
Jangan lupa LIKE π and COMMENT π.
Hari ini hari Sabtu dan sekolah Tiara dan juga Echa libur, karena sekolah mereka menerapkan sistem Fullday.
Tiara rebahan sejak pagi sampai jam menunjukkan pukul 10.00. Dengan malas, Tiara harus menghampiri mama nya yang dari tadi memanggil.
"Ada apa Ma".
"Tolong bantuin mama masak dan kamu mandi dulu gih".
"Emangnya ada apa Ma, kan hari ini libur, Ara malas mandi".
"Anak gadis kok malas mandi, suruh juga adik kamu mandi sana. Setelah itu suruh dia beres-beres rumah".
"Ada tamu ya ma?".
"Iya, keluarga papa mau datang kesini, nanti ada tante Lena juga dengan anak-anak nya ke sini. Kamu harus jaga sikap ya".
"Oke ma, Ara mandi dulu ya".
"Nanti bantu mama masak".
"Iya ma" lalu Tiara bergegas mandi. Setelah mandi, Tiara langsung membantu mamanya memasak di dapur.
"Echa, ruang tamu bersihkan".
"Iya, ma" Ucap Echa, dia juga dibantu Bik Ina membersihkan rumah.
Pukul 13.00.....
"Akhirnya" Lelah Tiara.
"Ya udah, mama ganti baju dulu ya. Kamu sambut kakek sama nenek dulu di depan, kalau udah datang panggil mama ya".
Setelah menunggu hampir 15 menit, belum juga ada tanda-tanda keluarga papanya datang. Tiara merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil memainkan handphone nya. Saat mendengar ada sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya, dengan segera Tiara membukakan pintu.
"Assalamualaikum" Ucap Tante Tiara yang bernama Lena.
"Waalaikumussalam Tante" Ucap Tiara lalu dia menyalami satu persatu tangan keluarga papa nya itu.
"Silahkan masuk kek, nek, Tan, om, dan adik kaka yang paling comell".
"Echa, kakek sama nenek udah datang ni" Teriak Tiara dan datanglah Echa yang langsung menyalim semuanya.
"Ara panggil mama dulu ya Tan", Tiara menyusul mamanya di kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Ma...."
"Iya bentar nak".
Ceklek, "Mereka udah datang ma, sekarang lagi di ruang tamu".
"Ya udah yok kita turun", lalu Tiara dan mamanya turun menemui keluarga Lukman.
"Assalamualaikum Pa,Ma" Ucap Melda.
"Waalaikumussalam nak, bagaimana kabar mu toh ndok" Ucap Nek Karmila.
"Baik toh ma, mama gimana" Tanya balik Melda.
"Alhamdulillah baik nak, oh iyo nak Lukman mana toh".
"Masih kerja ma, bentar lagi pulang".
"Udah besar yo nak gadis mu" Ucap Kek Irsad.
"Iya pa, Alhamdulillah cantik-cantik semua".
"Ini siapa namanya" Tanya mama ke anak tante Lena.
"Saya Yuda ma".
"Udah kelas berapa sekarang".
"Kelas VIII SMP ma".
"Oh, berarti sama ya dengan Echa, dia juga kelas VIII SMP. Kalau yang kecil ini siapa namanya".
"Keyla ma".
"Kelas?".
__ADS_1
"Kelas 1 SD ma".
"Ganteng dan cantik ya anak Lena sama Ilham ni".
"Siapa dulu, bapak sama mamak nya aja ganteng dan cantik" Ucap Tiara, dan semua orang tertawa lepas sambil menunggu malam tiba.
Meja makan.....
"Hahaa, bapak masih ingat waktu itu kamu masih kecil. Kamu kayak tercyduk gitu", lalu Kek Irsad tertawa terbahak-bahak.
"Kamu kayak ketahuan maling aja, padahal bapak kamu ga nyalahin kamu" Tambah Nek Karmila.
Dan sedari tadi Tiara hanya terkekeh kecil, kurang paham apa yang diceritakan mereka selama di meja makan ini. Tiara hanya ikut tertawa walau dia tidak tau apa yang mau ditertawakan.
