Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu

Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu
Rezeki tidak akan tertukar


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Hari ini di ruang multimedia siswa kelas XII melaksanakan uji coba USBN untuk yang pertama kalinya. Seluruh siswa sangat antusias untuk mengikuti uji coba USBN. 


Setelah waktu ujian pertama selesai, siswa istirahat terlebih dahulu untuk mempersiapkan uji coba USBN selanjutnya. 


"Ana," Panggil Ibu Nia.


"Iya bu," 


Ibu Nia tiba-tiba memanggil namaku dari depan ruang bimbingan konseling. Aku segera menuju ke arah Ibu Nia. 


"Ada apa bu?" 


"Ini kan lagi istirahat, bisa bicara sebentar?" Tanya Ibu Nia. 


"Iya bu,"


"Ayo masuk ke ruang bimbingan konseling."


Aku mengikuti Ibu Nia masuk ke ruang bimbingan konseling. Setelah dipersilahkan duduk di ruang konsultasi, aku baru sadar rasanya berada di ruang ini beberapa waktu lalu berbeda dengan hari ini. Hari ini cukup tenang dan tanpa rasa bimbang yang bergejolak di hati. 


Ibu Nia mengambil beberapa kertas dan meminta saya untuk segera mengisi lembar tersebut. Tidak salah lagi itu adalah lembar formulir pendaftaran beasiswa untuk bisa masuk ke Universitas yang aku inginkan melalui jalur undangan. 


"Kamu isi data ini, dan segera di lengkapi. Memangnya kamu ingin kuliah dimana?" Kata Ibu Nia sambil memberikan lembar formulir pendaftaran tersebut. 


"Iya bu, terima kasih. Apa boleh ini saya bawa pulang karena data-datanya saya tidak membawa dan tidak hafal."


"Iya tidak apa-apa. Kamu belum menjawab pertanyaan saya, kamu mau kuliah dimana?" Ibu Nia melemparkan pertanyaan yang sama untuk yang ke dua kalinya. 

__ADS_1


"Saya ingin kuliah di Universitas Islam Indonesia." Jawabku dengan jelas.


"Bagus, kamu harus semangat untuk menggapai keinginanmu itu. Saya yakin kamu pasti bisa, karena kamu adalah salah satu siswa teladan di sekolah ini." Ibu Nia memberikan motivasi yang cukup menarik kali ini. 


Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan mendengar perkataan Ibu Nia. Maklum saja aku tidak terlalu dekat dengan Ibu Nia. apalagi Ibu Nia tidak pernah mengajar di kelas dan merupakan salah satu guru yang kiler kepada siswa terutama yng sering terlambat dan tidak mematuhi peraturan sekolah. 


Setelah berbicara mengenai beasiswa secara panjang lebar. Aku keluar meninggalkan ruang bimbingan konseling dan menuju ke kantin. Mungkin dengan waktu lima menit aku bisa membeli makanan atau minuman untuk mengisi stamina tubuh sebelum melanjutkan uji coba USBN jam ke dua. 


....


Dikantin sekolah aku menghampiri Aida sahabatku sejak awal masuk sekolah menengah atas. Aida yang sedang asik makan sendirian tanpa satu orang pun yang menemani segera menghabiskan makanannya saat ia melihat kedatanganku. 


"Aida,,, yah kenapa makanannya sudah habis!" Rengekku kepada Aida.


"Salah sendiri kenapa aku ditinggal dan tiba-tiba menghilang waktu keluar dari ruang multimedia." Aida merajuk karena aku meninggalkannya. 


"Wahh serius ini. Aku mau dong!"


"Iya nanti aku sampaikan. Sudahlah aku lapar."


Aku meninggalkan tempat duduk dan memesan semangkuk mie ayam serta es yang cukup legendaris dan cukup diminati siswa, apalagi kalau bukan es teajus gula batu. 


Setelah memesan aku segera kembali ke tempat duduk.


"Ana,ini rencana kamu mau daftar kuliah dimana?"


Lagi-lagi aku mendengar pertanyaan itu, tapi kali ini pertanyaan itu dilontarkan oleh sahabat baikku. 

