
Di siang hari tepat waktu istirahat sholat dhuhur tiba. Aku keluar dari ruang multimedia yang digunakan sebagai ruang ujian. Dikarenakan pagi tadi ayah sudah tidak bisa ditinggalkan aku segera ke tempat parkir sebelum adzan dhuhur. Aku pulang terlebih dahulu dari pada siswa lainnya. Lebih tepatnya aku kabur dari sekolah.
Beruntung gerbang sekolah terbuka karena masjid sekolah juga digunkan jamaah umum yang berasal dari masyarakat di sekitar sekolah. Tanpa satpam yang menjaga di gerbang aku mengambil motor dan keluar dari sekolah. Kantor guru yang bersebelahan dengan tempat parkir juga terpantau sepi karena sebagian guru belum keluar dari kelas dan sebagian sedang bersiap sholat dhuhur berjamaah.
Selama perjalanan aku mengemudi motor dengan kecepatan delapan puluh kilometer perjam. Biasanya aku selau berangkat dan pulang sekolah dengan kecepatan enam puluh kilometer perjam. Karena aku ingin segera sampai di rumah aku meningkatkan kecepatan motor lebih dari biasanya.
Beberapa menit berlalu, aku tiba dirumah. Ayah dan ibu berada di kamar, dan aku segera menemui beliau.
"Assalamualaikum ayah, ibu," Salamku sembari mencium tangan kedua orang tuaku.
"Waalaikumussalam, kenapa sudah pulang, memangnya sudah selesai ujiannya?" Tanya ibu.
"Sudah bu," Rasa salah yang aku lakukan menghantui perasaanku. Hari ini aku pulang terlebih dahulu sebelum waktunya sedangkan yang aku katakan pada orang tuaku seakan-akan memang sudah waktunya pulang sekolah.
"Ya sudah kamu ganti pakaian dan makan dulu, nanti ibu titip ayah karena ibu mau keluar sebentar." Jawab ibu.
"Iya ibu," Aku bergegas ke kamar dan berganti pakaian serta makan siang terlebih dahulu.
Makan siang kali ini cukup dengan sayur bayam saja, aku tahu mungkin bu tidak sempat untuk memasak lauk pauk yang lain karena menjaga ayah seharian. Sebenarnya aku tidak tega melihat ayah terbaring lemah tak berdaya karena sakit dan ibu yang harus banting tulang sendirian demi biaya makan kita sehari-hari.
Tapi mau bagaimana lagi ini memang keadaannya sekarang. Ayah yang sudah sakit parah dan beberapa kali berobat ke dokter hingga terapi tradisional dilakukan tetap saja tidak ada hasil. Bahkan keadaan ayah yang semakin memburuk dari waktu kewaktu rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa lebih lama di dunia ini.
Tapi semua itu tergantung takdir Allah SWT yang menentukan akan hidup dan mati manusia. Semoga saja rasa sakit yang ayah alami adalah penggugur dosa bagi keluarga ini.
Kali ini sudah tidak adalagi biaya untuk berobat. Jangankan untuk berobat untuk makan saja kami seadannya. Maafkan aku ayah ibu, aku belum bisa membanggakan kalian.
__ADS_1
"Ibu, kalau ibu mau keluar silahkan, aku yang akan menjaga ayah disini." Kataku.
"Iya nak, titip ayah sebentar nanti sore ibu pulang." Jawab ibu.
"Ayah, ibu tinggal dulu. Ayah jaga diri baik-baik, kalau butuh apa-apa minta sama putri kita." Ibu berpamitan pada ayah.
"Iya ibu." Jawab ayah.
"Ibu jangan khawatir aku pasti menjaga ayah dengan baik." Aku menyela pembicaraan ayah dan ibu.
"Anak yang baik, terima kasih ya nak. Ibu berangkat dulu. Assalamualaikum." Jawab ibu.
"Waalaikumussalam."
"Ayah mau apa?" Tanyaku pada ayah.
