Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu

Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu
Sepulang sekolah


__ADS_3

Kring.. Kring


Bel tanda istirahat persiapan sholat dhuhur berbunyi. Seluruh siswa mengambil air wudlu dan menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat sunnah sebelum sholat dhuhur dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.


Masih tersisa waktu lima belas menit adzan dhuhur dikumandangkan. Sebagian siswa memilih ke kantin terlebih dahulu karena tempat wadlu masih antri atau bergantian dengan siswa yang lain.


Aku dan Aida memilih langsung mengambil air wudlu dan menuju masjid. Sesampainya kami di masjid waktu sudah menunjukkan saatnya adzan dhuhur berkumandang.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Hayya 'alalfalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


Suara adzan yang begitu merdu sebagai panggilan Allah SWT berkumandang. Siswa bergegas menuju masjid. Setelah adzan berkumandang siswa melaksanakan sholat sunnah sebelum sholat dhuhur dilaksanakan.


Setelah lima menit berjalan. Syaif ketua kelas dua belas mipa maju kedepan dan naik ke atas podium atau mimbar masjid.


Setiap dhuhur kultum atau kuliah tujuh menit disampaikan oleh siswa secara bergantian.

__ADS_1


Dari sekian banyak penyampaian Syaif ada beberapa poin yang disampaikan mengenai kunci sukses dalam islam yaitu ikhtiar, berdoa, dan tawakkal.


Ikhtiar dapat kita pahami sebagai bentuk usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuan. Seseorang disebut berikhtiar ketika mengusahakan sesuatu dengan sekuat tenaga hingga batas maksimal. Ikhtiar yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada hasil yang diinginkan. Allah SWT berfirman:  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39).


Segala hal yang dialami kita di dunia ini ternasuk kesuksesan terjadi karena kehendak Allah semata. Jadi, kesukesan itu tidaklah disebabkan oleh kecerdasan dan keahlian kita, melainkan terjadi atas kehendak Allah. Oleh sebab itu, setiap Muslim dianjurkan untuk berdoa kepada Allah untuk memohon segenap hajat yang diinginkannya.


Allah SWT berfirman: “Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku perkenankan bagimu” (QS. Ghofir : 60).


Tawakal dapat dipahami sebagai bentuk kesungguhan hati seorang hamba dalam bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kemashlahatan serta mencegah kemudhorotan, menyangkut urusan dunia maupun akhirat.


Allah berfirman : “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberi dia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, aka Dia itu cukup baginya.” (QS. At-Talaq : 2-3).


Letak takawal dalam meraih kesuksesan ialah dikala ikhtiar dan doa telah mencapai batas maksimal. Allah memerintahkan umat-Nya untuk bertawakal setelag melakukan ikhtiar sebagai bentuk manifestasi keimanan terhadap-Nya.


Dalam hal ini, tawakal dapat juga dipahami dengan bentuk keyakinan dan kesabaran terhadap ketentuan Allah dan meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan apa yang kita usahakan.


Kurang lebih begitu singkatnya materi kuliah tujuh menit yang disampaikan Syaif dan ditutup dengan salam.


Syaif turun dari mimbar dan mengumandangkan iqomah. Seluruh jamaah berdiri dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Setelah salam dan doa bersama tidak lupa pula melaksanakan sholat sunnah setelah melaksanakan sholat dhuhur.


Setelah selesai siswa kelas sepuluh dan sebelas melaksanakan istirahat hingga pukul 12.30. Kemudian masuk kembali dan melanjutkan pelajaran hingga sholat ashar. Sedangkan kelas dua belas diperbolehkan pulang karena Ujian Nasional Berbasis Komputer sudah selesai dilaksanakan.


"Iya ada apa?" Jawabku.


"Kenapa kamu tadi terlambat datang ke sekolah?" Tanya Aida.


"Iya, aku masih ada kepentingan. Sudah dulu ya, aku mau pulang."


