
Xiao Bao menoleh, melihat anak kecil yang menangis di depan rumah mereka yang terbakar. Hati Xiao Bao terasa sesak, dia menjadi teringat ketika dirinya tidak punya siapa-siapa dan tumbuh di desa seorang diri. Tidak ada yang peduli dengan dirinya.
Bruk..
Wan terbanting ke belakang setelah kalah adu kekuatan dengan Lin. Mulut Wan mengeluarkan darah segar, kakek itu masih bisa tersenyum walau terluka.
"Wan, mengalah lah. Biarkan aku menghabisi tempat ini, aku masih berbaik hati membiarkan kau tetap hidup." ucap Lin berteriak ketika melihat keadaan Wan yang lemah.
"Aku lebih baik mati daripada hanya diam saja melihat tempat tinggalku di hancurkan." jawab Wan yang berusaha berdiri dengan bantuan tongkatnya.
Xiao Bao termenung mendengarnya. Sebelumnya, dia pikir Wan yang sudah tua tidak akan keras kepala seperti dirinya. Jiwa semangat Wan, berkobar seperti api mengalahkan semangat Xiao Bao sendiri.
Xiao Bao memperhatikan sekeliling, melihat semua teman-temannya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan desa ini. Naga Alpha berusaha menghadang para pemberontak, sementara peri Cahaya berusaha memadamkan api dengan tongkat kecilnya.
Aliran positif tiba-tiba mengalir ke tubuh Xiao Bao. Tanpa ada angin, Xiao Bao merasakan tubuhnya dingin seperti tersiram air. Gerakan para pengendali air terputar di otaknya terus menerus. Tubuh Xiao Bao bergerak sendiri, mengikuti irama. Air perlahan meninggi sesuai intruksi Xiao Bao.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" kata Xiao Bao yang berlari menghampiri Naga Alpha. Dirinya langsung melompat tepat di punggung naga Alpha.
__ADS_1
"Bawa aku ke laut!" perintah Xiao Bao sambil menepuk punggung naga Alpha.
Naga Alpha langsung mengibas kedua sayapnya meninggalkan desa. Mereka lalu menuju laut yang tidak jauh dari desa. Karena ini adalah dimensi air, Xiao Bao tidak bisa menggunakan kekuatan apinya yang hanya masih berada di tingkat dua.
Tubuh Naga Alpha terasa lemah, dia terbang tidak terlalu tinggi. "Xiao Bao, cepatlah. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi." ucap Naga Alpha yang berhenti di atas laut.
Xiao Bao langsung berdiri, menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai menggerakkan tangannya berputar dan terus berputar. Gelombang air perlahan meninggi, tetapi itu hanya bertahan sebentar, tidak lama.
"Xiao Bao, cepatlah!" ucap Naga Alpha dengan suara berat. Dia sudah tidak bisa terbang lebih lama lagi.
"Bersabarlah, aku berusaha mengendalikan air laut. Tetap diam karena aku tidak bisa berkonsentrasi." Ucap Xiao Bao yang menjadi panik.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Xiao Bao dengan perasaan khawatir. Api masih belum padam dan semakin membesar. Jika terus dibiarkan lama, semua desa benar-benar akan habis dilahap api.
Peri Cahaya terbang mendekati Xiao Bao. Dia datang memberi laporan. "Xiao Bao, Wan sekarat. Lin akan membunuhnya!" teriak Peri Cahaya dengan nafas terangah-engah.
Amarah Xiao Bao memuncak, kedua tangannya terkepal. Perilaku Lin dan Wan ketika pertama kali mereka bertemu, terbayang di otak Xiao Bao. Saat itu juga, gelombang api semakin tinggi mewakili perasaan marah Xiao Bao. Naga Alpha berusaha terbang tinggi melihat dirinya hampir di timpung tingginya air.
__ADS_1
"Xiao Bao, apa yang terjadi. Gelombang tiba-tiba meninggi." kata Naga Alpha yang panik. Dia mengibas cepat sayapnya terbang dengan tinggi, tetapi karena sudah lelah, Naga Alpha terjatuh seketika.
"Akhh.." teriak Naga Alpha yang berguling-guling di udara. Sementara Xiao Bao masih santai sambil menutup matanya. Peri Cahaya terkejut melihatnya. Kedua temannya terjatuh ke dalam laut.
"Aku harus bagaimana?" tanya Peri Cahaya yang panik. Dia tidak tahu harus minta tolong dengan siapa. Wan sekarang sekarat, sementara Lin bukan teman melainkan musuh.
Mata Xiao Bao terbuka, melihat air begitu jernih. Dia dapat melihat ke atas dengan jelas. 'Apa ini, kenapa aku bisa seperti ini?' guman Xiao Bao melihat tubuhnya melayang didalam air laut. Kedua tangannya langsung terangkat dan gelombang air semakin tinggi.
Xiao Bao menyadari jika air laut sudah terhubung dengan dirinya. Dia pun mengangkat kedua tangannya dengan tinggi hingga gelombang air sampai di desa. Memyiram setiap rumah yang terbakar seperti hujan.
Lin dan para anak buahnya, terheran-heran melihatnya. Begitupun dengan semua orang yang berada di desa, mereka tidak mengerti. Gelombang air sampai masuk ke desanya.
"Apa ini, ayo serang!" teriak Lin yang kesal rencananya ingin di gagalkan.
Saat itu juga, para pemberontak fokus melawan gelombang air yang berada di depannya. Mereka mengeluarkan sihir api untuk menyerang tetapi semuanya sia-sia. Sihir air mereka melemah dan bukan tandingan air.
"Gawat, kekuatan air semakin tinggi dan api kita mulai melemah. Kita harus pergi dari sini dan melapor pada pemimpin!" teriak salah satu pemberontak.
__ADS_1
Mereka semua pergi dengan cepat, sementara itu tubuh Xiao Bao melemah. Dia kehabisan nafas terus berada didalam air. Tubuh terjatuh dan gelombang air menurun. Semua penduduk desa menghampirinya.