Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu

Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu
Harapan kuliah di depan mata


__ADS_3

Berlanjut di ruang bimbingan konseling. 


"Mbak kamu setelah lulus dari sekolah ini mau melanjutkan kemana? Atau mau kerja?" Tanya Ibu Nia dengan sangat lembut.


Aku berpikir negatif saat berada diminta untuk segera ke ruang bimbingan konseling. Seketika pikiran itu sirna hanya dengan kata-kata dari Ibu Nia mengenai rencana kedepan. 


"Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah bu, tapi dengan keadaan ayah yang sedang sakit dan kendala ekonomi rasanya saya hanya bisa berharap akan mimpi saya. Dan saya akan mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga." Jawab ku menjelaskan tujuan dalam waktu dekat ini. 


"Apa kamu yakin untuk keputusan ini?" Tanya Ustadz Hasan. 


Aku tidak menjawab dan hanya membalas dengan anggukan kepala berarti sebagai tanda keyakinan. 


"Jika kamu mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah tanpa biaya bagaimana? Apalagi jika biayanya penuh sampai semester akhir. Apakah masih akan kamu sia-siakan kesempatan itu?" Sekali lagi Ibu Nia melemparkan pertanyaan yang cukup memberikan dukungan semangat padaku. 


Tanpa sadar aku mengangkat kepala dan semangatku kembali bangkit. 


"Jika memang beasiswa penuh sampai semester akhir saya mau melanjutkan bu, apalagi kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk yang kedua kalinya."


"Bagus, bagus jika kamu semangat seperti ini. Pihak sekolah akan berusaha membantu kamu untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga berada di pintu gerbang kampus yang kamu inginkan." Tegas Ibu Nia sembari memberikan dorongan semangat.


"Kamu pasti bisa, ayo semangat. Kamu itu siswa yang cerdas. Jangan pernah mengeluh dan merasa lelah untuk berjuang. Jika kamu ingin masa depanmu cerah maka kamu harus berani mengambil langkah yang jauh lebih baik untuk kedepannya." Lanjut Ustadz Hasan yang juga mendukung semua keinginanku. 


"Terima kasih Ustadz, terima kasih Ibu. Terima kasih sudah memberikan jalan terbaik untuk saya. Maaf jika saya selalu merepotkan pihak sekolah." Jawabku dengan meneteskan air mata yang membasahi pipi dengan penuh rasa haru. 


Ibu Nia segera memeluk aku dan memberikan semangat untukku. Benar rasa bahagia ini tidak dapat di ceritakan secara jelas. Yang pasti tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain kebahagiaan dan kesuksesan yang ingin aku capai sudah berada di depan mata. 


....

__ADS_1


Kring.. 


Tanda bel pulang sekolah berbunyi. Jam menunjukkan pukul 15.00. Seluruh siswa yang baru selesai melaksanakan sholat ashar seketika berhamburan keluar dari masjid untuk pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa canda tawa yang masih menghiasi suasana sekolah menjadikan sekokah tampak ramai.


Aku segera menuju tempat parkir dan segera bergegas pulang, hanya sekedar ingin segera menemui ayah dan ibu untuk menyampaikan kabar baik yang aku dapatkan dari sekolah. 


Meskipun aku segera pulang, percuma saja, ayah dan ibu pasti pulang sebelum adzan maghrib berkumandang. Namun, itu bukan masalah besar yang harus aku tunggu, sehingga aku ada waktu untuk mempersiapkan diri dan menyusun kata-kata terbaik untuk ayah dan ibu.


Memang benar kondisi ayah sedang kurang sehat, tapi beliau masih sering ke sawah membantu ibu yang sedang bekerja merawat sawah dan ladang orang. 


"Assalamualaikum." Benar dugaanku keadaan rumah masih sepi. Aku memasuki rumah dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari kuman selama sehari berada di sekolah. 


Sambil menunggu kedatangan ayah dan ibu, pastinya sudah ada makanan yang di siapkan ibu untuk menu makan setelah aku pulang sekolah. Aku segera makan dan mengisi ulang energi tubuhku. Tidak lupa cuci piring dan membantu pekerjaan rumah lainnya seperti menyapu dan lain-lain. 