"Kok buru-buru?" Kata Aida berusaha menghentikan aku.


Aku mulai menjauh dan menghilang dari pandangan Aida. Aku bergegas pulang karena aku sangat khawatir dengan keadaan ayah.


Biasanya jarak rumah ke sekolah atau sekolah ke rumah ditempuh dengan perjlanan dua puluh lima menit. Namun kali ini hanya ditempuh dalam lima belas menit perjalanan.


"Assalamualaikum!" Salamku setibanya aku dirumah.


"Waalaikumussalam." Jawab Ibu.

__ADS_1


"Ayah kenapa bu?" Tanyaku sembari mendekat ke arah ayah yang sudah lemas berada di ranjang.


"Ayah barusan jatuh nak. Tapi keadaannya masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja, fisiknya sudah lemah." Jelas Ibu.


Aku meneteskan air mata secara perlahan membasahi pipi.


"Ayah..." Aku memeluk ayah dengan cucuran air mata yang mengalir deras.


"Kamu sabar ya nak, doakan ayah sayang. Kamu harus kuat." Kata Ibu sembari membelai kepalaku ntuk menenangkan pikiranku.


Aku melihat ke arah ibu dan menyeka air mataku. Aku harus kuat di depan ibu, jika bukan aku siapa lagi yang akan menjadi penyemangat ibu. Aku memeluk ibu untuk menenangkan ibu kembali.


"Sudah, kamu jangan menangis ya nak. Cepat ganti pakaian kamu, ibu mau ke ladang sebentar kamu jaga ayah dulu." Perintah Ibu.


"Iya bu."


Aku menuju kamar dan berganti pakaian sehari-hari saat berada di rumah. Kemudian aku menyempatkan waktu untuk makan siang terlebih dahulu, perut yang sudah keroncongan sudah tidak dapat di tahan lagi.


"Ibu, jika ibu mau berangkat ke ladang silahkan. Ayah biar aku yang jaga." Ucapku.


"Iya nak, ibu titip ayah dulu, jaga ayah, jangan sampai ayah jatuh lagi." Pesan Ibu.


Aku terdiam mendengar hal itu.


"Siap bu komandan"


"Kamu ini masih sempat buat bercanda, apa kamu tidak takut jika nanti tiba-tiba kamu menangis."


Ibu memarahi aku.


Aku hanya bisa menunduk terdiam patuh pada perkataan kedua orang tuaku.


Ayah memang sudah sering jatuh sakit seperti ini. Kali ini ayah sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur dan hanya bisa bicara saja. Kata ibu otot-otot dan tulang ayah sudah lemah dan mulai kehilangan fungsinya secara penuh.


Apalagi didukung dengan usia yang sudah tua. Rasanya sangat sulit untuk disembuhakan secara total.


Mau seperti apa pun keadaannya aku harus bergantian menjaga ayah dengan ibu karena tidak ada keluarga lain yang bisa diandalkan. Ayah memang baik kepada semua orang terutama orang-orang yang sudah dibesarkan dan dianggap sebagai anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Tapi saat mereka sukses, entahlah mereka kemana. Maklum saja mereka bukan anak kandung ayah.


Saat pagi aku berangkat sekolah maka ibu yang menjaga ayah hingga aku pulang dari sekolah. Setelah itu aku berganti tugas dengan ibu, ibu pergi ke ladang aku menjaga ayah di rumah. Saat malam juga sama aku bergantian dengan ibu untuk istirahat. Biasanya ibu akan tidur lebih dulu dan aku masih mengerjakan tugas sekolah atau belajar, setelah itu aku membangunkan ibu dan aku yang istirahat. Begitu kegiatanku setiap hari saat ayah sakit dan tidak bisa ditinggalkan. Aku dan ibu harus membagi waktu agar selalu ada yang menjaga ayah di rumah. Jika bukan aku dan ibu siapa lagi yang akan menjaga ayah.


__ADS_2