
Aku menuangkan satu sachet kopi hitam sekaligus gula rendah kalori ke dalam gelas plastik ukuran kecil yang berada tepat dihadapanku, lantas mengaduknya perlahan-lahan hingga tercampur sempurna. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Memang masih terlalu pagi untuk meneguk segelas kopi hangat dan duduk sarapan di salah satu kedai yang berjejer diantara kedai-kedai yang berada di terminal ini.
Musim penghujan pada akhir tahun membuat suasana pagi terasa sangat dingin. Tapi sepagi dan sedingin ini, aktivitas terminal telah terlihat sibuk dan ramai. Tak pernah terbayangkan kapasitas penumpang yang menggunakan kendaraan umum semakin bertambah setiap tahunnya.
Bus dengan tujuan Jakarta baru akan berangkat tepat satu jam lagi. Waktu yang cukup lama menunggu. Tapi tak mengapa, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana ini sebelum meninggalkan kota masa kecilku. Ada banyak hal yang bisa diingat dalam satu jam ini dengan kenangan-kenangan yang sangat indah. Lima menit menunggu pemilik kedai mengantarkan makanan yang aku pesan. Aku melihat foto pada yang aku simpan di galeri, foto siapa lagi kalau bukan foto ayah dan ibu. Sembari menunggu bus tujuan Jakarta aku menghabiskan sarapan terlebih dahulu.
Ayah dan ibu yang selalu mendukung keputusanku. Namun berbeda untuk kali ini, aku meninggalkan sejenak kota ini hanya untuk mengunjungi kampus yang berada di kota Jakarta. Dan sekarang kebetulan dalam suasana tahun baru, aku bisa mengambil cuti akhir tahun dan awal tahun yang cukup lama.
Aku pertama kali keluar kota seorang diri untuk mengadu nasib demi masa depan. Dalam suasana itu orang-orang senasib seperti aku akan sangat sulit untuk mengambil keputusan secara bijak.
Tanpa terasa 30 menit berlalu aku berada di kedai ini. Setelah sarapan aku sudah habis, aku segera keluar kedai dan menuju terminal tempat bus tujuan Jakarta berada. Tanpa sengaja aku manabrak gadis yang baru saja beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf," aku langsung meminta maaf sembari membantunya berdiri.
"Maaf juga, aku Fani kamu siapa?" sapanya dengan tersenyum.
"Aku Ana," jawabku dan berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke Jakarta."
__ADS_1
"Berarti tujuan kita sama, ayo kita ke bus,"
Sepintas perkenalan antara aku dan Fani. Fani juga berasal dari kota yang sama denganku, Fani juga sangat baik, ramah dan sederhana. Pada saat inilah pertemanan kita dimulai.
Selama perjalanan tidak ada pembahasan lain selain keadaan masing-masing dan berbagi kisah kehidupan yang cukup menarik. Sesampainya di Jakarta kita memutuskan untuk tinggal di tempat kos yang sama. Dengan jarak kamar kos yang berdekatan, setiap malam adalah malam-malam percakapan yang penuh dengan canda tawa. Awalnya pembicaraan kami hanya berkisar soal kehidupan, aktivitas sehari-hari, atau permasalahan lainnya.
Semakin ke sini, filosofi kehidupan, perjalanan percintaan, cita-cita hidup dan topik yang lebih berat mulai bermunculan.
Fani adalah teman terbaik dalam berdiskusi. Ia adalah pendengar yang baik walaupun selama ini akulah yang mengambil inisiatif untuk memulai obrolan dengannya. Ia sangat terbiasa untuk mencari solusi terbaik dalam segala hal, kecuali masalah percintaan.
...
Di suatu malam tepat pukul delapan, layaknya orang yang sedang kerasukan, Fani menyerbu masuk ke dalam kamarku tanpa permisi apalagi mengetuk pintu.
"Siapa?"
