
Hari ini adalah hari pertamaku di semester genap, lebih tepatnya persiapan untuk menghadapi berbagai ujian mulai dari uji coba USBNK atau uji coba UNBK bahkan ujian Nasional yang akan aku hadapi dalam beberapa bulan ke depan.
Kring.. Kring.. Kring..
Bel sekolah berbunyi sebagai tanda bagi siswa untuk segera menuju ke masjid bersama-sama melaksanakan sholat dhuha dan mengaji. Maklum saja sekolah tempat aku belajar berada dalam lingkup islami. Jadi seluruh siswa di wajibkan untuk mentaati peraturan sekolah terutama peraturan saat beribadah. Seperti ini lah kebiasaan di pagi hari sekolahku. Sangat menekankan etika dan akhlaq siswa.
Aku segera meletakkan motor yang aku gunakan ke sekolah di tempat parkir yang sudah disediakan sekolah dan segera menuju ke masjid. Sudah aku duga dewan guru sudah berada di masjid bersiap melaksanakan sholat dhuha. Dan seluruh siswa sedang melaksanakan sholat dhuha bersama-sama.
Sesampainya aku di masjid aku melepas sepatu serta menemui guru absen terlebih dahulu karena jam sudah menunjukkan pukul 07.05 artinya lima menit telat menuju ke masjid.
Bagi siswa yang terlambat tentu saja ada poin dari sekolah dan juga hukuman push up bagi siswa laki-laki dan squat jump bagi perempuan.
Aku melaksanakan hukuman sesuai dengan aturan sekolah. Aku segera mengambil air whudlu dan memakai mukena dan melaksanakan sholat dhuha serta mendengarkan kuliah tujuh menit atau biasa disebut kultum dari dewan guru.
Ada pesan yang cukup menarik dari kuliah tujuh menit yang disampaikan oleh Ustadz Hasan kali ini.
“Untuk bisa sukses, kamu harus memiliki kemauan sukses yang lebih besar daripada ketakutan untuk gagal.”
Ya, benar saja kesuksesan seseorang akan dicapai jika memiliki kemauan yang sangat kuat. Ustadz hasan memang selalu memberikan motivasi yng sangat baik saat mengisi kuliah tujuh menit ataupun saat berada di kelas. Pembawaan beliau yang santai dan humoris saat mengajar menjadi poin plus agar siswa dapat dengan mudah dekat dan berbagi cerita pada beliau.
Setelah kuliah tujuh menit dan doa bersama secara bergantian siswa berjabat tangan dengan dewan guru dan segera menuju kelompok masing-masing dalam setoran hafalan al-qur'an atau hanay sekedar mengaji bersama. Dengan jumlah siswa yang cukup banyak tidak memungkinkan jika yang mengajar ngaji hanya dua atau tiga orang. Tapi semua guru ikut andil dalam proses mengaji ini.
Masing masing guru bertugas untuk sepuluh sampai lima belas siswa dalam satu kelompok, pastinya setiap semester ada target hafalan yang harus ditempuh, jika tidak hafal resikonya adalah raport tidak akan dibagikan setelah Ujian Akhir Semester.
Kali ini aku hanya setor satu surat pendek dalam juz tiga puluh yaitu Surah Ath-Thaariq atau berarti Yang Datang Dimalam Hari. Maklum saja karena target hafalan di semester genap ini minimal satu juz yaitu juz tiga puluh.
....
Kelas akan segera dimulai, seluruh siswa memasuki ruang kelas masing-masing. Aku menuju ruang guru untuk menemui Ustadz Hasan karena hari ini adalah jadwal mata pelajaran dari Ustadz Hasan.
"Assalamualaikum," Salamku saat aku berada di depan ruang guru.
__ADS_1
"Waalaikumussalam," Jawab seluruh dewan guru serentak.
"Mbak Ana silahkan masuk, minta tolong ini tugasnya hari ini segera di selesaikan dan di kumpulkan di meja saya." Perintah Ustadz Hasan sembari memberikan kertas yang berisi tugas hari ini.
"Baik Ustadz, terima kasih." Aku menerima kertas itu dan segera menuju ke kelas.
"Mbak Ana!" Panggil Ustadz Hasan kembali.
