
Tubuh Zora semakin terasa lemas. Ia memilih berbaring di sofa di dalam ruangan itu untuk meredakan sakit perutnya karena lapar.
Zora melirik ke arah nakas yang ada di sebelah tempat ibunya berbaring. Ada sarapan yang telah di sediakan untuk pasien. Ingin rasanya ia santap makanan yang biasanya terasa hambar itu. Namun, ia teringat akan ibunya yang masih belum sadar. Bagaimana jika ibunya bangun dan lapar sementara ia tidak mungkin meninggalkan ibunya sendiri untuk mencari makanan.
Pikiran-pikiran di otak Zora musnah seketika saat ponsel di tas Zora bergetar. Zora merogoh benda pipih itu dan melihat siapa yang pagi-pagi menghubunginya.
"Bu Windy" gumam Zora karena membaca nama itu di layar ponselnya. Zora bangun dan duduk bersandar di sofa.
Zora menerima panggilan itu dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
"Assalamualaikum, Tante Windy"
"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu dan ibu, nak? Dari kemarin nomor ibumu sudah dihubungi"
"Alhamdulillah, Zora sehat, Tante. Ibu....." diam sejenak melirik ke arah ibunya, "Ibu sedang tidak baik, sakitnya kambuh"
"Sejak kapan, nak? Dimana kalian sekarang?"
"Sejak kemarin pagi, Tan. Kami sekarang di ICU rumah sakit A"
"Kenapa suaramu lemas sekali, sudah makan? Kalau belum Tante bawain sarapan, ya?"
"Tidak perlu repot-repot, Tante"
__ADS_1
"Sudah, Tante tidak repot kok. Tunggu Tante akan kesana bawa makanan buat kamu"
Zora bangun dari duduknya. Ia menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu mencuci wajahnya agar tidak terlihat pucat. Tak ingin berlama-lama meninggalkan ibunya, Zora segera kembali setelah selesai dengan aktifitasnya.
Selang satu jam kemudian suara ketukan pintu dari luar membuat Zora mendekat untuk membukanya. Dan benar saja, Bu Windy datang dengan menenteng sebuah totebag di tangannya.
Zora mempersilahkan Bu Windy masuk untuk melihat keadaan Bu Alya. Mereka mengobrol singkat membicarakan kondisi Bu Alya yang belum sadarkan diri.
"Tiga hari tak bertemu, badanmu nampak semakin kurus. Tante yakin kamu tidak menjaga diri dengan baik karena harus mengurus ibumu yang sakit" kata Bu windy menebak. Zora hanya diam dan menundukkan wajahnya seakan membenarkan. "Jangan sampai kamu ikut sakit. Nanti siapa yang akan merawat ibumu?. Kamu makanlah dulu. Biar ibumu Tante yang jaga" lanjutnya.
Zora menuruti perkataan sahabat ibunya. Dia memang harus menjaga kesehatannya agar bisa merawat ibunya. Zora duduk di sofa dan menikmati makanan yang dibawakan oleh Bu Windy. Sedang Bu Windy duduk di kursi samping tempat sahabatnya berbaring. Ia menyentuh tangan kanan sahabatnya yang tidak terpasang infus. Tatapan matanya sendu menampakkan kesedihan. Bagaimana tidak, sudah puluhan tahun terpisah dengan sahabat dekatnya. Dan saat keduanya bertemu, mereka baru beberapa hari saja menikmati kebahagian. Kini Bu Windy harus melihat sahabatnya terbaring tak berdaya karena sakit yang diderita.
"Tante, saya sudah selesai. Tante kalau lelah bisa pindah duduk dulu di sofa" kata Zora tiba-tiba mengagetkan Bu Windy.
Keduanya kembali membicarakan tentang kondisi kesehatan Bu Alya yang Zora ketahui dari dokter. Namun sepasang mata milik mereka tak beralih sedikitpun dari Bu Alya. Hingga Zora menyadari ada sebuah pergerakan kecil di jari-jari ibunya.
Zora terkesiap. Ia segera memberitahukan apa yang dilihatnya pada Bu Windy. Tanpa berlama-lama lagi, Zora menekan tombol pemanggil perawat.