Tepat setelah aku membersihkan rumah, ayah dan ibu pulang. Tapi karena ayah dan ibu pasti lelah seharian bekerja aku membiarkan beliau untuk istirahat dan mandi terlebih dahulu. 


Adzan maghrib berkumandang, aku, ayah dan ibu bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah. 


Setelah salam kami berdoa sesuai dengan keinginan kami. Saat berdoa aku meneteskan air mata, ibu yang berada di sampingku pastinya melihat dengan jelas.


Setelah aku berdoa ibu bertanya, "Kamu kenapa sayang? Apa ada masalah di sekolah? Atau kamu ada masalah dengan ayah dan ibu?"


Mendengar perkataan ibu, ayah melihat kearahku dan berbalik badan. "Kamu kenapa nak?"


"Aku tidak apa-apa ayah, ibu." Aku belum siap mengatakan semuanya. 


"Cerita sama ibu, ada apa nak?" 

__ADS_1


"Ibu aku ingin kuliah. Tapi aku tahu ayah sedang sakit dan keadaan perekonomian kita sangat sulit." Kataku. 


"He em terus kenapa nak..." 


"Jika aku melanjutkan kuliah tapi dengan beasiswa penuh sampai semester akhir bagaimana? Apa ayah dan ibu akan ijinkan?" Lanjut perkatanku. 


Ayah dan ibu menghela nafas panjang dan saling pandang satu sama lain. Sepertinya beliau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat yang tidak aku mengerti artinya. 


Ayah dan ibu saling mengangguk. Mungkin beliau akan setuju. 


"Kalau kamu memang ingin kuliah tidak masalah. Tapi kamu jangan memikirkan masalah ekonomi. Ekonomi atau biayanya itu terserah ayah dan ibu, kamu harus tetap semangat melanjutkan pendidikan demi masa depan kamu." Tegas ibu.


"Iya ayah setuju sama ibu. Kamu harus tetap kuliah, gapai cita-cita kamu. Ingat nak, kmu adalah anak satu-satunya ayah dan ibu artinya hanya kamu harapan ayah dan ibu. Ayah dan ibu akan selalu mendukung semua keputusan kamu selama apa yang kamu lakukan itu baik. Paham nak?" Lanjut ayah menegaskan kembali pernyataan dari ibu. 


"Iya ayah, ibu. Doakan selalu aku, karena aku yakin semua kesuksesan dan keberhasilanku atas doa dan ridho dari kedua orang tuaku." Aku tersenyum puas dengan semua pernyataan dari ayah dan ibu. 


"Alhamdulillah." 


Ayah dan ibu memeluk aku dan memberikan semangat, dukungan serta doa yang tidak pernah berhenti di ucapkan. 


Aku menangis bahagia yang tidak bisa aku ukir dengan kata-kata, yang pasti aku bahagia hari ini. Begitu banyak kejutan dan berkah yang Allah tunjukkan jalannya melalui orang-orang yang berada di sekitarku. Dan semoga Allah selalu melindungi beliau serta memberikan syafaatnya. 


Tidak ada kata terbaik yang bisa aku ucapkan selain Alhamdulillah atas nikmat Allah untuk aku dan keluarga. Benar kata orang manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan segalanya. Aku memang belum tahu apa yang akan terjadi kedepannya, setidaknya aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depanku dan untuk mengangkat derajat kedua orang tuaku. 


"Terima kasih Ya Allah engkau telah mengirimkan malaikat-malaikat tak bersayap ke dalam kehidupanku, lindungilah beliau, dan angkatlah derajat beliau dihadapanmu Ya Rob. Amiin." Gumamku dalam hati untuk mensyukuri nikmat dan segala kejadian hari ini. 


Begitulah cerita hari ini. Cerita hari esok dan seterusnya masih Allah rahasiakan. Cukup bersyukur setiap saat, maka Allah akan menambah nikmat kita. 

__ADS_1


__ADS_2