"Kamu gak bakalan percaya. Kmu tahu kan, hari ini Aku berkunjung kemana, jadi tadi pagi aku naik bus. Kamu tahu apa yang aku temukan? Pria tampan, An. Tampan banget," aku merasa antusias melihat Fani air matanya terlihat bercahaya.
Dengan sigap ia menjulurkan jarinya, tentu saja bukan sembilan. Aku tersenyum menutup laptop. Saatnya sekarang membalas kebaikan yang selama ini sering ia lalukan untukku. Menjadi pendengar yang baik.
Dicky, begitulah nama pria itu. Ini kata Fani dihari ke delapan semenjak ia menceritakan hal itu untuk pertama kalinya. Tentu, aku yakin nama aslinya tidak sesingkat itu, tapi hingga hari ini, ia tidak berani menegur atau menyapanya, apalagi bertanya soal nama lengkapnya. Sekilas hanya Dicky yang ia tahu dari id cardnya.
__ADS_1
Matanya tajam dan indah dengan alis yang sempurna. Hidungnya elok dan proporsional. Bibirnya mungil merekah. Kulitnya mulus berseri, membuatnya semakin tampan dengan lesung pipinya. Pria ini selalu mengenakan kemeja yang di masukkan dalam celana. Dan selalu duduk di kursi dekat jendela baris dua bus tersebut.
Deskripsi yang sangat baik untuk ukuran orang yang baru saja bertemu dan hanya sempat melirik selintas ketika melewatinya ketika menuju kursi yang berada dibelakang pria itu. Akan tetapi jangan tanya tentang postur tubuhnya atau parfum yang dipakainya, Fani belum pernah melihatnya berdiri, karena ia turun lebih dulu dibanding priaitu, dan ia juga belum pernah berkesempatan duduk disampingnya, karena tempat duduk bagian depan biasanya sudah penuh terisi setiba di halte dekat kos.
Meski aku tidak terlalu percaya dengan deskripsinya, aku membesarkan hatinya dengan cerita-cerita percintaanku selama ini, tentang perasaanku ketika aku jatuh cinta pada pandangan pertama, walaupun di sana-sini lebih banyak olok-olok yang kulemparkan padanya, karena sebenarnya aku selalu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pria-pria tampan yang kukenal.
Dan Fani menerimanya seperti anak kecil yang begitu senang didongengkan tentang pada zama dahulu. Nampaknya prospek pembicaraan malam kami berkisar pada kisah Dicky pria yang berada di bus, dan sialnya melihat keberanian Fani selama ini serta ceritanya aku pesimis dengan kemajuan yang berarti dalam waktu dekat.
Akan tetapi di akhir bulan, ternyata Fani menceritakan perkembangan baru.
"Kamu tahu gak Ana, tadi pagi aku berangkat jam delapan pagi?"
"Tahu, kamar kamu sudah sepi pas aku berangkat. Memangnya kamu keliling Jakarta mana?"
"Aku tadi pagi nggak nyetop bus di halte deket kos tapi ke halte yang di sebelah terminal"
"Loh bukannya nggak praktis seperti yang lu sering ceramah ke aku?" Sebenarnya aku sudah tahu apa alasannya kenapa tiba-tiba ia memilih untuk berangkat lebih pagi dan memakan waktu setengah jam paginya yang berharga, sesuatu yang amat dibencinya selama ini.
Apalagi kalau bukan soal Dicky. Menunggu di halte dekat terminal dan mencari kesempatan untuk duduk di sampingnya saat ia naik bus adalah strategi yang lumrah dilakukan aku selama ini untuk mencari cara berkenalan dengan pria yang aku suka. Sayangnya, saat aku bertanya apakah ia berhasil duduk di sebelah Dicky.
"Aku nggak berani, An," jawab Fani mengenaskan.
__ADS_1
"Huffttt, jangan putus asa, besok coba lagi, lu pasti bisa berkenalan sama Dicky," Aku hanya bisa memberikan semangat dan mendukung apa yang dilakukan Fani.
"Ia Ana, terima kasih sudah mendukung aku,"