Dalam waktu beberapa menit saja perawat jaga datang memeriksa. Ia pun kembali keluar untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian perawat itu masuk kembali bersama dokter yang menangani Bu Alya.
Tak lama kemudian Bu Alya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk bangun. Dokter pun memeriksa keadaan Bu Alya dan mengatakan kondisinya mulai membaik. Kemudian dokter dan perawat kembali ke ruangannya.
Zora begitu senang hingga pelupuk matanya menggenang. Ia tak lgi bisa berkata-kata untuk meluapkan kebahagiaannya. Zora memeluk ibunya yang masih terbaring. Begitupun Bu Alya, ia membalasnya dengan membelai punggung putrinya.
__ADS_1
Merasa sedikit tenang dan lega, Zora meminta izin pada Bu Windy untuk menemani Bu Alya sebentar. Sementara ia ingin mandi karena badannya terasa lengket sebab sejak kemarin belum sempat mandi.
Sepeninggal Zora, Bu Windy menemani Bu Alya sambil mengajaknya berbicara. Keduanya mengobrol banyak meski cara bicara Bu Alya sedikit terbara-bata karena kondisinya yang baru saja sadar.
Selang beberapa menit kemudian, Zora keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda. Ia telah menyelesaikan mandi dan berganti baju. Zora menghampiri dua wanita paruh baya yang saling berdekatan.
"Dy, jika nanti aku pergi, tolong bantu aku menjaga putriku satu-satunya, bantu aku untuk melindunginya dari orang-orang tidak baik yang pernah aku ceritakan padamu. Disini dia hidup sendiri. Aku titip Zora padamu disini agar dia bisa meraih kesuksesannya" pesan Bu Alya ke Bu Windy.
"Kamu ini bicara apa. Zora punya dirimu. Jangan bilang dia sendiri disini. Dan aku sebagai sahabatmu akan membantu menjaga putrimu. Kita akan menjaganya bersama disini" tegur Bu Windy yang sedikit risih dengan pesan Bu Alya yang mengungkapkan seolah dirinya hendak pergi dan meninggalkan Zora.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Dokter bilang keadaan ibu mulai membaik. Ibu pasti akan segera sembuh" tutur Zora.
Bu Alya hanya tersenyum menanggapi putrinya. Ia sadar sebaik apapun kondisinya saat ini tidak akan mungkin menyembuhkan penyakitnya. Penyakit asma dan paru-paru yang sudah ia rasakan sudah semakin mengganggu pernafasannya. Namun, ia tetap mencoba untuk kuat demi putri semata wayangnya.
Baru saja selesai menyampaikan pesannya, tiba-tiba Bu Alya merasakan dadanya semakin nyeri dan sesak diikuti nafasnya yang tersengal-sengal. Zora panik dan cemas hingga tubuhnya terasa kaku. Bu Windy segera menekan kembali tombol pemanggil perawat dan dokter berulang kali. Beruntung jarak ruang perawat dengan ruang rawat inap Bu Alya cukup dekat sehingga dokter dan perawat datang dengan cepat. Bu Windy segera menarik Munduk Zora agar dokter bisa memeriksa Bu Alya dengan tenang.
Zora yang sudah panik hanya menangis dalam pelukan Bu Windy. Bibirnya terasa kelu tak bisa mengatakan apapun melihat dokter memasang alat pemancing jantung pada ibunya. Hingga akhirnya dokter menyerah dan mengatakan jika ia tak bisa menyelamatkan nyawa pasien.
Zora menangis sejadi-jadinya dan jatuh ke lantai karena kakinya yang lemas tak sanggup menopang tubuhnya. Semula ia berfikir jika ibunya akan segera sembuh mengingat beliau sadar dari koma. Tapi ternyata kesadarannya hanya untuk menyampaikan pesan pada sahabatnya agar melindungi Zora. Zora tak menyangka ibunya pergi meninggalkan dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Minta dukungannya dengan like, vote dan rating 5 ya😘😘
__ADS_1