"Iya Ustadz, ada apa?" tanyaku dan mendekat ke Ustadz Hasan.
"Setelah kamu memberikan tugas ini kepada teman-teman, kamu temui saya di ruang Bimbingan Konseling."
"Iya Ustadz."
Aku segera menuju ke ruang kelas, akan tetapi aku bingung mengapa Ustadz Hasan meminta aku untuk menemui beliau di ruang Bimbingan Konseling. Apa karena aku ada masalah atau karena aku telat tadi pagi.
"Ahhh... Entahlah" Aku bergumam sendiri memikirkan hal apa yang akan di bicarakan oleh Ustadz Hasan. Mengingat Ustadz Hasan sangat jarang seserius ini kepada siswanya.
....
"Assalamualaikum Ustadz," Aku mengetuk pintu ruang Bimbingan Konseling yang dimana Ustadz Hasan dan Ibu Nia sudah menunggu kedatanganku.
"Waalaikumussalam," Jawab Ustadz Hasan.
"Waalaikumussalam, silahkan duduk dulu mbak saya masih menyelesaikan tugas dulu sebentar." Jawab Ibu Nia yang sedang berada di depan komputer dan sepertinya sedang sibuk dengan tugas yang harus segera di selesaikan.
"Baik bu,"
Tangan dan kaki ku gemetar dengan badan yang panas dingin karena ini kali pertama aku dihadapkan oleh dua guru sekaligus. Apalagi yang satu adalah wali kelas dan yang satu guru bimbingan konseling.
Rasa gugup dan khawatir sama sekali tidak berkurang selama aku diam di ruang bimbingan konseling. Meskipun aku sudah terbiasa berhadapan dengan Ustadz Hasan, namun beda cerita jika berhadapan dengan beliau di ruang bimbingan konseling.
__ADS_1
"Sudah disampaikan tugasnya?" Tanya Ustadz Hasan memecah lamunan dan juga pikiran burukku.
"Sudah Ustadz."
"Mbak kamu tadi kenapa terlambat?"
Deg, deg, deg. Detak jantung tiba-tiba tidak beraturan saat mendengar pertanyaan ini. Seketika keringat tubuhku mengalir padahal kipas dalam ruangan sudah cukup sebagai pendingin.
"I.. iya Ustadz tadi ada kendala di rumah jadi saya berangkat ke sekolah kesiangan." Jawabku dengan terbata-bata.
"Owch lain kali kalau terlambat itu ijin ke saya, bisa memalui WhatsApp saja tidak apa-apa. Tadi mendapatkan poin berapa?" Lanjut Ustadz Hasan.
"Iya Ustadz, dapat tiga poin."
Aku tenang mendengar pernyataan dari Ustadz Hasan. Begitulah aturan di sekolah ini telat saja mendapatkan poin tiga. Jika sudah mencapai lima puluh poin maka mendapatkan surat peringatan satu. Jika sudah tujuh puluh poin surat peringatan kedua. Dan jika mendapatkan sembilan puluh poin maka peringatan ketiga. Apalagi jika sudah mendapatkan poin seratus maka tidak ada kata maaf lagi selain dikeluarkan dari sekolah atau poin ditutup sebelum pembagian raport, maka semester selanjutnya poin akan kembali dari nol.
Aku masih duduk diam tak berkutik di ruang bimbingan konseling karena belum di persilahkan untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran.
"Sebentar lagi ya mbak," Kata Ibu Nia.
"Iya bu," Disaat itu aku berpikir akan ada hal lain yang dibicaran oleh Ibu Nia. Pasti sangat penting hingga aku di panggil ke ruang bimbingan konseling.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Ibu Nia mematikan komputernya dan beranjak menuju ke tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela.
"Bagaimana Ustadz bisa dimulai?" Tanya Ibu Nia kepada Ustadz Hasan.
"Iya, silahkan Ibu bisa dimulai."
Aku semakin gemetar dan panas dingin mendengar Ibu Nia dan Ustadz Hasan akan memulai percakapan.
"Sudah jangan gemetar, santai saja." Ibu Nia memegang tanganku dan berusaha untuk menenangkan aku.
__ADS_1
"I.. iya bu." Aku berusaha untuk tenang dan tersenyum kepada Ibu Nia dan Ustadz Hasan.
...