Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu

Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu
Selamat Tinggal Jakarta


__ADS_3

Tanpa terasa waktu liburan di kota Jakarta akan berakhir minggu ini. Aku dan Fani memutuskan segera kembali ke kampung halaman untuk segera menuntaskan study semester terakhir di masa sekolah menengah atas ini. Namun, sebagai bukti bahwa kita sudah pernah ke kota Jakarta, kami memutuskan untuk keliling Jakarta mulai dari Monumen Nasional, pantai ancol dan tempat wisata lainnya. Tak lupa pula untuk menikmati kesenian khas betawi dan kuliner khas dari kota Jakarta. 


....


Tibalah kami diakhir cerita kota Jakarta hari ini, sebelum aku dan Fani kembali ke kampung halaman, kami bersiap untuk pulang dan membawa oleh-oleh khas Jakarta. Aku berada di kamar kos dan mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa pulang, mulai dari pakaian, buku, laptop, makanan, dan lain sebagainya.


Setelah selesai aku menuju kamar kos Fani. Dengan keadaan pintu kos yang tidak dikunci, aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Memang sedikit kurang sopan, tapi itulah kebiasaan buruk dari Fani yang tanpa sengaja aku menirukannya. 


Hal yang tidak terduga terjadi, Fani tertidur lelap dan belum membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. 


"Fani!" dengan nada suara keras aku membangunkan Fani. Kesal memang karena bus dari Jakarta tujuan Lumajang sangat jarang, memang banyak akan tetapi harus pindah bus antara tiga sampai empat kali. Karena aku malas jika harus naik turun bus maka aku sering perjalanan jauh menggunakan bus patas yang langsung ke kota tujuan. 


Fani langsung terbangun dan mengambil tas ranselnya padahal barang yang akan dia bawa belum dimasukkan. Fani masih setengah sadar akan hal itu, ia buru-buru keluar kamar kos bahkan tanpa memakai alas kaki. 


Di satu sisi aku kesal pada Fani tapi di sisi lain aku ingin tertawa melihat tingkah konyol Fani. Hal yang seru untuk menjadi bahan tertawa hari ini. 


"Kamu tidak mau membawa barangmu pulang dan juga tidak mau memakai sepatu!" 


Seketika aku tertawa terbahak-bahak hingga aku merasa sangat puas.


Fani melongo memandang ke arah kakinya, dengan ekspresi kesal dia membuka tas ransel yang ia bawa dan benar belum ada barang satu pun yang sudah dimasukkan. Fani segera masuk kembali ke kamar kosnya dan bersiap untuk pulang. 

__ADS_1


Karena Fani baru bangun tidur aku memintanya untuk mandi atau sekedar cuci muka terlebih dahulu agar ia terlihat lebih segar.


Sedangkan aku membantu Fani mempersiapkan barang yang akan dibawa dan memasukkannya ke dalam ransel milik Fani. Tak lupa membereskan kamar tidur karena tempat ini akan segera di tempati penghuni kos yang baru. 


"Sudah selesai semua Ana?" Tanya Fani karena melihat semua sudah siap.


"Sudah, ayo berangkat ke terminal."


Aku dan Fani segera menuju terminal, dalam perjalanan kami memutuskan untuk maik becak sebagai kesan terakhir sebelum perpisahan kami. Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan kami saat naik becak, saat di terminal bahkan saat perjalanan di bus dengan tujuan Lumajang. 


Dikarenakan perjalanan yang cukup jauh kami memutuskan istirahat di dalam bus.


.....


Fani yang sudah dijemput oleh orang tuanya segera berpamitan padaku dan segera menuju orang tua yang sudah menunggu kedatangannya. 


Aku menuju rumah menggunakan becak karena jarak terminal ke rumah cukup dekat hanya tiga puluh lima menit perjalanan menggunakan becak motor. Akhirnya aku menghirup udara segar pedesaan yang jauh dari ramainya kota Jakarta. 


Setibanya aku di rumah aku menemui orang tuaku. 