Lalu menit kemudian, semuanya menjadi sunyi, hening, dan tidak ada suara. Hanya ada suara dentuman sendok dan piring. Semuanya asik dengan kesibukan nya masing-masing.
Tiba-tiba papa angkat suara, "Bagaimana dengan sekolah kamu Ra" Ucap Lukman tegas.
"Baik kok pa".
"Kamu Cha".
"Tetap baik kok pa".
"Setelah lulus SMA nanti, papa mau sekolahin kamu ke luar negeri" Ucap Lukman santai.
"Tapi Ara ga mau sekolah di luar pa".
"Ga ada bantahan, papa mau kamu itu sukses dan bisa lulus kuliah dengan gelar yang bagus".
"Itu kemauan papa, bukan kemauan Ara" Ucap Ara tegas.
"Udah pandai melawan kamu".
"Ara ga melawan pa, Ara hanya membela yang benar".
"Itu kan demi kebaikan kamu".
"Bukan demi kebaikan Ara, tapi demi nama baik keluarga ini kan pa. Ara pengen sekolah di tempat yang Ara inginkan, bukan yang papa inginkan", lalu Ara pergi dari sana sedikit berlari menuju ke kamarnya.
Semuanya hanya bisa terdiam mendengar perdebatan antara papa dan anak itu. Di satu sisi papa Tiara ada benar nya juga, tapi di satu sisi Tiara juga benar. Entah papa nya yang terlalu mengekang atau Tiara nya yang pelawan. Boleh Comment di bawah ya readers:)
Tiara menangis sejadi-jadinya di balkon kamarnya. Dia ingin meluapkan keluh kesah nya di balkon itu sambil melihat bintang-bintang yang bersinar terang. Mungkin dengan melihat bintang itu bersinar terang, bisa membuat hati nya kembali terang dan mampu mengurangi kesedihan di hatinya.
Tok... Tok... Tok...
"Buka dong sayang".
Tiara bergegas mencuci mukanya lalu segera tidur tanpa memperdulikan mama nya yang dari tadi mengetuk pintu kamarnya.
Keesokan harinya, hari Minggu. Tiara masih asik berbaring di kasur nya. Dia sangat mager hari ini dan mungkin dikarenakan hari ini hari Minggu, maka jiwa kemageran itu semakin bertambah.
Tiara merasa sangat haus pagi ini, berhubung dia masih marah sama papa nya, jadi niat dia diurungkan nya untuk keluar kamar dan memilih untuk menyuruh Echa mengantarkan air dan beberapa cemilan ke kamarnya.
Line.
Echa.Putri
Cha, tolong antarkan air dingin sama beberapa cemilan ke kamar kaka.
Beberapa menit kemudian, Echa membalas.
Kaka kan bisa ambil sendiri, manja banget si.
Kan kamu tau sendiri kalau kaka masih marahan sama papa.
Lagian papa ga ada di rumah ka, papa tadi ada mitting mendadak, jadi hari ini dia ga free.
Pliss, antarin yang kaka pesan tadi. Kaka haus sama lapar ni.
Ya udah deh, otw.
"Buat siapa Cha" Tanya Tante Lena.
"Buat kak Ara tan".
"Ya udah, biar Tante yang kasih", lalu Lena mengantar makanan dan minuman itu ke kamarnya Tiara.
Tok... Tok... Tok...
"Itu pasti Echa" Gumam Tiara.
"Iya bentar" Teriak Tiara, lalu dia membuka knop pintu kamarnya.
__ADS_1
"Tante boleh masuk".
"Silahkan tan" Ucap Tiara ramah.
Tiara mengajak Tante Lena duduk di daerah balkon kamar nya.
Aisyah sangat asik memakan cemilan nya dengan lahap, seperti orang yang belum makan beberapa hari saja.
"Lapar kali ya".
"Iya Tan" Cengir Tiara.
"Kenapa ga turun aja, makan gih".
"Ga deh tan, lagi malas ke bawah".
"Kamu ga boleh kayak gitu sama papa kamu, bagaimanapun itu papa kamu. Dia pengen anak nya sukses, berbagai cara dia lakukan agar kamu itu punya masa depan yang bagus".
