis itu mengarahkan tangannya menunjuk pada lift yang letaknya di sebelah meja kerjanya.
Zora tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia berjalan menuju lift. Tak lama kemudian lift terbuka, ia pun masuk.
Di dalam lift, ia membatin kesal karena dipanggil ibu. Seperti wanita yang tua sekali sementara dirinya merasa masih muda dan cantik.
"Menikah saja belum, sudah dipanggil ibu. Beginilah resiko kerja ini" batin Zora.
Zora telah tiba di lantai empat. Lantai itu nampak sepi tak seperti lobby yang banyak orang berlalu lalang. Hanya ada satu ruangan berukuran besar yang ia yakini adalah ruangan Presdir, dua ruangan berukuran sedang, pantry serta toilet dan sebuah meja kerja yang berada diantara dua ruangan dengan seorang wanita duduk disana.
Zora berjalan mendekati meja wanita itu. Namun tiba-tiba ia melihat seorang lelaki yang tidak asing baginya keluar dari ruangan berukuran sedang.
Lelaki itu adalah lelaki yang barusan Zora temui di halaman gedung kantor. Lelaki yang tadi bersama lelaki sombong berkacamata.
Zora spontan menutupi salah satu pelipisnya dengan kedua tangannya agar lelaki itu tak melihat wajahnya. Beruntung, lelaki itu seolah tak peduli dengan sekitar dan terus saja berjalan melewati Zora menuju lift.
Zora kembali fokus pada tujuannya. Ia mendekati wanita yang duduk di balik meja kerjanya. Di atas meja wanita itu ada papan kecil tertulis nama Sinta, sekertaris Presdir. Sinta tengah melakukan panggilan saat itu. Tak ingin menganggu, Zora dengan sabar menunggu Sinta menyelesaikan panggilannya.
"Mbak Zora, ya?" tanya Sinta ke Zora yang baru saja menutup sambungan teleponnya
Zora mengangguk dan tersenyum membenarkan pertanyaan Sinta.
"Mari saya antar, mbak, Pak Kenzo sudah menunggu di dalam" lanjut Sinta membimbing Zora menuju ruangan Presdir.
Zora membuntuti langkah Sinta menuju ruangan Kenzo yang sebenarnya hanya berjarak lima meter saja.
Sinta mengetuk pintu ruangan Presdir. Sesaat kemudian ia membuka pintu itu setelah mendapatkan jawaban dari dalam.
"Permisi, pak. Perwakilan dari bank XXX sudah datang" kata Sinta tanpa basa basi.
Kenzo yang berdiri membelakangi pintu karena sedang mencari dokumen di almari besar yang berada di balik meja kerjanya hanya menjawab, "makasih, Ta."
Sinta kembali ke ruangannya setelah mempersilahkan Zora masuk dan berpamitan pada bossnya.
Zora sejenak memandangi isi ruangan seraya menunggu bisa besar itu membalikkan badannya. Sesaat kemudian ia tersadar akan tujuannya dan buru-buru menyampaikan tujuannya karena tidak mungkin menunggu terlalu lama yang bisa mengakibatkan pekerjaan kantor ya terbengkalai karena tidak segera kembali.
"Permisi, pak Kenzo. Saya dari bank XXX" sapa Zora berharap lelaki yang sedang memunggunginya itu segera menoleh.
Kenzo memutar kepala dan badannya bersamaan sambil masih memegang dokumen di tangannya. Ia mengerutkan dahinya melihat wanita yang tengah berdiri di hadapannya hanya terhalang meja dan kursi kerjanya.
__ADS_1
"Kau..." tunjuk Kenzo dengan wajah menyeramkan.
Ya, lelaki yang di hadapan Zora adalah Kenzo Rafael. Lelaki berkacamata yang tadi sempat adu mulut dengan Zora di halaman gedung. Zora tak menyangka lelaki yang ia anggap sombong itu adalah seseorang yang mempunyai peran penting di tempatnya kerja.
"Astaga... Mati aku. Kenapa harus dia" gumam Zora ketakutan karena lelaki tampan yang kini tak lagi memakai kacamata hitamnya itu nampak mengerikan karena marah.
