
Jangan lupa LIKE 👍 and COMMENT 😇.
Harun POV :
Pagi ini aku mengawali hari seperti biasanya, tidak senang dan tidak sedih. Aku menuruni anak tangga lalu berpamitan pergi kepada Ayah dan Bunda yang sedang menikmati sarapan pagi nya.
"Ga sarapan dulu nak" Tanya bunda (yang bernama Santi).
"Nanti aja bun di sekolah", lalu aku menancap gas menuju ke sekolah, tampak sepi dan aku langsung menuju ke arah kantin. Ternyata di sana sudah banyak juga orang dan juga ada Kevin doang. Lalu aku memutuskan untuk menghampiri keberadaan Kevin.
"Hai" Sapa ku.
"Eh elo, tumbenan ke kantin pagi-pagi gini" Tanya nya ke aku.
"Gue lapar, tadi di rumah malas makan".
"Gih pesan, benar lagi mau bel masuk".
Saat aku sedang asyik-asyiknya menikmati bakso Pak Udin yang enak nya subhanallah, datanglah rombongan cowok yang seperti nya dari kelas IPS. Dia membicarakan anak baru yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan oleh semua siswa-siswi di School Permata.
Lalu tibalah Kevin berbisik-bisik di telingaku yang hanya aku hiraukan ucapan nya.
"Orang-orang kebanyakan pada naksir si cewek baru itu deh" Bisik nya ke telinga aku.
"Lo udah pernah belum liat anak baru itu".
Aku hanya menjawab nya dengan gelengan.
"Seriusan belum" Tanya nya kaget.
"Why?" Ucap ku.
"Sama dong, gue juga belum pernah liat anak baru itu", aku hanya bisa bersabar, kiarin ada masalah apaan dia bisa kaget segala. Ternyata dia juga belum pernah liat cewek baru itu. Untung teman, kalau engga enak nya di apakan kawan seperti Kevin ini.
Bel masuk berbunyi nyaring di setiap sudut ruangan, aku sudah menyelesaikan makan dan langsung masuk ke kelas.
Author POV :
"Hufftt, banyak kali tugas nya" Keluh Lala teman kelas nya Tiara.
"Iyaa, ini sama aja bohong. Lebih baik bapak itu masuk aja dari pada harus kayak gini" Tambah Stevan sang ketua kelas.
Mereka semua mengeluh karena tugas yang diberikan Pak Yanto melebihi kemampuan anak murid nya. Seharusnya kalau freeclass, tugas nya harus free lah. Ini malah di suruh ngerjakan soal dari nomor 1-30 lengkap dengan cara-cara nya. Pak Yanto adalah guru bidang studi Fisika.
Tiara mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan santai dan tenang, sekarang sudah masuk ke nomor 15, dan teman-teman nya yang lain masih nomor 7-an, itu pun untuk nomor sebelum nya masih banyak yang kosong.
Berbeda dengan Alin, dia terlihat kebingungan dan sering menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Karena merasa jengah dengan sikap aneh Alin, akhirnya Tiara memutuskan untuk bertanya saja.
"Lo kenapa".
"Emm, gue bingung nih dengan rumus nomor 10 ini" Memang bakat Alin dalam ilmu Fisika ataupun Kimia kurang, dia hanya tertarik pada Biologi, dan juga olahraga. Kalau masalah bidang studi yang lain, insyaallah dia mampu dan bisa.
"Oh ini", lalu Tiara menjelaskan cara demi cara, rumus demi rumus ke Alin. Lama kelamaan Alin faham dan mengerti semuanya.
Sudah hampir 2 jam mereka menyelesaikan tugas Fisika itu dengan grasak-grusuk. Ada yang melihat kanan kiri, cari google, membuatnya sambil bergosip, ada yang tenang, santai dan ada juga yang pasrah dengan keadaan.
Waktu tinggal 30 menit lagi, Tiara tinggal 5 soal lagi dan Alin tinggal 7 soal lagi. Sedangkan teman-teman nya yang lain masih banyak tertinggal. Ada yang tinggal 8 soal lagi, 9, 14, dan bahkan ada yang tinggal 15 soal lagi. Sungguh masih banyak itu, ya gimana lagi, mungkin mereka ga faham dengan materi tersebut, tapi kenapa yang lain faham, itu tergantung kita niat atau engga memahami materi itu.
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi....
Pak Yanto menyuruh sekretaris untuk mengantar tugas tersebut ke meja nya. Jadi Tiara lah yang harus mengantarkan semua tugas-tugas temannya.
"Lo bawa bekal Lin" Tanya Tiara.
"Engga, mama gue lupa masak".
"Owh, temanin gue dulu ke meja nya Pak Yanto ya".
"Okeh", setelah Tiara mengantarkan tugas tersebut, dia mengusulkan untuk langsung ke kantin bersama Alin.
Di kantin terlihat begitu ramai, saat Alin mencari-cari keberadaan meja yang kosong, akhirnya Alin mendapatkan nya dan langsung menarik tangan Tiara untuk menuju ke sana.
