Kesatria Naga Alpha

Kesatria Naga Alpha
CH_26 Melatih Kekuatan Api.


__ADS_3

Xiao Bao kembali dengan tangan kosong. Hal ini pun membuat Wan kecewa berat. "Apa kau yakin bisa melakukan pekerjaan dengan baik? Kita bisa mendapat informasi darinya." ucap Wan yang meninggikan suaranya didepan Xiao Bao.


"Aku minta maaf," kata Xiao Bao menundukkan kepala.


"Sudahlah, biarkan saja. Kita masih punya banyak waktu untuk mencari tahu. Wan, latih Xiao Bao saja. Aku harus pergi, ada urusan penting." ucap Lin yang bangkit dari tempat duduknya sambil berjalan menjauh.


Xiao Bao diam memperhatikan Lin dan Wan. 'Siapa mata-mata pemberontak yang dimaksud Sarah?' guman Xiao Bao yang masih berdiri didepan Wan.


"Kenapa kau diam saja. Kemarin kesini, aku ingin memberimu sedikit pelajaran untuk hari ini." kata Wan yang memukul tanah dengan tongkatnya. Saat itu, tanah yang dipukul retak seketika.


Peri Cahaya dan Naga Alpha membulatkan mata. Mereka tidak percaya dan sangat terkejut. "Wah, apa ini. Seorang kakek mempunyai kekuatan hebat yang tidak aku ketahui?" tanya Peri Cahaya dengan mata melotot melihat ke bawah.


"Aku rasa, tongkatnya yang mempunyai kekuatan." jawab Naga Alpha menanggapi.


"Xiao Bao dalam masalah, dia akan retak sama seperti tanah ini." ucap Peri Cahaya sambil mendongak menatap Xiao Bao yang tengah siap bertarung dengan Wan


"Kita mundur menikmati penampilan mereka berdua." ucap Naga Alpha yang melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Wan dan Xiao Bao. Tubuh Naga Alpha belum sembuh total, dirinya masih belum bisa terbang dengan kedua sayapnya.


Wan mulai beraksi, memukul tongkatnya membuat tanah retak menghampiri Xiao Bao. Xiao Bao menghindar dengan mudah. Tetapi, dengan senyum miring, Wan menyerang kembali Xiao Bao dengan kekuatan air.

__ADS_1


Air mengalir deras menghantam tubuh Xiao Bao, mengepungnya hingga tidak bisa bernafas. Peri Cahaya dan Naga Alpha menjadi panik. "Apa yang dilakukan kakek tua itu?" tanya Peri Cahaya.


Disaat itu, Xiao Bao membeku didalam es. Wajah Wan terlihat bingung. Dia berjalan dengan tongkatnya menghampiri Xiao Bao. Disaat jaraknya sangat dekat, Es yang membungkus tubuh Xiao Bao pecah dengan sendirinya. Sang kakek tua mundur beberapa langkah dengan tangannya yang melindungi matanya.


Xiao Bao tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia menyerang tubuh Wan dengan sihir apinya dengan tiba-tiba. Wan berusaha menghindar, tetapi dirinya kewalahan. Dia terkena salah satu sihir api Xiao Bao.


"Tunggu, Bao!" ucap Wan ketika melihat Xiao Bao masih berniat menyerangnya.


"Ini hanya latihan, kau sangat bersungguh-sungguh menyerangku. Aku bisa terluka parah." protes Wan dengan tangan menunjuk Xiao Bao.


"Aku minta maaf. Kakek juga terlihat sangat bersungguh-sungguh menyerangku tadi." ucap Xiao Bao yang menghentikan tangannya memutar.


"Xiao Bao, aku tidak menyangka kau mempunyai sihir api dan es?" tanya Wan seketika dengan wajah serius.


"Kenapa menatapku seperti itu. Aku hanya kebetulan mendapat sihir api dan es." jawab Xiao Bao dengan santai.


"Tidak, kau salah. Sihir tidak akan bisa membantumu. Dia hanya bisa membuatmu rugi, kau akan segera menyadarinya."


"Apa?"

__ADS_1


"Tidak perlu pikirkan perkataanku. Langsung saja berlatih dan tingkatkan kekuatan apimu. Aku disini melihatnya." ucap Wan mengalihkan pembicaraan.


Xiao Bao tidak mengerti, wajah Wan sangat berbeda. Perkataannya tentang sihir es terlihat serius. Xiao Bao langsung berlatih sesuai perkataan Wan untuk meningkatkan kekuatan apinya sampai malam datang.


Wan memberikan penjelasan jika tingkat kekuatan api Xiao Bao masih berada dilevel dua. Kadang membesar dan kadang mengecil. "Kau masih perlu berlatih untuk mencapai level tertinggi. Kekuatan apimu tergolong rendah." kata Wan menepuk pundak Xiao Bao.


Tidak berselang lama, Lin datang dengan membawa makanan. "Teman-teman, istirahatlah. Mari kita makan." ucap Lin menunjukkan kantong hitam tempat makanannya.


Xiao bao dan Wan berjalan menghampirinya. Sementara Peri Cahaya terlihat antusias mendapat makanan dari Lin. "Terima kasih, Lin." kata Peri Cahaya yang mengambil sebiji buah-buahan.


Disaat mereka makan, sebuah ledakan dari hutan terdengar dan asap hitam mengepul tinggi sampai ke atas. Mereka yang sedang menikmati makan malam dipuncak gunung, menoleh dengan cepat. Termasuk Wan yang bangkit dari tempat duduknya.


"Gawat, pemberontak mulai bergerak. Kita harus mengamankan semua penghuni desa!" ucap Wan dengan panik.


"Sudah waktunya mereka menyerang." ucap Lin yang ikut berdiri.


Api mulai menyebar sampai ke pemukiman desa. Tanpa menunggu respon, Wan berlari dengan tergesah-gesah menuruni gunung. Berapa kali tongkatnya menancap agar langkahnya semakin cepat.


'Tidak mungkin jika Wan adalah pengkhianatnya. Wajahnya terlihat panik saat ini. Lalu?' guman Xiao bao yang menoleh melihat Lin masih berada ditempatnya dengan wajah santai.

__ADS_1


__ADS_2