"Tapi ga harus ngekang anak nya juga lah".
"Kamu mau dengar cerita Tante ga".
"Cerita apa tan".
"Jadi, sebenarnya kami kakak beradik bertiga. Ada satu lagi adik papa kamu, dia di bawah Tante. Dia cewek yang cantik namanya Sarah, tapi salah nya dia itu nakal, suka melawan, suka pulang malam, pokoknya sering berbuat onar lah".
"Sejak kecil papa kamu selalu merawat, menyayangi, dan memanjakan Sarah. Pokoknya perlakuan sayang nya melebihi sayang sama Tante, papa kamu lebih sayang dengan Sarah. Begitupun dengan bapak sama mamak, dia juga selalu manjain Sarah, hingga dia jadi terbebas dan masuk ke pergaulan yang salah".
"Di malam itu, Sarah kecelakaan. Kami membiarkan saja dia keluar di malam itu, malahan bapak memberikan dia banyak duit, alasannya untuk ke acara party teman nya. Tapi dia malah ke club malam. Dia mabuk-mabukan dan saat mau pulang, dia terserempet oleh mobil dan keadaan nya kritis. Dia pulang berjalan kaki dengan keadaan mabuk, jadi tidak disengaja ada mobil menghantam tubuh nya dengan kuat".
"Seminggu setelah kejadian, nyawa Sarah tidak dapat tertolong. Dia meninggalkan kami semua. Saat itu papa kamu menangis sejadi-jadinya dan selalu menyalahkan diri nya sendiri".
"Dia merasa orang paling bersalah, dia menyesal karena pernah memanjakan anak di bawah umur seperti Sarah itu, dulu dia sebesar kamu gini lah. Masih SMA kelas 2. Mungkin karena kejadian itu lah papa kamu mengekang kamu dari kecil, bersikap keras sama kamu, tidak memperbolehkan kamu ke acara-acara teman kamu, dan kalau ada apa-apa harus selalu hubungi dia, iya kan?".
"Iya benar, kok Tante tau".
"Dia udah pernah cerita ke Tante, dan Tante juga udah nasehatin ke papa kamu. Jangan terlalu ngekang anak kayak gitu, nanti dia malah benci dengan kita".
"Tapi jawaban papa kamu selalu kayak gini, santai aja lah, dia ga akan pernah benci sama saya, lagian itu demi kebaikan dia dan masa depan dia, agar tidak terjerumus ke jalan yang salah".
Tiara mulai menitikkan air matanya dan langsung memeluk tante nya itu.
"Kok kamu nangis".
"Ara ga tau juga tan".
"Lucu kamu, udah deh jangan benci sama papa kamu lagi ya, papa kamu ga salah. Hanya saja masa lalu yang membuat dia harus berbuat kayak gini".
"Ara ga pernah benci dengan papa, hanya saja sedikit kecewa dengan perlakuan dan sikap papa. Ara ga pernah loh peluk papa, sedikit pun belum pernah. Jangan kan itu, canda gurau dengan papa aja ga pernah".
"Mungkin sibuk kerja kali".
"Engga Tante, Ara tau kok papa ga mau manjain anak-anak nya, takut masa lalu itu terulang lagi. Tapi kami perlu kasih sayang seorang papa, hiks... hiks..." Lalu Lena makin mengeratkan pelukannya ke tubuh mungil Tiara.
"Udah dong, jangan nangis. Nanti Tante ikutan nangis".
"Iya Tante, Ara ga bakal nangis lagi".
"Tos dulu", lalu mereka berdua bertos ria.
Masa lalu itu harus nya di buang jauh-jauh, jangan sampai karena masa lalu itu, orang yang tidak bersalah merasakan sakitnya yang masa lalu rasakan.
Udah dapat belum feel nya, semoga saja Tiara dapat memilih keputusan nya sendiri.
Gimana dengan part ini, silahkan di LIKE π dan jangan lupa ramaikan cerita ini dengan Comment kalian ya readers.
HAPPY READING GAIS π
Salam kenal.
@**fifafirah.27**
__ADS_1