
Dipagi hari pada saat adzan subuh berkumandang. Ibu membangunkan aku dari tidurku malam ini.
"Nak, ayo bangun sudah subuh!" Kata Ibu sembari mengelus kepalaku perlahan.
"Emmm iya ibu."
Aku hanya berbalik badan dan terlelap kembali.
"Sayang, ayo bangun nak!" Ibu menarik tanganku dan membantu aku untuk duduk.
"Iya ibu, aku bangun." Aku menggosok mata dengan kedua tanganku.
Aku bangun dari tempat tidur. Ibu juga kembali ke dapur. Berhubung adzan subuh sudah berkumandang, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengambil air whudlu. Kemudian aku melaksanakan sholat subuh sebelum mengawali kegiatan hari ini.
Setelah salam dari sholatku ibu menghampiriku yang masih berada di kamar.
"Ada apa ibu?" Tanya ku mengawali pembicaraan.
Ibu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya sebelum berbicara denganku. Ibu memegang kedua tanganku dan berusaha tersenyum di depanku. Padahal aku tahu ibu sedang menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kamu bantu ibu ya nak memandikan ayah. Ayah sudah tidak bisa berdiri lagi, apalagi untuk berjalan ke kamar mandi sudah tidak bisa. Ayah hanya bisa berbaring saja." Ibu mengatakan keadaan ayah sembari menangis.
Aku juga meneteskan air mata.
"Iya ibu, tapi ayah tidak apa-apa kan bu?" Tanyaku.
"Keadaan ayah sudah lemah, kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Jadi sekarang cuma bisa berbaring, dan tidak bisa ditinggalkan lagi."
Mendengar perkataan ibu aku langsung memeluk ibu untuk menguatkan ibu. Jika bukan aku yang menguatkannya siapa lagi.
"Ya sudah ibu ambil air buat mandikan ayah dulu, kamu tunggu di kamar ayah."
"Iya ibu." Aku merapikan mukena yang aku pakai dan menuju ke kamar ayah.
....
"Ayah, bagaimana kondisi ayah?" Tanyaku sembari memegang tangan ayah.
"Ayah tidak apa-apa nak, ayah sehat." Ayah masih berusaha menyembunyikan keadaannya. Padahal ayah sedang menahan rasa sakit.
"Nak, ini kainnya kamu bantu kompres ayah." Kata ibu sembari memberikan kain handuk untuk membersihkan tubuh ayah.
__ADS_1
Aku menggosok dan membersihkan tubuh ayah dengan bantuan ibu membolak-balik tubuh ayah ke samping kanan atau kiri.
"Ayah jika sakit bilang ya, kalau aku terlalu keras menggosok tubuh ayah." Kataku.
"Tidak nak, tidak apa-apa." Jawab ayah.
"Pelan-pelan saja yang penting bersih dan tubuh ayah terasa segar." Jawab ibu.
"Iya bu."
Aku melanjutkan menggosok tubuh ayah pelan-pelan. Setelah selesai ibu membawa kain dan air yang di gunakan untuk kompres ayah ke luar. Sedangkan aku membantu ayah mengenakan baju dan sarungnya.
"Pelan-pelan ayah."
"Sudah nak, terima kasih ya." Ayah tersenyum dengan sangat bahagia.
"Kamu tidak sekolah?" Lanjut ayah.
"Sekolah yah,"
"Ya sudah kamu segera bersiap nanti terlambat."
"Iya ayah, aku tinggal dulu ya. Ayah cepet sehat." Jawabku dan meninggalkan ayah berbaring di kamar.
"Ibu aku berangkat ya," Kataku sembari memasang sepatu.
"Sarapan dulu." Jawab ibu dari dapur.
"Tidak, aku sudah kesiangan." Lanjut aku.
"Ini bekalnya, maaf ya sayang bekalnya cuma nasi sama kecap saja ibu belum masak. Nanti kamu beli pentol atau apa gitu untuk sarapan di sekolah ya." Kata ibu sembari memberikan kotak nasi kepadaku.
"Iya ibu, aku pamit ya, Assalamualaikum."
Aku berpamitan pada ibu di dapur dan tidak lupa mencium tangannya. Belum selesai disitu, aku menuju kamar ayah dan berpamitan pada ayah.
Setelah menciun tangan ayah, aku hendak keluar dari kamar.
