
"Kita tidak bisa pulang dengan tangan kosong," kata Xiao Bao yang berbalik menghadap Naga Alpha yang sedang terluka.
"Aku merasa heran, Naga Beta bisa mendapatkan kekuatan air juga. Padahal, biasanya kekuatan sejati naga hanya api. Apa aku salah liat?" tanya Peri Cahaya yang berpikir.
"Aku juga heran, tetapi tingkat kekuatannya tinggi sampai menguasai kekuatan air. Aku pikir hanya pendekar yang bisa meningkatkan kekuatannya. Ternyata seekor naga juga bisa." jawab Xiao Bao sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak seperti itu. Semua naga mempunyai kekuatan istimewa masing-masing dari dalam dirinya." sahut Naga Alpha dengan suara lemah sambil menunduk.
"Baiklah, kita akan kembali menemui pembelok itu. Aku harus tahu, siapa dia sebenarnya." ucap Xiao Bao dengan semangat.
"Tidak, Bao. Naga Alpha sedang terluka, jika kita kembali lukanya tambah parah. Naga Beta tidak akan berhenti menyerang kita." ucap Peri Cahaya seketika.
Xiao Bao menoleh, memperhatikan Naga Alpha yang terbaring ditanah. Berdiri saja dia sudah tidak mampu. "Baiklah, kalian istirahat saja malam ini disini. Aku akan keluar tengah malam dan mencari apa yang disembunyikan pembelok itu." ucap Xiao Bao dengan tersenyum.
"Aku mau ikut denganmu, tongkatku dapat membantu sebagai penerang jalan." sahut Peri Cahaya memperlihatkan tongkat kecilnya.
"Tidak perlu, Peri Cahaya. Kau tetap disini menemani Naga Alpha. Soal penerang jalan, aku juga punya tongkat penyihirku. Setidaknya, masih bisa digunakan." ucap Xiao Bao.
"Maaf, karena aku merepotkan." ucap Naga Alpha merasa bersalah.
"Tidak sama sekali. Kau perlu istirahat dan akan kembali pulih seperti sebelumnya. Aku mencari kayu bakar dulu agar kita tidak kedinginan nanti malam." kata Xiao Bao yang bergegas pergi.
__ADS_1
Peri Cahaya bermain dengan tongkatnya, dia menyihir tiap pohon didekatnya untuk mendapatkan ranting kayu. Tongkatnya bergeser ke kanan dan ke kiri, mengumpulkan kayu bakar dengan kekuatannya.
Naga Alpha dia memperhatikan. Wajahnya tampak bersedih. 'Hanya aku yang tidak berguna.' guman Naga Alpha yang tidak melakukan apapun selain berbaring karena terluka.
Sementara ditempat lain, Xiao Bao telah selesai mengambil kayu bakar. Dia melihat seseorang yang dia kenal sebelumnya. "Sarah, untuk apa dia datang kesini?" tanya Xiao Bao yang berdiri mematung melihat Sarah datang berlalu didepannya.
Tidak mau ketinggalan, Xiao Bao mengikuti Sarah tanpa sepengetahuan Sarah sampai diri Xiao Bao kembali berada didekat rumah kayu milik pembelok. 'Ada hubungan apa Sarah dengan pembelok itu?' guman Xiao Bao yang melihat Sarah berbicara dengan orang berjubah hitam.
"Kau sudah dapat informasi?" tanya Dion berhadapan dengan Sarah.
"Iya. Salah satu diantara Lin atau Wan yang sudah berkhianat dan membantu pemberontak. Dia sampai memberikan informasi tentang kelemahan orang-orang dimensi air." jelas Serah membuat mata Xiao Bao membulat. Tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.
"Aku jadi takut jika mereka berhasil mendapatkan peta rahasia dimensi ini. Aku tadi sudah diserang orang Lin dan Wan. Mereka pasti mengincar peta rahasia itu." kata Dion penuh kegelisahan.
"Ketua pemberontak tidak menyadari jika kamu hanya mata-mata disana?" lanjut Dion yang menatap wajah Sarah.
"Tenang saja, dia tidak curiga sama sekali."
"Bagus, kau harus waspada. Jaga dirimu dengan baik." tepuk Dion ke pundak Sarah.
Setelah mengatakannya, Sarah pergi meninggalkan Dion. Sementara Xiao Bao tetap berdiri disana merenung pembicaraan mereka.
__ADS_1
**********
Malam harinya, Naga Alpha dan Peri Cahaya sibuk menyalakan api. Naga Alpha tidak bisa mengeluarkan api dari mulutnya karena dirinya sedang terluka dan lemah. Peri Cahaya terpaksa mengosokkan batu untuk membuat api. Tetapi, sudah berjam-jam dia melakukannya, tidak ada hasil yang membuat dirinya puas.
"Aku menyerah!" teriak Peri Cahaya membuang batu kecilnya.
"Baru beberapa jam, tubuhmu sudah lemah. Kita akan kedingingan jika tidak ada api." ucap Naga Alpha dengan suara lemah.
"Kenapa harus aku yang repot, Xiao Bao juga ada disini. Suruh dia yang membuat api." kata Peri Cahaya sambil melipat kedua tangannya dengan wajah murung.
Naga Alpha lalu menoleh melihat Xiao Bao yang melamun dibawah pohon. Terlihat jelas diwajahnya, Xiao Bao sedang banyak pikiran.
"Panggil dia dan suruh buat api daripada hanya melamun disana, nanti kesambet setan." kata Naga Alpha kepada Peri Cahaya.
"Kau saja yang panggil. Peri bukan pesuruh Naga." ucap Peri Cahaya semakin kesal.
Naga Alpha ingin berdiri, tetapi kakinya belum kuat menahan dirinya. Dia pun terpaksa berteriak ditempatnya. "Xiao Bao! Kemarin dan buat api! Kami berdua kedingingan di sini." teriak Naga Alpha.
Xiao Bao lalu bangkit dan mencoba membuat api dari kekuatannya. Dia berdiri sambil menutup matanya, bersiap mengeluarkan kekuatan apinya. Tetapi, ketika teringat kejadian dimana dirinya hanya membuat api kecil didepan Dion, Xiao Bao mengurungkan niatnya. Dia memilih membuat api dari batu yang digosokkan.
"Aku pikir, apinya sudah jadi. Dia seharusnya tidak perlu repot mengosokkan batu. Tinggal mengeluarkan kekuatannya." kata Peri Cahaya yang kecewa. Dia pikir Xiao Bao benar-benar akan mengeluarkan kekuatan apinya.
__ADS_1