Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu

Kesuksesanku Untuk Ayah Ibu
Kehidupan


__ADS_3

Hari demi hari telah aku lewati, jangan pernah bertanya sedang apa aku kemarin, atau sedang apa aku hari ini karena yang aku lakukan adalah sama belajar belajar dan belajar. Apalagi yang bisa aku lakukan selain berangkat ke sekolah di pagi hari dan pulang di sore hari. Rutinitas yang cukup membosankan sejak usia dini hingga masa remaja. 


Satu tahun berada di kelompok bermain, dua tahun di taman kanak-kanak dan dua belas tahun berada di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Waktu yang cukup lama untuk mempelajari arti kehidupan. Namun, kehidupan yang sesungguhnya bukan saat berada di sekolah karena kehidupan yang sesungguhnya adalah saat kita berada di lingkungan masyarakat. 


Sebaik apa pun yang kita lakukan akan terlihat buruk di depan orang yang memandang buruk, dan seburuk apa pun yang kita lakukan akan terlihat baik di depan orang yang memandang kita baik. Yabg paling penting selama yang kita lakukan baik dan tidak merugikan orang lain laksanakan saja sepenuh hati karena orang lain hanya tahu hasilnya dan tidak tahu prosesnya. 


Aku bersyukur masih memiliki kesempatan yang sangat baik hari ini, meskipun orang-orang di luar sana banyak yang merendahkan dan menyepelekan diriku. 


"Sudah cukup, jika terus memikirkan apa kata orang lain kapan kita akan bahagia." Gumanku memecahkan lamunanku. 


Aku berada di pojok kelas sedang asik melihat keluar jendela dengan pemandangan alam sekitar dengan nuansa hijau sawah-sawah petani. Matahari yang cukup cerah menambah keindahan alam ciptaan sang maha kuasa.


"Pengumuman! Panggilan kepada Ana kelas dua belas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam harap segera menuju ke ruang bimbingan konseling. Terima kasih."


Bunyi pengeras suara dari rung guru memanggil namuku. Aku menuju ke ruang bimbingan konseling seperti arahan dari pengumuman yang disampaikan melalui pengeras suara. 


Tok tok tok


"Assalamualaikum" Salamku setelah mengetuk pintu ruang bimbingan konseling. 


"Waalaikumussalam Ana, silahkan masuk." Kata Ibu Nia. 


Aku memasuki ruangan dan menunggu perintah selanjutnya dari Ibu Nia. 


"Kamu kan mau melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia. Ini ada formulir pendaftaran kamu segera isi!" Perintah Ibu Nia sembari memberikan lembar formulir. 


"Mohon maaf Ibu apa boleh saya mengisi di ruangan ini saja, tapi bagaimana dengan formulir Aida?" Tanyaku. 


"Ohh iya kamu panggilkan Aida mengisi sama-sama disini."


"Baik bu," Jawabku dan meninggalkan ruangan bimbingan konseling. 

__ADS_1


...


Dikelas Aida rupanya sedang berbicara dengan teman-teman lainnya. 


"Aida," Aku memanggil Aida dan Aida segera menghampiriku. 


"Iya ada apa Ana?" Jawab Aida. 


"Kamu diminta Ibu Nia ke ruang bimbingan konseling sekarang jangan lupa membawa bolpoin." Jelasku. 


"Iya sebentar." Aida berbalik badan dan mengambil bolpoin.


"Ayo, sama kamu juga kan Ana?" Lagi-lagi Aida bertanya. 


"Iya sama aku juga kok."


Kami kembali menuju ke ruang bimbinga konseling. 


Di ruang bimbingan konseling. 


"Assalamualaikum Ibu Nia!" Aida menggoda Ibu Nia. 


"Waalaikumussalam. Aida ini formulir kamu segera diisi ya!" Perintah Ibu Nia kepada Aida. 


"Siap bu," Sikap tegas Aida sembari mengangkat tangan kanan dan hormat kepada Ibu Nia.


"Tegak grak." Aku menyela pembicaraan Aida dan Ibu Nia. 


Seketika ruang bimbingan konseling menjadi ruangan yang penuh canda tawa dengan kehadiran aku dan Aida. Ruangan yang cukup dianggap menakutkan justru kami menganggap ruangan yang paling asik sebagai basecamp utama sekolah. 


"Sudah diisi dulu formulirnya kalau mau bercanda nanti saja." Lanjut Ibu Nia. 

__ADS_1


"Siap Ibu."


