Ketika Suami Ku Kembali Padaku

Ketika Suami Ku Kembali Padaku
Part 6 Diambang Perceraian


__ADS_3

" Kasdi, sudah setahun kamu menikah , kok Sakin belum hamil juga sih?" ucap Bu Kiki.


" Yang pasti mamah udah pengin banget punya cucu." ucap Bu Kiki sambil mempersiapkan makan pagi ini.


" Iya mah , namanya belum rezeki. " ucap Kasdi.


" Lagi pula Sakin baru berusia 15 taun." ucap Kasdi lagi.


" masa iya sih harus nunggu bertahun tahun lagi." ucap Bu Kiki.


" Maaf mah, Sakin juga berharap bisa kasih Mama cucu namun belum juga dikaruniai anak, padahal Sakin nggak nolak punya anak walaupun usianya masih 15 taun. Karena banyak juga yang udah punya anak juga. " ucap Sakin menyambung percakapan suami dan mertuanya.


" kalo gitu, mending kamu nggak usah ikut jualan sayuran lagi, toh sekarang di pasar udah banyak pelanggan, sejak kamu jualan keliling kan banyak yang tahu kualitas dagangan kita." ucap Bu Kiki.


" ya udah istirahat dirumah aja In beres beres rumah saja." ucap Kasdi.

__ADS_1


" iya baiklah mah." ucap Sakin menurut saja.


seusai makan , Kasdi pergi.


Sakin pun di kamarnya.


Lalu dia bertanya tanya dalam hatinya , kenapa sepertinya hubungan pernikahan ini bukan hal yang akan berlangsung lama. Ada rasa bahwa ia akan segera menjanda apabila dia tidak kunjung memiliki anak.


Dan dia sudah sering tidak enak hati tinggal bersama mertuanya dan suaminya dalam satu atap juga ada adik iparnya.


" mbakk, mbakk ngambil perhiasan aku ya?" tanya KIA adik ipar Sakin.


" nggak KIA." jawab Sakin.


" Alah bohong mbak, buktinya nggak ada di lemari KIA.

__ADS_1


" KIA kamu kenapa marah marah?" Tanya Kania, iparnya yang satu lagi.


" ini KA, mbak Sakin curi perhiasan aku." ucap KIA.


" ya udah nanti laporan sama mamah sama kang Kasdi aja." usul Kania.


Dalam hati Sakin pun tidak pernah menyangka sifat iparnya begitu. Dan mulai detik ini juga keinginan Sakin mengakhiri hubungan dengan kang Kasdi semakin kuat. Karena setelah 1 tahun menikah , mertuanya dan iparnya menampilkan sifat aslinya yang tidak bisa percaya pada Sakin. Menurut mereka masalah terjadi karena Sakin. Seperti dulu ketika di pasar pelanggan pada tidak mau beli, karena fitnah yang disebarkan saingan berdagang di pasar.


Air mata Sakin pun menetes tanpa ia sadari karena luka hati kini begitu terasa dan Sakin sudah merasa lelah, dengan berjalan kaki, akhirnya Sakin putuskan kembali ke rumah orang tua di seberang desa. 1 jam berlalu akhirnya sampai dan dia disambut baik oleh keluarga yang di rindukan. Saat itu juga air mata kembali jatuh. kedua orang tua pun menyuruh Sakin beristirahat dan menenangkan hati dulu. Barulah nanti bercerita.


Disisi lain Kasdi sudah pulang malam itu, dan tidak melihat keberadaan istrinya. Sepucuk surat dia baca juga membuat Kasdi terkejut. Karena kini sementara waktu istrinya tidak ada disisi Kasdi, bahkan istrinya berharap selamanya akan berpisah dengan Kasdi.


esok pagi itu Kasdi menjemut Sakin namun Sakin menolak ikut dan dia minta perceraian segera di urus. Lalu Kasdi dengan emosi meninggalkan Sakin dan menyetujuinya untuk bercerai setelah ucapan saudara dan orang tua yang mendukung perceraian itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2