
Xiao Bao terbangun dan membuka matanya. Dirinya kini berada di puncak gunung bersama Wan yang sedang duduk membakar kayu.
"Kau sudah bangun?" tanya Wan tanpa menoleh.
"Di mana semua orang?" ucap Xiao Bao yang teringat dengan teman-temannya dan apa yang terjadi barusan.
Wan menghela nafas dalam-dalam, berdiri dan menghampiri Xiao Bao. Dia menatap wajah Xiao Bao dengan lekat-lekat. "Semua orang sibuk memperbaiki keadaan desa. Peri Cahaya dan Naga Alpha ikut membantu." jelas Wan.
Tanpa menunggu lama, Xiao Bao memaksakan dirinya melihat keadaan desa dari puncak gunung. Asap masih terlihat walau sudah tidak tebal lagi seperti tadi. "Apa yang dipikirkan Lin sampai tega membakar desanya?" ucap Xiao Bao dengan marah. Kedua tangannya terkepal dengan keras.
"Lin tidak bersalah, tidak ada yang bisa disalahkan dengan kejadian ini." bela Wan.
Xiao Bao lalu berbalik dan berlari menuruni gunung. Keadaannya belum pulih total, dia tetap memaksakan melihat bagaimana keadaan didesa. Ketika sampai, suara anak-anak menangis terdengar memilukan. Mereka berdiri di depan rumahnya yang hampir terbakar sempurna.
Naga Alpha dan Peri Cahaya sibuk membereskan kayu-kayu yang berada di tengah jalan. Kerja sama mereka dengan penduduk desa tercipta dengan baik.
"Hei, kau!" bisik seseorang yang berada di belakang Xiao Bao.
"Aku punya informasi untukmu," katanya yang membuat Xiao Bao menoleh.
Perempuan cantik dengan rambut lurus putih diikat polos, terlihat didepan mata Xiao Bao. Dia adalah Sarah yang sempat dikira pencuri. "Ada apa?" tanya Xiao Bao dengan wajah datar.
__ADS_1
"Sungguh hebat tadi. Kau mengeluarkan sihir air yang tidak terkalahkan. Tetapi sayang, kau tidak bisa menggunakannya berkali-kali. Energimu langsung terkuras habis." jelas Sarah.
"Apa maksudmu?"
"Sebelumnya, aku lengah. Aku pikir kau adalah mata-mata pemberontak. Aku baru sadar di akhir dan itu semua sudah terlambat. Mereka merencanakan untuk menyerang secepatnya. Kalau aku tahu dari awal, aku bisa menghentikan mereka." kata Sarah dengan wajah bersedih.
Xiao Bao tersenyum miring didepannya membuat Sarah bingung. "Kau termasuk bagian pemberontak itu kan?" ucap Xiao Bao dengan wajah santai.
"Apa? Bagaimana bisa kau tahu? Aku masuk sebagai pemberontak karena ingin tahu siapa pemimpin mereka sebenarnya. Jika aku bisa melumpuhkan pemimpinnya, keadaan desa akan aman. Tetapi sangat sulit." ucap Sarah sambil menghela nafas kasar.
"Bagaimana bisa kau masuk ke sana?" tanya Xiao Bao yang tertarik.
"Kalau begitu, ajak aku ke sana. Kita bisa menjadi teman untuk menghancurkan tempat itu setelah menemukan pemimpinnya. Bagaimana?" tanya Xiao Bao sambil menyodorkan tangan kanannya bersalaman.
"Aku mau." ucap Sarah yang menjabat tangan Xiao Bao.
Rencana mereka baru dimulai. Xiao Bao diam-diam peri bersama Naga Alpha dan Peri Cahaya menuju tempat yang di maksud Sarah. Tidak ada hambatan di tengah jalan, tetapi ketika sampai di tengah hutan, begitu banyak pemberontak disana yang sedang berlatih.
"Bagaimana caranya kita bisa pergi tanpa ketahuan oleh mereka?" tanya Sarah yang bingung.
"Bukannya kau sering ke sana?" ucap Xiao Bao yang mengintip di belakang Sarah.
__ADS_1
"Itu benar, tetapi aku tidak bisa masuk jika membawamu. Tidak ada juga jalan lain selain melewati mereka. Sudah banyak lagi pemberontak disini?" ucap Sarah yang dibuat bingung.
Mereka semua terdiam mencari ide, tiba-tiba Peri Cahaya mengeluarkan pendapatnya. "Aku bisa membantu." ucap Peri Cahaya seketika.
"Aku dan Naga Alpha akan membawa mereka menjauhi pintu masuk, saat mereka mengejar kami, kalian berdua boleh masuk." jelas Peri Cahaya.
"Lalu, bagaimana kalian bisa mengikuti kami?" ucap Xiao Bao.
"Aku rasa, aku dan Naga Alpha tidak bisa tetap bersama kalian. Kami akan kembali menemui Wan dan menyusun rencana baru. Kita bisa berkomunikasi lewat tongkatmu Xiao Bao?" Sahut Peri Cahaya.
"Benar, kita tidak punya pilihan. Baiklah, ayo alihkan perhatian mereka." perintah Xiao Bao.
Naga Alpha dan Peri Cahaya langsung maju menghampiri para pemberontak yang sedang berlatih. Mereka semua berhenti berlatih dan menatap tamu tak diundangnya dengan tatapan heran.
"Siapa mereka?" tanya salah satu diantara pemberontak.
"Entahlah, kita hanya perlu menghabisinya." ucap salah satu yang sedari tadi duduk berdiam diri melihat teman-temannya berlatih.
Naga Alpha menyerang mereka dengan ekornya, kemudian berlari membawa para pemberontak menjauhi hutan. Para pemberontak tentu saja mengikuti mereka, tetapi masih ada tiga orang yang sengaja tinggal untuk mengawasi dari sana.
"Sial, kita tidak punya pilihan selain melumpuhkan mereka." ucap Sarah yang keluar dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1