
Xiao Bao berusaha untuk pergi, tetapi kakinya malah ditarik tali yang sengaja disembunyikan didalam tanah. Tubuh Xiao Bao langsung terangkat keatas. "Apa ini?" tanya Xiao Bao yang tergantung diantara pohon-pohon didekatnya.
Sebuah senjata bambu yang tajam mengarah ke arahnya, siap menusuk Xiao Bao. Xiao Bao menjadi panik, dirinya tidak bisa melakukan apapun. Terlebih, senjata bambu tersebut mulai lepas landas dan semakin dekat kea arah Xiao Bao.
"Arghhh, tidak.." ucap Xiao Bao yang menutup matanya. Sudah jelas, dirinya akan ditusuk.
Lama Xiao Bao menutup mata, dia merasa tubuhnya tidak sakit sama sekali. Perlahan dirinya membuka mata, melihat apa yang terjadi. Lin dan Wan datang dan menendang senjata bambu tersebut membuat Xiao Bao bisa selamat kali ini.
"Dasar orang gegabah, bagaimana bisa kau masuk kedalam jebakan lawan?" tanya Lin dengan suara merendahkan.
"Apa? Jebakan?" ucap Xiao Bao kebingungan.
Peri Cahaya dan Naga Alpha langsung datang menghampiri Xiao Bao, membantu Xiao Bao melepaskan diri. "Xiao Bao, kau dalam masalah." bisik Peri Cahaya dengan tatapan mata mengedip seperti memberi kode yang tidak dimengerti Xiao Bao.
Setelah terlepas, Lin dan Wan menarik paksa Xiao Bao. Dia membawa Xiao Bao keluar dari hutan. Sementara naga Alpha dan peri Cahaya, terus mengikut dibelakang mereka. "Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Xiao Bao yang berjalan tergesah-gesah.
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti." kata Lin dengan wajah serius. Mereka kembali menaiki gunung dan sampai dipuncaknya. Terlihat banyak sekali senjata bambu tertata dihadapan Xiao Bao. Pikiran Xiao Bao mulai ke mana-mana.
"Apa kalian berdua yang membuat jebakan untukku?" tanya Xiao Bao dengan mata membulat, menunggu jawaban dari Lin dan Wan.
Dengan helaan nafas, Wan menjawab dan berkata, "Sejujurnya, kami yang membuat jebakan itu. Tetapi, bukan untukmu melainkan pemberontak yang sedang berlatih dihutan. Jebakan itu sudah lama dibuat dan tidak ada seorang pun pemberontak terjebak. Aku juga merasa heran, bagaimana mereka bisa lolos dari jebakanku terlebih melihat dirimu saja tidak bisa menghindar?" jelas Wan dengan wajah bingung.
"Apa ada orang lain yang tahu jebakannya?" tanya Peri Cahaya yang terbang mendekat.
"Hanya kami berdua yang tahu, tidak ada orang lain lagi." jawab Lin yang disambut anggukan oleh Wan.
"Mereka cukup ajaib bisa menghindari jebakan kalian. Aku saja kewalahan sampai mengira diriku akan mati tertusuk senjata bambu kalian." ucap Xiao Bao sambil menggeleng-geleng kepalanya. Rasa panik dan khawatir benar-benar menguasai dirinya tadi.
Ditempat lain, lima orang keluar dari persembunyiannya. Setelah mendengar suara dan teriakan yang dekat dari hutan tempat mereka berlatih, mereka segera bersembunyi dan pergi dari sana. "Aku rasa, kita sudah tidak aman berlatih disini. Mungkin ini hari terakhir kita berlatih. Ingat, kalian harus berpencar dan terus mengabari satu sama lain. Jika sampai ada yang ketahuan, jangan sekali-kali membuka mulut tentang siapa diri kalian yang sebenarnya walau mereka mengancam ingin membunuh. Bagaimana, mengerti?" tanya salah seorang yang menggunakan jubah hitam dan hanya mempunyai mata satu.
"Iya, Tuan. Kami mengerti." jawab empat orang dengan kompak. Salah satu diantara mereka adalah perempuan.
__ADS_1
Setelah selesai, perempuan tersebut langsung pergi dan menjauh dari sana. Dia kembali kekota. Bersikap biasa-biasa saja dan membeli makanan dipinggir jalan.Tidak lama, dia menaikkan tangannya ketika melihat seseorang yang pernah ditemuinya.
"Hei, Kau!" teriaknya sambil menunjuk Xiao Bao.
Xiao Bao yang berjalan sendiri, menoleh dan terkejut melihat prempuan yang pernah dianggap sebagai pencuri oleh warga desa. "Oh, pencuri?" kata Xiao Bao balik.
"Hei, aku bukan pencuri," ucapnya dengan wajah masam.
"Rambutmu sudah berubah warna, apa kau sengaja mengubahnya?" tanyanya sambil menarik rambut Xiao Bao.
Tangan Xiao Bao spontan memukul dan menarik orang yang dianggapnya sebagai pencuri. "Sakit tau," adunya dengan memegang tangannya yang dipukul.
Mata mereka tiba-tiba bertemu, perlahan Xiao Bao melihat bayangan dari balik bola mata perempuan didepannya. Bayangan hitam yang menyelimuti tubuh perempuan tersebut. Sebagai seorang penyihir, tentu saja Xiao Bao tahu apa maksudnya. "Dendam," kata Xiao Bao tiba-tiba.
"Dendam?" tanya Perempuan itu dengan wajah bingung. Dia tidak mengerti, Xiao Bao langsung mengatakan hal yang tidak mereka bahas.
__ADS_1
"Aku harus pergi," kata Xiao Bao yang berlari pergi. Dia menjauhi perempuan tersebut.
"Hei, kau belum menjelaskannya." teriaknya tetapi tidak membuat Xiao Bao berhenti berlari.