
Tanpa sepengetahuan orang tuaku, aku mengisi dan mengumpulkan formulir pendaftaran beasiswa yang diberikan oleh Ibu Nia kemarin. Formulir yang terdiri dari data diri, data keluarga, dan dokumen penunjang lainnya sudah dikumpulkan menjadi satu dokumen. Pendaftaran secara online juga dilakukan untuk memperbanyak peluang masuk Perguruan Tinggi atau Universitas yang aku inginkan. Tinggal beberapa dokumen yang belum lengkap dan bisa menyusul di lain waktu.
"Ini bu, formulir pendaftaran beasiswa yang kemarin tapi ada dokumen yang belum lengkap." Aku menyerahkan dokumen itu kepada Ibu Nia.
Ibu Nia mengambil dokumen dan melihat dokumen yang sudah dikumpulkan. "Ini tinggal surat keterangan tidak mampu dari desa dan surat rekomendasi dari sekolah yang belum. Untuk surat rekomendasi dari sekolah bisa saya bantu rekomkan. Untuk surat keterangan tidak mampu kamu bisa mengurusnya kapan saja, bisa di waktu jam sekolah asalkan bukan waktu ujian kamu bisa ijin pulang terlebih dahulu."
"Baik bu, ohh iya Aida mau mendaftar beasiswa juga bu," Aku menyampaikan pesan Aida mengenai keinginannya untuk mendapatkan beasiswa juga.
"Suruh ke ruang bimbingan konseling saya tunggu." Ibu Nia meminta Aida ke ruang bimbingan konseling.
"Iya bu, terima kasih. Saya ijin kembali ke kelas bu."
"Silahka." Jawab Ibu Nia.
Setelah mengumpulkan formulir aku menuju ke ruang kelas untuk menemui Aida. Berhubung saat ini sudah masuk jam pelajaran, aku memutuskan untuk menyampaikan pesan Ibu Nia kepada Aida di jam istirahat.
....
Kring... Kring..
Jam menunjukkan pukul 10.00, bel sekolah sudah berbunyi berarti jam istirahat sudah tiba. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas menuju ke kantin, lapangan, kamar mandi, atau ke tempat lain yang berada di lingkungan sekolah. Aida rupanya akan bergegas ke kantin.
"Aida!" Aku memanggil Aida dan menghentikan langkahnya.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku pada Aida.
__ADS_1
"Aku mau ke kantin, cacing diperutku sudah meronta-ronta ingin memakan mie ayam." Jawab Aida dengan tersenyum sembari mengelus perutnya yang sudah kurus tana isi.
"Bilang saja kamu lapar jangan cacing yang ada diperut dijadikan alasan untuk beli mie ayam. Kamu dipanggil Ibu Nia, katanya diminta segera ke ruang bimbingan konseling."
"Waduhh!" Aida terkejut dan seketika ia menghampiri aku.
"Kamu serius, memangnya ada apa?" Dengan wajah serius Aida kebingungan mengapa ia diminta ke ruang bimbingan konseling.
"Katanya kamu mau mendaftar beasiswa, kamu diminta ke ruang bimbingan konseling untuk mengisi formulir pendaftarannya." Aku menjelaskan maksud dan tujuan Aida diminta ke ruang bimbingan konseling oleh Ibu Nia.
"Bilang dari tadi kalau urusan beasiswa, aku kira aku mau di sidang sama Ibu Nia." Aida merajuk dan cemberut kesal.
"Sudah jangan cemberut, sana cepat ke ruang bimbingan konseling." Aku menarik Aida dari tempat duduk dan mendorongnya keluar dari kelas agar segera menemui Ibu Nia.
"Aku tunggu di kantin ya!" Aku berteriak dari depan kelas agar terdengar oleh Aida karena Aida sudah menuju ke ruang bimbingan konseling.
....
Aku memesan mie ayam seperti biasa. Kenapa makanannya selalu mie ayam, sebenarnya di kantin banyak makanan dan banyak menu lain yang tersedia. Misalnya: bakso, pecel lele, lalapan, ceker pedas, pentol, cilung, atau makanan lainnya. Akan tetapi makanan favoritku adalah mie ayam, apalagi jika super pedas dan topingnya ceker ayam, mantap banget dan sangat menggugah selera.