Beberapa menit kemudian setelah aku dan Aida mengisi formulir pendaftaran. Dengan jiwa ingin tahu aku mengungkapkan keluh kesahku kepada Ibu Nia. 


"Ibu, memang benar kami ada kesempatan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jalur beasiswa?"


"Kan sudah saya jelaskan waktu itu. Beasiswa itu banyak caranya tinggal mau lewat jalur mana yang cukup mudah untuk ditempuh. Semakin besar resikonya justru akan semakin banyak peluang dan semakin banyak yang mendaftar. Masalah beasiswa itu banyak akan tetapi kita tidak tahu jalan mana yang terbaik yang pasti kita sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik. Kalau suatu saat beasiswa kalian di tolak jangan berkecil hati mungkin saja Allah SWT punya rencana yang jauh lebih baik. Namun, jika beasiswa kalian diterima itu karena kehendak Allah SWT dan bukan karena sekolah yang membantu kalian tapi karena usaha dan jerih payah kalian sendiri." Kata Ibu Nia. 


Kami hanya bisa mengangguk dan mendengarkan semua yang disampaikan Ibu Nia. Ibu Nia yang semula duduk di depan komputer berdiri dan mendekat duduk di depan aku dan Aida. 


"Begini, beasiswa itu adalah bantuan secara tunai atau non tunai kepada siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jika kalian merasa memiliki kendala di perekonomian artinya kalian mempunyai banyak peluang untuk menerima beasiswa." Lanjut Ibu Nia. 


"Lantas bagaimana dengan saya yang memiliki otak pas-pasan dan tidak dapat dikategorikan pintar?" Celah Aida. 


"Nah ini, yang mempunyai pemikiran seperti harus dibuang jauh-jauh dan jangan sampai mempengaruhi teman-teman yang lain. Seorang siswa atau mahasiswa yang menerima beasiswa itu tidak harus pintar, tidak harus cerdas, tidak harus mendapatkan nilai paling tinggi. Tapi siswa yang mempunya sifat baik, attitude yang baik dan juga bisa memberikan contoh yang baik untuk orang lain. Coba kalian pikir buat apa pendidikan tinggi jika attitude kurang baik. Akan jauh lebih baik orang yang hanya berpendidikan biasa saja namun memiliki attitude yang baik, bisa menghargai orang lain, bisa menghormati orang lain, itu yang jauh lebih baik." Tegas jawaban dari Ibu Nia. 


"Iya bu, karena kehidupan kita dimasa depan itu adalah saat kita bermasyakarat. Bagaimana kita akan dipandang baik jika attitude atau tingkah laku kita kurang baik. Itu yang harus dipertimbangkan baik-baik." Jawabku menambahkan penjelasan Ibu Nia. 


"Itu kamu paham." Ibu Nia tersenyum. 


"Ya sudah kalian bisa kembali ke kelas, ini saya rekap dan masukkan data dulu. Semangat untuk kalian berdua saya yakin kalian bisa karena kalian merupakan siswa terbaik di sekolah ini." Kata Ibu Nia. 


"Amiin mohon doanya bu, kami permisi kembali ke kelas terlebih dahulu. Assalamualaikum."


Aku dan Aida kembali ke kelas untuk melanjutkan jam pelajaran selanjutnya, berhubung jam istirahat belum selesai kami memutuskan untuk ke kantin tetlebih dahulu. 


Attitude sendiri adalah sikap dan perilaku yang  ditunjukan sehari-hari. Cara berbicara, bertindak, memperlakukan orang lain, semua itu adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan. Percaya tidak percaya, attitude kita dapat memengaruhi kesuksesan kita ke depannya. 


Pada dasarnya, kesuksesan dapat diraih dengan mengasah tiga hal yaitu: skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan),dan attitude (sikap).  Skill dan knowledge merupakan komponen yang dapat kita kembangkan dengan banyak membaca, banyak belajar, dan praktik. Tetapi, attitude adalah komponen yang paling penting dalam membentuk karakter kita. Tentu saja, attitude yang baik dapat dipelajari dan dilatih.


Persaingan dalam dunia kerja dan masyarakat yang semakin ketat dari tahun ke tahun membuat setiap orang harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam menghadapi lingkungan masyarakat sekitar. Kriteria sumber daya manusia saat ini semakin beragam dan dinamis. Setiap masyarakat tidak hanya dituntut untuk memiliki knowledge dan skill yang mumpuni, tetapi juga harus memiliki attitude yang baik.

__ADS_1


__ADS_2