"Nak!" Panggil ayah.
Aku berbalik badan dan kembali mendekati ayah, "Iya ayah."
__ADS_1
"Nanti kalau sudah selesai sekolahnya cepat pulang ya, jangan main-main dulu." Kata ayah.
"Iya ayah."
"Sini nak." Ayah merangkulku dan mencium keningku.
Tidak seperti biasanya, sejak ayah sakit, jangankan untuk mencium untuk memeluk saja ayah tidak pernah mau, pasti ayah menolak meskipun aku memaksa. Kali ini dengan sendirinya ayah memeluk dan menciumku. Rasa bahagia yang tidak bisa aku sembunyikan membuatku tersenyum lebar dan semangat pagi ini.
"Aku berangkat ayah, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Saat keluar rumah bahkan saat dalam perjalanan ke sekolah rasanya aku sangat bahagia dan tidak bisa melepas senyuman ini. Momen yang sangat sulit untuk aku dapatkan selama ayah sakit kini terwujud dengan sendirinya.
"Tunggu, tumben ayah mau memeluk dan menciumku, tidak sepertinya. Ada apa ya?" Aku berbicara sendirian sembari berpikir karena aku merasa ada yang aneh.
"Ahh sudahlah mungkin ayah rindu saat memelukku atau saat menciumku."
Aku menepis semua pikuran burukku, mungkin saja ini adalah salah satu cara ayah untuk memberikan aku semangat pagi ini. Atau mungkin karena aku sudah lelah sejak pagi membantu ibu jadi ayah memberikan hadiah itu kepadaku.
"Huffft,, sabar yang penting kamu harus semangat sekolah, ingat kata ayah nanti kalau sudah selesai, segera pulang sekolah jangan main dulu." Aku memberikan semangat untuk diriku sendiri.
Rasa bahagia yang sederhana saja bisa didapatkan dari keluarga dan dengan cara yang sederhana. Sepertinya aku tidak akan bisa melupakan kejadian hari ini.
"Terima kasih ayah." Kata ku berteriak saat dijalan tidak ada orang dan jauh dari permukiman warga.
Keluarga adalah salah satu mata rantai kehidupan yang paling esensial dalam sejarah perjalanan hidup anak manusia. Sekaligus menjadi awal mula pendidikan itu dikenalkan.
Keluarga hakikatnya adalah organisasi terkecil sebagai pelindung dan penghias lukisan kehidupan yang memberikan kenyamanan dan keteduhan kalbu bagi seluruh anggotanya. Tentunya lukisan kehidupan keluarga yang begitu indah ini tidak lepas dari spektrum dasar, yaitu sakinah, mawadah, dan warahmah, serta aspek dasar kehidupan lainnya.
Keluarga sebagai organisasi terkecil, menjadi awal mula pembentukan karakter seorang anak. Segala sesuatunya dimulai disini. Dimulai ketika ia belajar untuk berbicara, mengenal benda sekitarnya, berdiri, berjalan, hingga berlari. Pendidikan anak tidak lepas dari peranan seluruh anggota keluarga.
Hal ini berkaitan erat dengan fungsi Keluarga sebagai Fungsi Edukatif, dimana keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi anak. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu yang merupakan figur sentral dalam pendidikan. Fungsi pendidikan mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi pendidikan.
Sebuah ungkapan Baitii Jannatii, rumahku adalah taman sorgaku. Tentang bangunan keluarga ideal, karena keluarga merupakan sumber pertama dan utama bagi kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan.
Keluarga sebagai sumber pertama dan utama memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak dalam kehidupannya.
Selain itu, keluarga bagi anak merupakan suatu tempat yang paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan oleh anak yang tengah mencari makna kehidupan.
Keberhasilan pendidikan anak dalam keluarga ketika anak berada dalam usia dini, yang akan sangat berpengaruh pada keberhasilan pendidikan pada periode berikutnya. Pendidikan yang dimaksud tidak hanya pada pendidikan secara ilmiah, pengetahuan dan teknologi. Tetapi yang terpenting adalah dengan membekali mereka dengan pendidikan agama, moral, dan etika untuk membangun akhlak yang baik, barulah kemudian pendidikan formal lain akan dengan sendirinya mengikuti.
__ADS_1
Begitulah definisi keluarga sebagai pendidikan awal bagi anak atau sebagai surga dalam keluarga.