Sembari menunggu Aida keluar dari ruang bimbingan konseling aku menghabiskan makanan yang aku pesan terlebih dahulu. Menu kali ini ditemani pilus yang menambah nafsu makan saat perut dalam keadaan kosong.
"Heyyy" Aida mengejutkanku dari arah belakang. Aku yang sedang asik makan dan menikmati mie ayam secara tidar sadar tersedak.
Uhuk.. Uhukk..
__ADS_1
"Ehh ini minum dulu!" Aida mengambilkan gelas es yang aku pesan.
"Aida,, kamu kan bisa pelan-pelan." Aku kesal dengan canda tawa Aida yang sangat puas tertawa melihat aku menderita.
"Iya maaf, aku sudah mendapatkan formulir pendaftaran beasiswa itu. Ini kamu lihat!" Aida mengeluarkan kertas dan memperlihatkan kepadaku.
"Alhamdulillah, ohh iya dokumen yang aku ajukan masih kurang surat keterangan tidak mampu dari desa. Kamu bagaimana? Sudah ada atau belum?" Tanyaku sambil melanjutkan memakan sisa mie ayam.
"Aku juga belum, bagaimana ya?" Bukannya memberika jawaban yang pasti Aida justru kembali bertanya.
"Bingung juga kalau seperti ini. Besok kan kita free tidak ada jam pelajaran. Bagaimana kalau besok setelah sholat dhuha dan mengaji kita ijin ke desa untuk mengurus surat keterangan tidak mampu." Aku mengungkapkan pendapatku kepada Aida.
"Boleh, tapi kita ke desa aku dulu baru ke desa kamu jadi tidak bolak balik.
"Boleh juga pendapat kamu anggap saja kita sedang jalan-jalan." Jawabku sependapat dengan Aida.
"Gasss."
Kami tertawa bahagia hari ini, seketika melupakan sejenak masalah yang kami hadapi. Maklum saja kami bukan berasal dari keluarga konglomerat yang memiliki banyak harta dan fasilitas yang sangat mewah. Untuk makan semangkuk mie ayam saja kami harus menghemat uang bensin dan uang saku, bahkan kadang kami membawa bekal makanan jika sudah krisis keuangan.
Beasiswa swasta atau beasiswa dari pemerintah sangat berharga bagi kami, apalagi jika bisa mendapatkan beasiswa penuh hingga semester akhir, hal yang hanya bisa dibayangkan namun akan segera jadi kenyataan.
Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan. Pemberian Beasiswa dapat dikategorikan pada pemberian cuma-cuma ataupun pemberian dengan ikatan kerja (biasa disebut ikatan dinas) setelah selesainya pendidikan. Lama ikatan dinas ini berbeda-beda, tergantung pada lembaga yang memberikan beasiswa tersebut. Murniasih (2009) membagi beasiswa menjadi beasiswa penghargaan, beasiswa bantuan, beasiswa atletik, serta beasiswa penuh. (Sumber:Wikipedia)
Mungkin bagi orang yang berkecukupan atau dikategorikan mampu beasiswa sangat tidak berharga bahkan bisa saja disepelekan. Akan tetapi bagi masyarakat kalangan ekonomi bawah pastinya beasiswa itu sangat berharga. Beasiswa dengan nilai yang kecil bagi masyarakat ekonomi menengah dan masyarakat ekonomi atas justru sangat besar bagi masyarakat ekonomi bawah.
__ADS_1
Tidak ada kata malu selama apa yang kita lakukan baik dan tidak merugikan orang lain. Selagi ada kesempatan lakukan saja, semua tergantung proses. Jika kita bersungguh-sungguh sesulit apa pun jalannya akan mudah dijalani.
Motivasi paling berharga bagi aku dan Aida adalah keadaan ekonomi keluarga kami yang sering disepelekan oleh masyarakat dan derajat kedua orang tua kita yang dianggap tidak pantas jika memiliki keturunan yang bisa menempuh pendidikan tinggi. Entahlah aku dan Aida hanya bisa diam dan berusaha untuk membuktikan bahwa anak dari kalangan bawah juga bisa menempuh pendidikan hingga sarjana dan sukses di masa yang akan datang.