__ADS_1


"Hemm dimana ya?" Aku sengaja berpikir panjang hanya ingin membuat Aida jengkel. 


"Dimana? Kamu pasti sudah punya tujuan." Aida memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya. 


"Aku sebenarnya ingin kuliah di Universitas Indonesia, tapi aku tidak yakin karena kondisi perekonomian keluargaku saat ini. Apalagi ayah sering sakit, aku tidak mungkin meninggalkan kedua orang tuaku terlalu lama." Aku menjelaskan sedikit perasaan yang saat ini membuatku bimbang. 


"Jika kamu ingin melanjutkan ke Universitas Indonesia tidak masalah, kamu harus semangat. Masalah orang tuamu pasti bangga punya anak sekuat dan setekad kamu." Aida menghiburku dengan sedikit memuji. 


"Jangan dipuji, aku memang ingin kuliah ke luar kota tapi banyak hal yang harus aku pertimbangkan terlebih dahulu. Mungkin satu atau dua semester aku akan bertahan untuk seterusnya kau belum yakin. Orang tuaku saja sudah lanjut usia, sering jatuh sakit, keadaan ekonomi bisa dibilang kurang. Apalagi langkah yang harus aku ambil selain ingin membantu perekonomian dan melanjutkan pendidikan." Aku melanjutkan perkataanku. 


"Kamu tahu tidak pepatah yang mengatakan kalau rezeki itu tidak akan pernah tertukar!" Jawab Aida.


"Iya aku tahu, kenapa?" Tanyaku.


"Rezeki tidak akan tertukar karena Allah SWT telah memberikan rezeki pada setiap hamba-Nya sesuai dengan porsinya masing-masing jadi tidak perlu khawatir. Artinya Setiap orang memiliki rezeki yang berbeda-beda dan sudah seharusnya kita selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Tidak perlu iri dengan rezeki yang dimiliki orang lain karena rezeki tidak akan tertukar jadi apa yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik. Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa orang lain bisa mendapatkan rezeki yang melimpah, sedangkan orang lain mengalami kesulitan. Semua yang sudah digariskan oleh Allah SWT pasti memiliki hikmah yang bisa diambil jadi tidak perlu khawatir." Aida menjelaskan apa arti dari pepatah tersebut. 


Aku mulai berpikir bahwa benar juga apa yang dikatan oleh Ida semuanya sudah ada Allah yang mengatur skenario kehidupan manusia di dunia ini. Kadar rezeki setiap orang berbeda-beda dan Allah SWT sudah menetapkannya setelah ruh ditiupkan. Meski rezeki sudah ditetapkan, tapi Allah juga melihat bagaimana kerja keras atau usaha yang kita lakukan sehingga bisa memperlancar jalannya mendapatkan rezeki.


Terkadang, hasil baik tidak selalu kita dapatkan secara langsung meskipun sudah bekerja keras. Berbeda dengan beberapa orang yang mungkin bisa memperoleh rezeki melimpah lebih mudah dan cepat. Tapi percayalah bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar.


Rezeki akan datang kepada mereka yang memang berhak menerimanya. Bagaimana pun usaha yang dilakukan jika memang rezeki tersebut ditakdirkan untuk seseorang, maka orang itu akan mendapatkan rezekinya dari mana saja dan kapan saja.


Jadi tidak perlu khawatir dan iri dengan rezeki yang dimiliki orang lain karena sesungguhnya Allah SWT yang paling tahu, apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya.


Yang harus diingat adalah satu hal dibalik rezeki yang Allah SWT berikan yaitu salah satu cara untuk mensyukurinya dan mengharapkan rezeki berkah dan Allah SWT adalah dengan memperbanyak sedekah. Rezeki yang kita miliki tidak sepenuhnya milik kita, melainkan milik orang lain yang berkah, seperti yatim piatu, fakir miskin, dan lain sebagainya.


Sudah seharusnya kita saling berbagi dengan cara menyisihkan sebagian harta untuk orang yang membutuhkan. Sedekah tidak harus mengacu pada jumlah nominal saja, melainkan seberapa seseorang ikhlas dan istiqomah dalam melakukan sedekah.

__ADS_1


__ADS_2