"Assalamualaikum, ayah, ibu, aku pulang," sapa ku sembari menciun tangan dan memeluk kedua orang tuaku. 

__ADS_1


"Waalaikumussalam," jawab ibu sembari tersenyum. 


"Waalaikumussalam, bagaimana perjalanannya nak?" Jawab ayah. 


"Alhamdulillah lancar ayah, aku mau istirahat dulu."


"Iya nak, ibu siapkan makanan dulu ya,"


Aku menuju ke kamar tidur, tidak lupa cuci tangan, cuci muka dan bersih-bersih badan karena baru saja aku menempuh perjalan jauh. Aku memang masih menyembunyikan tujuanku ke Kota Jakarta yang sebenarnya, yang orang tua ku ketahui aku hanya sekedar liburan ke kota Jakarta bukan untuk mencari tempat pendidikan selanjutnya. Beruntung ayah dan ibu mengijinkan aku untuk berangkat ke Jakarta. 


Mungkin di hati kedua orang tua ku khawatir akan keselamatanku selama di perjalanan atau pun ketika aku berada di Jakarta. Kota yang cukup jauh dari jangkauan orang tua ku. Dengan komunikasi setiap hari sudah cukup untuk sedikit menenangkan rasa khawatir itu meskipun hanya lewat vidio call atau telepon. Yang pasti setiap hari harus melihat wajahku dan mendengar suara ku. Aku yang berada di kota orang pun sama cukup dengan melihat wajah kedua orang tuaku, itu lah yang menjadi kunci semangat dan kunci kesuksesan di masa depan kelak. 


Tidak ada dukungan yang paling kuat selain dukungan dari kedua orang tua. Semua perkataan orang tua adalah doa untukku. Itu lah yang aku percaya dari dulu hingga saat ini, karena ayah dan ibu selalu berjuang demi masa depanku dan selalu berdoa yang terbaik. 


Nasihat yang sering aku dengar dari kedua orang tua ku adalah "Jangan lelah belajar karena tidak ada kata berhenti untuk belajar."


Sejak kecil aku diperingatkan untuk terus belajar. Pendidikan merupakan modal terbaik yang bisa diberikan orang tua. Harapannya adalah dengan ilmu sang anak mampu menyelesaikan problema hidup yang rumit. Karena itu orang tua tidak akan pernah lelah untuk mengingatkan belajar.


Memang nasihat ini bisa bermakna sangat dalam. Bahwa belajar ternyata bukan hanya di sekolah. Setelah kelulusan kita masih perlu banyak belajar lagi karena pendidikan formal saja tidaklah cukup. Aku sangat bersyukur orang tuaku memberikan modal pendidikan yang baik. Karena dengan niat belajar yang tinggi akan membuatmu mampu meraih impian.


Bahkan pendidikan awal seorang anak dimulai oleh kedua orang tua sejak berada dalam kandungan, saat lahir bahkn hingga dewasa. Tanpa di sadari sejak belajar bicara, belajar berjalan, belajar menulis, belajar mengaji dimulai dari ibu yang mengajarinya. Hingga tidak salah jika ada pepatah mengatakan guru pertama kehidupan adalah seorang ibu. 

__ADS_1


....


Sejak saat kepulangan aku dan Fani, aku mulai merasa kesepian tapi dengan tekad kuliah di Jakarta aku tetap memutuskan semangat sekolah demi masa depanku. Sejak terakhir bertemu dengan Fani di terminal kami hilang kontak dan tidak pernah bertemu lagi. Ternyata persahabatan itu tidak semudah membolak-balikkan telapak tangan, saat sudah jarang bertemu besar kemungkinan untuk tetap berkomunikasi. Tapi aku selalu berpikir positif padanya mungkin dia sedang sibuk untuk mempersiapkan study selanjutnya sama seperti yang aku alami saat ini. Sedikit termenung mengingat kenangan waktu satu bulan ini yang selalu bersama dengan Fani rasa rindu itu sudah cukup terobati. 


__ADS_2