"Benar, pak. Saya Zora. Saya diutus Bu Windy Octarina untuk mengurus beberapa dokumen pengalihan nama saham di bank XXX agar diubah menjadi atas nama bapak Kenzo Rafael" tutur Zora sesopan mungkin dengan senyum yang begitu manis bermaksud mengalihkan perhatian Kenzo agar melupakan kejadian di halaman kantor.
Kenzo memicingkan matanya. Ia tersenyum sinis melihat drama yang tengah dimainkan wanita di hadapannya itu. Baginya ini saat yang tepat untuk membalas perlakuan Zora terhadapnya sesaat lalu. Kenzo akan memberikan pelajaran pada Zora yang menurutnya hanyalah seorang wanita berlagak sok.
"Baiklah, silahkan duduk" kata Kenzo mempersilahkan.
Zora yang tengah gugup itu duduk di kursi yang letaknya di depan meja kerja Kenzo.
"Nampaknya wajah anda tidak begitu asing bagi saya" kata Kenzo tiba-tiba.
"E....emm... Mungkin wajah saya terlalu pasaran, pak" jawab Zora gelagapan dengan senyum yang dipaksakan.
Kenzo semakin jengah saja melihat tampang Zora yang pura-pura bodoh. Ia meminta dokumen Zora yang yang semula sudah ditandatangani oleh Bu Windy.
Kenzo membaca sebagian isi dari dokumen itu. Kemudian ia meletakkan dokumen itu diatas meja.
"Saya tidak akan menandatanganinya" ucap Kenzo dingin.
"Lho... kenapa, pak?" tanya Zora.
"Ya suka-suka saya, kalau saya tidak mau kenapa anda memaksa"
"Ya tidak bisa seperti itu dong, pak. Dokumen ini sudah resmi tertulis atas permintaan dari Bu Windy, orang tua anda. Dan saya harus segera menyerahkan kembali dokumen ini ke kantor agar urusan ini segera selesai. Kalau anda menolak untuk bekerja sama dengan segera menandatangani dokumen ini, sama halnya anda mempersulit pekerjaan saya", Zora menjelaskan panjang lebar tentang masalah tersebut. Namun sepertinya Kenzo acuh akan penjelasan Zora. "Tolong lah, pak. Bekerja samalah dengan kami. Biar kami bisa mengurus pekerjaan selanjutnya" lanjut Zora memohon.
"Aku tahu kau perempuan yang tadi memakiku di depan. Kau sudah memperburuk mood ku hari ini. Jadi aku tidak akan peduli dengan tandatangan yang kau minta" ujar Kenzo sinis.
"Tapi pak, saya tidak mungkin kembali ke kantor dengan tangan kosong" kata Zora.
"Itu urusanmu. Aku tidak peduli"
"Pak, saya mohon." Zora memohon mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Paling juga wanita seperti kalian akan mengemis dan merayu supaya dokumen itu bisa ditandatangani" kata Kenzo sombong. Ia memandang remeh Zora penuh kebencian.
Zora mengernyitkan dahinya. Ia merasa tidak suka dengan permintaan Kenzo yang baginya cukup merendahkan harga dirinya. Karena pengalaman di masa lalunya, ia benci dihina dengan perkataan itu lagi.
"Maaf, saya masih punya harga diri. Saya tidak akan melakukannya. Memang pantang bagi saya untuk kembali dengan tangan kosong dalam bekerja. Tapi lebih baik saya kehilangan pekerjaan daripada harus mengemis dan memohon dengan merayu seorang lelaki" kata Zora marah dan kemudian mengambil kembali dokumen yang ada di hadapan Kenzo lalu pergi keluar.
Kenzo yang kebingungan dengan sikap Zora hanya bisa menebak-nebak dalam hati. Semula ia hanya ingin memberi pelajaran agar Zora jera atas perbuatannya. Ia tidak menyangka Zora justru marah karena sikapnya.
Kenzo membuang jauh-jaih pikiran tentang Zora. Kenzo mencebikkan bibirnya. Malas baginya untuk memikirkan para wanita tak penting yang bisanya hanya merepotkan dirinya saja.
"Dasar wanita. Sok jual mahal. Padahal sebenarnya dirinya sangat murahan" kata Kenzo berbicara sendiri setelah kepergian Zora. Karena setiap ada seorang wanita yang datang ke kantornya dengan alasan bisnis, mereka selalu merayu Kenzo. Jadi Kenzo memperlakukan dan menganggap Zora sama dengan para wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