"Ayah tidak mau apa-apa cukup kamu disini saja temani ayah."
Memang tidak seperti biasanya ayah yang tidak ingin dekat denganku karena takut jika sakitnya menular justru kini ingin berada dekat denganku terus menerus.
"Iya ayah, ayah istirahat dulu." Aku memperbaiki selimut ayah dan meminta ayah untuk beristirahat kembali.
"Iya nak."
...
__ADS_1
Di waktu yang sama di sekolah sholat dhuhur baru saja selesai dilaksanakan. Ibu Nia maju ke depan dan mengambil microphone yang berada di mimbar masjid. Jika seperti ini pastinya akan ada pengumuman yang penting.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Salam ibu Nia di depan semua siswa.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab siswa dan jamaah lainnya dengan kompak.
"Pengumuman untuk siswa kelas dua belas yang ingin melanjutkan ke pendidikan selanjutnya atau melanjutkan kuliah dipersilahkan konsultasi ke ruang bimbingan konseling agar pihak sekolah dapat membantu kelancaran dalam mendaftar ke perguruan tinggi yang diinginkan. Untuk yang terkendala dalam biaya juga bisa konsultasi karena banyak peluang beasiswa yang bisa di dapatkan dan sekolah akan mendukung penuh bagi seluruh siswa. Yang akan konsultasi bisa dimulai hari ini hingga seterunya pada jam sekolah asalkan tidak mengganggu jam pelajaran atau jam ujian."
"Kalau tidak mau kuliah bu?" Celetuk salah satu siswa laki-laki.
"Huuuuuuuuu" Sorak siswa lainnya menggema di masjid.
"Sudah cukup jangan gaduh ini masih di masjid. Untuk yang tidak mau melanjutkan kuliah dan mau bekerja atau nikah terserah kalian mau konsultasi apa tidak yang pasti sekolah sudah memberikan fasilitas terbaik untuk kalian. Pengumuman terakhir dari sekolah untuk kelas dua belas besok setelah pulang sekolah jangan pulang terlebih dahulu karena ada sosialisasi dari perguruan tinggi, bagi siswa yang ingin kuliah atau tidak diwajibkan hadir tanpa terkecuali. mungkin hanya itu yang dapat kami sampaikan kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Lanjut ibu Nia.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Seluruh siswa keluar dari masjid sebagian bersiap pulang dan sebagian ke kantin serta kelas karena jam masih waktunya untuk istirahat.
Sebagian siswa kelas dua belas juga terlihat ramai menuju ke ruang bimbingan konseling untuk mendapatkan arahan dari ibu Nia selaku guru bimbingan konseling maupun arahan dari kepala sekolah yang juga mendampingi persiapan siswa menuju ke pendidikan selanjutnya. Tidak sedikit siswa yang usil dan hanya ikut-ikutan saja demi mendapatkan perhatian dari sekolah. Beruntung pihak sekolah tidak membanding-bandingkan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, antara siswa yang mampu dan siswa yang kurang mampu, antara siswa yang good looking atau siswa yang biasa saja. Intinya semua siswa itu sama saja dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama.
Begitu banyak minat siswa untuk bisa melanjutkan pendidikan, namun banyak kendala juga yang harus dihadapi karena latar belakang siswa itu berbeda. Yang pasti impian mereka rata-rata adalah sama ingin menggapai cita-cita dan sukses hingga dapat mengangkat derajat keluarga dan membanggakan kedua orang tua yang sudah berjuang demi anaknya.
Tidak sedikit pula siswa yang ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluarga bahkan banyak yang berfikir bahwa dengan menikah setelah lulus sekolah adalah jalan yang terbaik. Begitulah cara berfikir antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda yang pasti semua tergantung takdir dari usaha yang sudah dilakukan selama ini.
Jalan hidup seseorang memang berbeda, tapi itu adalah jalan yang terbaik untuk seseorang itu sendiri maupun untuk orang lain. Karena semua kesuksesan pasti butuh proses.
__ADS_1