"Lo duduk di sini dulu ya, biar gue yang pesan" Ucap Alin.
"Lo mau pesan apa".
"Gue mau nasi goreng sama lemon tea aja" Jawab Tiara.
"Oke".
"Makasih Lin" Teriak Tiara yang masih sempat terdengar oleh Alin.
Tiara melihat bahwa makanan di meja yang dia tempati masih ada dan itu belum tersentuh sedikit pun. Apa orang yang sebelumnya duduk di sini, tidak memakan makanannya ya, begitulah fikir Tiara dalam hati.
Setelah lama menunggu, datanglah segerombolan cowok yang langsung mengelilingi meja nya Tiara.
"Maaf, tadi kami yang duluan duduk di sini" Ucap seorang cowok dingin dan sedikit cuek.
Karena merasa ada yang berbicara dengannya, Tiara langsung beralih dari yang sibuk mengotak-atik handphone langsung melihat ke arah asal suara tadi.
"Eh neng Tiara, boleh kok duduk di sini".
"Ya, boleh kok. Silahkan neng" Ucap Kevin.
"Cantik banget ya dia" Bisik Kevin ke telinga nya Dika.
"Kan udah kami bilang kemaren" Jawab Dika dengan berbisik juga.
"Terus kita mau makan di mana" Ucap cowok dingin tadi yang belum dikenal oleh Tiara.
"Demi neng Tiara, babang Ahmad rela duduk di lantai" Ucap Ahmad yang langsung mendapat goyoran kepala dari Dika.
"Macam iya betul lo. Sekarang duduk lah di lantai, gue mau liat seberapa jantan nya lo" Ucap Kevin.
"Hehee, jangan di bawa serius napa" Ucap Ahmad dengan cengir kudanya.
Setelah menyaksikan perdebatan kecil tersebut, datanglah Alin dengan membawa dua pesanan di tangannya, satu nasi goreng dengan lemon tea dan satu lagi nya mie ayam dengan cap cin.
Setelah duduk, Alin langsung menyantap makanannya. Semenjak datang tadi, Alin tidak terlalu memperhatikan keberadaan cowok berempat itu.
"Eh Lin, lebih baik kita pindah aja deh. Soalnya tempat ini udah ada yang nempatin dari tadi".
"Gapapa tuh do, lagian orang nya kan belum datang", masih sibuk menyantap mie ayam nya.
Lalu Tiara menyenggol pelan siku Alin yang membuat si empu nya melihat ke depan dan menemukan sosok empat cowok yang mematung melihat Alin makan.
__ADS_1
"Hehee, maaf. Ya udah deh kami pindah" Ucap Alin dengan malunya.
"Ga usah, kalian duduk di sini aja. Kursi nya kan masih banyak, jadi cukup kok" Ucap Dika.
"Makasih ya Dik" Ucap Tiara.
"Oke, santai aja".
Setelah selesai makan, mereka beristirahat sejenak di sana. Tiara sejak tadi melihat cowok dingin tadi dengan tatapan penasaran dan bingung, dia bingung kenapa cowok itu ga pernah berbicara banyak dan Tiara hampir sempat mengira bahwa dia bisu.
"Oh iya, nama lo siapa" Tanya Tiara ke Kevin.
"Masa ga tau sama babang ganteng sih".
"Eh ingat si Winda lagi jaga hati tuh di School Cemerlang, lo juga harus jaga diri Kev" Ucap Dika yang mendapatkan sorot mata tajam dari Kevin.
"Jaga hati maksud nya" Ucap Dika lagi, lalu dia tertawa kecil sambil meledek Kevin.
"Nama nya Kevin dan status nya udah punya pacar, jangan dekat-dekat dengan dia Ra, dia playboy" Ucap Ahmad.
"Btw, kalau di samping lo siapa" Tanya Tiara kepada Ahmad.
"Gue pun juga ga tau" Ucap Ahmad.
"Kawan laknat lo ya", kini dia bersuara. Tidak terlalu cuek, hanya kadang-kadang terlihat cuek saja.
"Perkenalkan nama gue Harun Putra Pratama, bisa lo panggil Harun".
"Owh, salam kenal gue Tiara".
"Nah, kami semua pada sudah punya pacar Ra, cuma dia aja noh yang jomblo" Ucap Dika.
"Gebet lah Run, mana tau cocok" Goda Ahmad.
"Gue setuju, mana tau kalau cocok bisa jadian" Ucap Alin.
"Maaf, gue ga tertarik untuk pacaran dulu, masih mau fokus belajar" Ucap Tiara dan langsung meninggalkan mereka semua. Alin pun langsung menyusul kepergian Tiara barusan.
Hai Gaiss, gimana dengan pertemuan mereka, asyik ga?? Comment di bawah yaa.
Kalian boleh saranin gimana mau nya konflik di cerita ini.
Makasih Readersqu😍.
HAPPY READING GAIS 💙
Salam kenal.
__ADS_1
@**fifafirah.27**